“Bukan Kerana Kita Menang Pemilu” – Bah 6 (Ustaz Anis Matta)

anis matta 1Bahagian 6

Nah, yang kedua dari kapasiti leadership itu adalah kapasiti eksekusi. Kapasitas eksekusi itu ditentukan disini (orang dan wang).

Ada orang yang punya kapasiti dan ada sumber daya. Kita datang kepada Negara tapi kalau tidak ada orang untuk mengeksekusi ini. Tidak boleh.

Sekarang persoalannya adalah apakah orang kita cukup? Tidak bakal cukup. Apakah kita harus menunggu sampai cukup? Tidak. Kerana kapasiti yang ada dinegeri ini juga banyak, masalahnya mereka belum tersentuh sama harakah. Itu saja. Tetapi kalau kita punya idea-idea besar kita bisa mendayagunakan semua orang-orang itu. Jadi kapasiti ini menyangkut orang.

Sumber daya. Ini juga bukan sekedar wang. Sebenarnya media itu adalah sumber daya. Informasi adalah sumber daya. Wang adalah sumber daya. Tentara juga sumber daya. Jadi kita perlu sosial capital, kita juga perlu financial capital, kita juga perlu political capital.

Sekarang kalau kita jadi presiden, bayangkan kalau ada 35 menteri, di bawahnya masing-masing 10 dirjen (director jeneral), berapa jadinya? 350 dirjen. Dibawah dirjen itu biasanya ada berapa eselon duanya? Satu dirjen itu biasanya ada berapa direktur? Rata-rata 5 direktur, jadi 10 x 5 / atau 50 x 35. Berapa semua? 1500 lebih. Itu orang-orang inti yang antum perlukan.

Nah jadi kita harus mengakui terlebih dahulu ketidak sempurnaan kita itu. Tapi itu bukan penyakit. Inikan menyangkut masalah cara mengelola. Yang penting kita mengetahui dahulu dimana batasan kita dan dimana batasan orang lain.

Nah kalau ini sudah clear ikhwah sekalian. Pertanyaan besarnya: Bagaimana caranya kita merakit semua potensi-potensi itu sekaligus? Yang tidak boleh tergantikan pada orang, itu adalah ini (narasi), itu yang harus original. Adapun yang ini (kapasiti dan sumber daya) boleh kita mix dengan orang, kerana ada banyak orang yang punya ini (kapasiti) dan punya ini (sumber daya) tapi tidak jadi.

Jadi, ikhwah sekalian antum lihat. Wang itu menyangkut persoalan yang lebih teknis. Dalam hal-hal seperti ini kita tidak bicara masalah hal-hal yang bersifat idealisme dan pragmatism. Ini persoalannya adalah pemahaman tentang realiti. Kita akan menjadi sangat picik kalau kita menyederhanakan masalah ini dengan persoalan idealis atau pragmatis. Kerana tidak ada urusannya kesitu. Sama sekali tidak ada.

Antum belajar sirahpun, antum akan sampai pada kesimpulan ini kalau pemahaman kita benar. Kerana tugas kita adalah sinaatul hayah, inilah semua yang kita perlukan untuk sampai kesitu. Dan menurut saya inilah persoalan kronik di parti-parti Islam sejak masa Orde Baru yang tidak pernah mereka selesaikan. Mereka terjebak kepada persoalan yang sangat picik. Menjadi idealis. Akhirnya tidak boleh terjun ke politik secara bebas.

Kerana di politik orang dituntut untuk menjadi pragmatis. Pragmatisme itu adalah filsafat. Dan tidak banyak orang faham; filsafat yang berkembang di zaman modern ini. Pragmatisme itu adalah filsafat. Intinya adalah mengukur kebenaran suatu kebaikan, suatu idea dengan hasilnya. Kalau hasilnya benar ideanya secara otomatis jadi benar. Itu ideanya. Sebagian dari idea ini benar, tapi tidak seluruhnya benar. Jadi pragmatism itu bukanlah satu cara tentang penjelasan menghalalkan segala cara. Tidak. Dan menurut saya partai Islam kerana terlalu lama terjebak dalam masa-masa itu. Dalam fikiran-fikiran seperti itu. Akhirnya fikiran besar itu tidak terangkum dalam idea besarnya.

