“Bukan Kerana Kita Menang Pemilu” – Bah 5 (Ustaz Anis Matta)

anis matta 1Bahagian 5

Selesaikan persoalan internal di dunia Islam. Kita sudah bebas dari penjajahan. Kita sudah melaksanakan konsolidasi. Tugas kita yang terakhir adalah ustadziyatul alam.

Idenya lebih besar, kerana itu ruang kemungkinan ikhwan lebih besar. Kerana itu ruang realitinya juga lebih besar. Tidak ada organisasi yang bertahan selama ikhwan di dunia Islam. Dan antum lihat sejak periode itu..!! Kerana ideanya sangat besar, semua idea-idea kecil yang datang kemudian, mengisi idea-idea yang besar itu.

Berapa banyak buku yang ditulis tentang satu judul yang namanya tarbiyah. Berapa banyak buku yang ditulis tentang fiqh dakwah. Berapa banyak buku yang ditulis tentang idarat tandzim, idaratul jamaah, idarat dakwah. Berapa banyak buku yang ditulis tentang konsep ideology. Berapa banyak buku yang ditulis tentang fiqh daulah, sejak Abdul Qadir Al-Audah sampai Yusuf al-Qadhawi sekarang.

Idea besar ini, merangkum idea-idea kecil, sub-sub yang ada didalamnya. Kerana ruangnya besar maka ruang realitinya juga besar. Punya struktur di 70 negara. Dengan sumber daya yang sangat terbatas. Apa yang membuatnya jadi mungkin?? Idea…

Dia datang waktu umat Islam itu kosong. Makanya perpustakaan dunia Islam, yang mengisi, semua penulis ikhwan. Semua buku yang terbit di abad 20, di dunia Islam antum perhatikan, yang terkait dengan pemikiran keIslaman, pemikiran pergerakan, pemikiran tentang dunia Islam itu sebagian besarnya adalah pemikir ikhwan. Antum lihat perpustakaan. Itu idea. Dia punya idea dan dia menciptakan orang. Wang datang kemudian.

ikhwan-ikhwan sekalian…
Semua aktor ikhwan itu miskin semuanya. Tapi boleh membina liqoat alamiyah. Miskin tapi bolak balik luar negeri. Makanya saya tidak pernah percaya bahawa wang itu warisan. Bukan. Yang saya percaya wang itu adalah produk idea dan orang. Makin besar ideanya makin besar juga wangnya. Tapi kalau kita tidak punya ini (wang dan orang), tidak ada idea yang jadi realiti.

Jadi kalau kita jadi leading party ini:
1. Kita harus punya yang namanya narasi.
2. Kita harus punya yang namanya kapasiti.
3. Kita harus punya yang namanya sumber daya.

Apa ide yang kita tawarkan untuk itu?
Jadi sekarang kita tidak lagi berfikir tentang sekadar bagaimana membesarkan PKS tetapi bagaimana membesarkan bangsa. Setelah itu kita berfikir ke level lebih tinggi bagaimana bangsa Indonesia punya kontribusi ke dunia. Begitu kita punya idea, punya narasi yang kita tawarkan kepada public. Kita akan menjadi leader.

Makanya kapasiti pertama dari seorang leader itu adalah naratif intelijen. Kemampuan menguasai orang melalui kata. Itulah yang menjelaskan kenapa Soekarno masih bertahan sampai sekarang. Dan itu juga yang menjelaskan kenapa mukjizat Rasulullah saw itu adalah kata. Al-Quran. Antum sekarang bisa bayangkan waktu Rasulullah saw hidup perbandingan orang Islam itu 1:1000. 100 ribu orang hidup ditengah 100 juta orang di seluruh dunia.

Sekarang perbandingan satu umat Islam dengan non muslim 1:5. Dari mana cuba datanya ini? pemimpinnya sudah mati. Tapi terus tumbuh. Jadi kalau sewaktu-waktu Rasulullah mengatakan; “Bahkan ketika kalian punya dua emas sebesar dua gunung Uhud infak kalian tidak boleh melampaui pahala para sahabat”.

Ya jelas. Semua yang masuk Islam sesudah merekakan?, mereka dapat pahala. Sekarang ketika jumlah umat manusia hampir 5 milyar lebih hampir 6 milyar. Antum boleh bayangkan. Kata, Mukjizat. Ada yang masuk Islam melalui pengembangan. Ada yang kerana kesedaran sendiri, ketemu di jalan atau macam-macam.

Nah, itu kapasiti utamanya seorang leader; naratif intelijen. Sekarang ini PKS itu, bedanya periode yang lalu dan yang sekarang adalah periode yang lalu itu I can see, seksi aja dimata orang, kelihatannya itu. Ada anak-anak muda bersih dan peduli. Tapi begitu kita ingin menjadi leader, expectasi orang berubah. Kita tidak lagi dipersepsi sebagai partai mahasiswa. Kemarin kita dipersepsi sebagai anak manis. Kumpulan anak-anak manis negeri ini. Berkumpul jadi satu, dinamis, pinter-pinter, baik-baik.

Tapi untuk jadi leader? Enggak (boleh begitu lagi)..