Ini pula yang menjelaskan, kalau kita membaca literatur parti-parti Islam, para pemikir parti-parti Islam di Indonesia. Menurut saya. Mereka tidak pernah keluar dari persoalan yang semoit seperti ini. Kenapa narasinya Soekarno lebih bertahan daripada narasi atau pemimpin-pemimpin Islam pada waktu itu. Tema yang difikirkan Soekarno pada saat itu jauh lebih besar dari tema yang kita fikirkan.

Saya tidak tahu apakah buku itu masih dicetak sampai sekarang atau tidak, tapi saya dulu membaca total bukunya Natsir hampir semuanya saya baca. Yang paling khusus itu adalah bukunya kapita selekta. Tapi kalau antum baca debatnya Soekarno dengan Abdul Qadir Hasan, antum akan melihat idea itu. Tapi idea yang lebih menarik adalah di bukunya “Bung Karno penyambung lidah rakyat”.

Antum baca lagi pledoynya waktu dia berumur 29 tahun, memang terasa perbedaannya. Jadi kalau kemudian dia mendapatkan penerimaan yang lebih luas. Itu masalah skala, ruang yang kita fikirkan. Dan PKS ini kalau yang kita fikirkan perkara yang kecil itu, orang lain akan merasa bahawa kita tidak berada dalam ruang pemikiran PKS. Jadi orang-orang dinegeri ini merasa bahawa mereka bukan objek yang difikirkan oleh PKS kerana kita tidak pernah punya sesuatu yang kita tawarkan. kita tidak pernah punya satu profosal untuk bangsa Indonesia.

Apa idea kita tentang masa lalu dan apa idea kita tentang the next Indonesia? Tidak jelas. Tidak pernah kita rumuskan. Dan kita tidak pernah membuat satu proses internal yang sangat intensif untuk merumuskan itu. Ada platform kita sebenarnya. Platform kita itu kan ada. Yang sekarang sudah akan dicetak. Tapi idea secara keseluruhan itu yang belum ada.

Nah menurut saya. Itu yang menyebabkan kalau kita ingin mengungguli parti-parti sekuler dimasa yang akan datang. Kita harus pertama kali mengungguli disini (narasi). Akhirnya parti-parti Islam itu cenderung yang kita pertahankan kemudian kembali kepada kampanye yang simplikasi. Membangun emosi keagamaan. Kita tidak membangun satu rasionalitas kehidupan. Kita tidak menawarkan sesuatu yang rasional yang kita kemudian yang ditawarkan oleh parti-parti Islam adalah sentiment keagamaan.

Makanya kalau antum lihat ikhwah sekalian di bukunya Dreasley tentang Islamisme di timur tengah dan transformasinya ke Indonesia, dia menukil satu tulisan yang ditulis oleh olive roey: “Tajribatul al-Islam siyasi”, penulis Perancis, sudah diterjemahkan oleh penerbit Mizan, (kegagalan Islam politik), jadi dia mengatakan; “Jadi demokrasi, perlu di globalisasi dan tidak perlu mengkhawatirkan munculnya fundamentalis-fundamentalis Islam, gerakan Islam fundamentalis di dalam sistem demokrasi. Kenapa? Ketika mereka berkuasa. Mereka akan turun sendiri. Kerana mereka tidak punya kapasiti untuk berkuasa”. Itu dia persoalannya.

Kalau antum pergi ke Teluk sekarang antum boleh memahami kenapa terjadi futur yang terjadi di teluk secara qoutry. Antum lihat di teluk sekarang itu ada perubahan demografi yang luar biasa dahsyatnya. 5 atau 10 tahun ke depan penduduk asli Emirat Arab itu akan tinggal 2,5 %. Inikan rekomposisi demografis yang dahsyat. Tidak ada lagi fitur-fitur Islam atau arab itu di Dubai. Seluruhnya fitur-fitur modern disana. tidak ada. Itu benar-benar global sistem. Sehingga ikhwah disana itu mulai futur. Hampir jama’i. Tidak sampai keluar dari ikhwan seluruhnya tapi hampir semua menjadi futur. Tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan. Penduduknya hanya 200-300 ribu sekarang hampir 400 ribu, dan undang-undang ke warga negaraannya dirubah. Siapa yang punya-kerana dihubungkan dengan investasi, sekarang Qatar mulai merubah undang-undang kewarganegaraannya, mereka memerlukan tambahan penduduk. Jadi kalau antum pergi ke Qatar sekarang antum antri (beratur) di bandaranya (airport), antum akan lihat, yang antri itu; satu orang cina, yang kedua orang Eropa timur, yang ketiga orang India.

Di Dubai sekarang ada lebih dari satu juta orang India, tapi di Dubai sudah ada China Town. Jadi perubahan demografi ini. Itu membingungkan orang semuanya. Kerana ada wang secara tiba-tiba yang meledak, datang dalam jumlah besar dan ini harus dikelola, harus di buat property, kalau disebarkan ke property, yang ngisi siapa? Kan mereka perlu warga Negara. Mereka perlu penduduk untuk mengisi itu. Kalau tidak wang ini mahu disimpan dimana? Disimpan diluar tidak aman disimpan di dalam (disini), Negara kecil.

Makanya Saya lihat ikhwah banyak yang futur, kehilangan idea bagaimana berhadapan dengan situasi baru ini. Bandingkanlah perubahan strategis ini dengan buku-buku yang ditulis oleh mufakir harakah disana. Para duat! Konsennya kemana mereka? Konsennya kemana para duat? Antum lihat buku-buku yang ditulis misalnya yang paling poluler misalnya da’i di Saudi? Aidh al-Qarni. Antum lihat idea-ideanya..!! Bandingkan perubahan sosial yang sekarang sedang terjadi. tidak macth. Semua idea-idea tentang la tahzan itukan ide tentang pertahanan sosial, bukan sesuatu yang expansif. Tentang bagaimana mendayagunakan perubahan-perubahan baru, situasi-situasi baru. Ini tidak ada. semua idea-idea itu adalah idea-idea defensive. makanya tidak akan kuat bertahan.

Orang tidak setuju dengan W*** *** *****. Dia membina rotanah. Pusing… semua pake satelit. Sekarang kalau antum lihat, sistem televisi disana itu bukan pakai transmeter, tapi pakai satelit langsung. kalau antum nginep di apartemen Saudi atau di Kuwait atau disemua Negara Teluk. Saya pernah nginap di Kuwait. Di dalam apartemen itu, kita boleh nyambung dengan 500 channel televisi, antum boleh bayangkan roda pemerintahan yang digerakkan. Sudah perubahan demografi seperti ini. Sistem pemerintahannya monarki pula. Bagaimana harakah boleh bergerak dalam situasi seperti itu? Sudah begitu ada Amerika di sekililingnya. Dan ada Palestina yang setiap mereka dengar tentang pembunuhan, pembunuhan dan pembunuhan. Bagaimana tidak stress semua orang itu. Makanya tumplek (limpah ruah) semuanya di Mekkah. Haji Umroh semuanya.

Saya beberapa kali ke Aljazirah, bertemu dengan wartawannya dan lain-lain. Semua dalam keadaan defresi. Jadi sesuatu terjadi disekitarnya dan dia tidak boleh mencernanya. Kita juga akan mengalami hal seperti itu. PKS ini, kalau kita tidak punya idea besar untuk mencerna, isti’ab, ihtiwa terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dan perubahan-perubahan yang ada. Kemudian sebuah profosal baru untk bangsa Indonesia, kita tidak pernah nevely leader.

Nah kerana itu, persoalan PKS sekarang sama persoalan dengan bangsa Indonesia. Ada sumber daya alamnya, tidak punya teknologi dan tidak punya modal. Apa yang dilakukan oleh bangsa seperti itu? Mendatangkan investor dan beli alat teknologi!! Jangan tunggu alat sampai Indonesia pintar-pintar mengelola minyak sendiri. Kita punya laut, tapi tidak boleh kita dayagunakan yang ambil semua isinya, semuanya orang Taiwan.