Nah sekarang ketika ingin naik kesana persepsi kita harus dirubah..! persepsi tentang kompetensi. Makanya di tim media sekarang mereka merumuskan. Kata kunci itu, headline kita itu; “Bersih, Peduli, Terbuka, Kompeten”.

Inikan (bersih peduli) merupakan integritasnya, dan ini (kompeten) menyangkut masalah kapasiti, sedangkan ini (terbuka) adalah imagenya. Maksudnya kita diterima disemua pihak. Ini namanya (kompeten) what to say-nya bukan how to say-nya. Bagaimana cara mengatakannya itu lain lagi. Tapi ini empat point intinya ini.

Kapasitas pertama yang harus kita miliki adalah naratif intelijen. Makanya para pemimpin itu kalau mahu punya naratif intelijen; dia harus seorang penulis dia harus orang orator. Mutlak. Tidak boleh tidak. Jadi salah satu training penting buat antum disini adalah publik speaking dan menulis. Itu maharat aqliyyah.

Ada buku yang bagus antum baca dari “kumpulan pidato-pidato yang paling berpengaruh sepanjang abad ke 20”. Saya dulu pernah membuat riset kecil tapi tidak berlanjut, pidato-pidato yang paling berpeluang sepanjang sejarah Islam. Itu menarik sekali. Ada pidato politik. Pidato ilmiyah dan juga ada pidato perang. Kalau antum lihat Khalid bin Walid itu bukan sekadar jago bertarung, tapi juga orator.

Contohnya; Diperang Yarmuk, dia kan tadinya ada di Irak, jumlah pasukan yang sudah masuk di Yarmuk itu sekitar 27 ribu, berhadapan dengan 240 ribu pasukan Romawi ini berbulan-bulan lamanya pasukan saling berhadap-hadapan tapi tidak saling bertempur. Periodenya Abu Bakar (sebagai khalifah).

Khalid waktu itu ada di Irak, setelah Abu Bakar meninggal ini soal komandan lapangan, kenapa tidak bertempur. Artinya begini. Yang 240 ribu ini tidak berani menyerang yang 27 ribu ini. Alasannya, memang (pasukannya) kecil tapi pengalaman menangnya terlalu banyak. Yang ini (pasukan Islam), memang pengalaman menangnya banyak tapi belum pernah bertemu pasukan sebanyak ini.

Khalid datang dan pasukan Khalid dipanggil dan ditambah lagi pasukan sebanyak 9 ribu orang sehingga menjadi 36 ribu ini. Waktu Khalid datang wacananya sama seperti Abu Bakar. Cuma dalam sekologi militer. (Ada buku bagus yang bagus juga antum baca “sekologi of war”, sekologi perang). itu bahaya, tentara dibiarkan begini, kerana lama-lama itu ketakutan mulai merasuk kedalam. Mahu lari tidak boleh. Mahu maju juga tidak boleh. Harus ada keputusan. Begitu Khalid datang. Dia konsolidasi. Dan setelah konsolidasi satu bulan lamanya, diputuskan kita memimpin secara bergantian. Pemimpin pertamanya Khalid. Setelah itu bergantian. Setelah itu dia putuskan hari penyerangan. Waktu hari penyerangan itu dia pidato. Pidatonya tidak terlalu panjang. Dan Saya perhatikan para sahabat itu kalau pidato kenegaraan atau pidato perang hampir tidak ada yang lebih dari 5 menit. Dilihat dari segi teksnya.

Dia mengatakan begini: “Ya ma’syarol muslimin, hadza yaumun min ayyamillah”. Antum lihat kalimatnya!! “hadza yaumun min ayyamillah” darimana antum dapat istilah ayyamullah itu?. Itu saja, kemampuan orang mengartikulasi sebuah makna yang tervisualisasi begitu kuat antum langsung terikat dengan Allah SWT, terikat pada statemen pertama “hadza yaumun min ayyamillah, fa akhlisu fiihi jihadakum lillah”. Dia mulai dari statemen yang pertama “Fa akhlisu fiihi jihadakum fillah”. Setelah itu dia masuk pada tekhnisnya. Daripada kita sibuk menghitung jumlah pasukan, lebih baik kita sibuk menyembelih mereka itu. Setelah takbir Allahu Akbar maju mereka menyerang. Selesai….

Jadi komandan perang pun punya kadar yang besar dari naratif intelijen. tidak ada ceritanya orang kalau gak orator dan bukan penulis. Dia tidak akan abadi. Kerana itu keterampilan itu mutlak. Itu dalam basic kompeten dari seorang leader.

Antum lihat lagi presiden-presiden Amerika yang berpengaruh dari yang lain. Umumnya itu adaalah begitu. Waktu perang dunia kedua siapa perdana menteri inggris?? Itulah kelebihannya dia. Umumnya orang Inggris itu tinggi-tinggi tapi dia pendek. Orator. Dari dialah istilah “Saya tidak punya sesuatu di Inggris, kecuali hanya darah, keringat dan air mata”. Itu dia ucapkan di parlimen, siapa bangsa yang sedang perang begitu dikasih kalimat-kalimat begitu. Abadi pidato itu. Jadi begitu kita punya idea, kita jadi trend-setter. Yang lain, semuanya jadi follower.

insyaAllah bersambung di Bahagian 6

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Ustaz Anis Matta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s