Jadi kerana itu ikhwah sekalian…
Ide tentang strategic partnership itu adalah idea tentang ketidak cukupan. Kita sebagai satu komponen ini tidak berdiri sendiri, tidak punya semua asset yang kita perlukan itu, dan kerana itu kita perlu share.

Dan dalam konstalasi global sekarang ini tidak bagus bagi harakah Islamiyah itu. tidak menguntungkan sama sekali bagi harakah Islamiyah itu, untuk muncul secara sangat digdaya (mendadak), naik berkuasa sendiri habis itu yang lain semua tunduk.

Tidak. Kita belum lihat model Turki sepanjang apa dia boleh bertahan?? Tetapi kita perlu melihat waktu-waktu ke depan, kerana itu menurut saya model Turki perlu bagus untuk kita pelajari dan tidak bagus pula untuk kita kagumi secara berlebihan, kita lihat bagaimana ini akan berlanjut dimasa yang akan datang. Dan situasi seperti itu kalau antum perhatikan di Indonesia, untuk negeri yang sangat plural seperti ini itu juga bahaya itu.

Tetapi yang penting bagi kita, kalau kita punya tiga-tiganya itu adalah bagaimana mengendalikan. Mengendalikan kan ertinya mempengaruhi dan mengatur, bukan memiliki semuanya, oleh kerana itu kita juga tidak membayangkan nanti pengusaha nanti semuanya pengusaha PKS, birokrat seluruh birokrat PKS, yang kita bayangkan itu bahawa semua pengusaha itu mempunyai kontribusi dalam arus besar pembangunan bangsa kita di bawah kepemimpinan PKS. Itulah idea tentang strategic partnership. Bagaimana mengumpulkan aset bersama menjadi satu power.

Kalau kata Iqbal dalam salah satu puisinya dia mengatakan : “Ya Allah ajarkanlah kepada kami kembali ajaran untuk saling mencintai supaya lidi-lidi ini boleh kami rakit jadi sapu !!” Persoalan kita kira-kira itu.

Nah itulah ide tentang strategic partnership. Bagaimana meperbesar aset dengan mengakumulasi aset orang digabung jadi satu. Konsep itu adalah konsep pendayagunaan. Ini bukanlah konsep suatu antitesa yang harus kita pertentangkan dengan konsep muamarah, konspirasi yang selalu kita pelajari dalam ghazwul fikri. Sebab dulu kita menganggap televisi sebagai ghazwul fikri tetapi sekarang menjadi shahib pemilik ghazwul fikri, yang setiap hari menyebarkan ghazwul fikri itu. Yang bangun gedung kita dia pula. Setiap hari kita membina doktrin ghazwul fikri dan yang kasih gedung kita dia.

Apapun posisi kita itu selalu ada konflik, jadi kita tidak membayangkan bahawa semua kekuatan dinegriini boleh kita rangkul semua. Yang diperlukan di negeri ini, kekuatan yang solid sekitar 60 % dari total power yang ada. Kerana kalau tidak ada, negeri ini terancam disintegrasi. Bahaya. Mesti ada yang seperti itu, sebab jika kurang dari itu maka tidak akan cukup untuk memimpin negeri yang kuat.

Jadi gabungan antara demokrasi dan kesejahteraan itu hanya mungkin terjadi kalau ada civil society yang kuat, ada pemerintahan yang efektif. Kalau sekarangkan, ada civil society tidak terlalu kuat tapi ada juga pemerintahan yang tidak efektif. Dan kerana itu ada pasar yang tidak dinamis, itu sebabnya setelah kita demokratis kita tidak jadi sejahtera, tidak kunjung sejahtera.

Kalau ini ikhwah sekalian kita fahami, sekarang dengan demikian kita boleh memahami kata kunci yang kita sebut sebagai strategic partnership, sebelum kita masuk pada partnership ini Saya mahu bertanya sedikit;  Selama ini apa hambatan orang untuk bergaul dengan PKS?

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Ustaz Anis Matta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s