“Bukan Kerana Kita Menang Pemilu” – Bah 4 (Ustaz Anis Matta)

anis matta 1Bahagian 4

Distribusi kekuatan kita itu harus ada di tiga kekuatan ini. Kalau cuma disini (negara) sedikit. Disini itu (negara), pelaku utamanya ada tiga ; Politisi, Birokrat dan Militer. Disini (civil society) pelaku utamanya kita sebut dengan informal leader. Informal leader itu bermacam-macam; budayawan, artis. Antum  suka atau tidak suka artis itu informal leader.

Suka atau tidak suka itu. Dia datang orang ikut. Antum boleh punya janggut sepanjang-pangjangnya, sesoleh-solehnya itu belum tentu informal leader, tapi artis, suka atau tidak suka informal leader, dia datang orang datang, dia goyang orang goyang. Jangankan itu Presiden pun ikut membina lagu pula itu, ya ikut jadi artis lah. Setelah gagal jadi negarawan. Ini era bintang. Pemain bola jadi bintang.

Disini (civil) ada media sebagai infrastruktur yang paling kuat. Terutama TV. Pimpinan ormas itu informal leader. Ada masanya sendiri, pemikir, akademisi, pimpinan kampus dan seterusnya itu informal leader. Orang-orang yang punya pengaruh di tengah masyarakat, kita sebut sebagai informal leader. Dia berpengaruh kerana kapasiti pribadinya tanpa struktur, baik kerana intelektualitas mahupun kerana spiritualitasnya. Jadi dia mungkin pemimpin spiritual, dia juga mungkin pemikir, Trand setter dalam pemikiran-pemikirannya, tapi dia juga mungkin selebriti. Makanya kalau demikian banyak para selebriti yang masuk politik memang gampang. Itu termasuk salah satu jalur cepat, tanpa harus membina partai. Kalau di Amerika kan banyak contohnya; Ronald Reagan, Arnold Schwarzeneger. Yang di DPR kan banyak ; Ada Dede yusuf ada Ajie Massaid, Angelina Sondakh, ada Igo Ilham di DPRD.

Disini (market) pelaku utamanya kita sebut sebagai pengusaha, orang businessman. Jadi kalau kita bicara tentang leverage to lead kita bicara tentang distribusi ini.

Ikhwah sekalian..
Pertanyaan bodohnya begini
, kalau orang yang kita bawa kesini (negara) adalah mahasiswa yang kita rekrut sejak SMP, kita tarbiyah..tarbiyah..tarbiyah…sekarang kita kapitalisasi masuk ke dewan. Jadi politisi dia. Ada Rama Pratama, Andi Ramco, Fahri Hamzah, Mustafa Kamal,. semuanya masuk disini. Ada Abu Bakar yang waktu direkrut sejak masih pakai celana pendek, sekarang masuk menjadi anggota DPR, masuk di panggung negara. Tapi kalau ada ikhwah, mahasiswa yang kita rekrut menjadi pengusaha sejak dia tidak kenal duit saat belajar dagang hingga menjadi pengusaha kejayaan, kira-kira berapa tahun untuk mencapai level ini…???

Keluarga Salim itu baru boleh menjadi konglomerat setelah 120 tahun bisnis keluarga itu berlangsung. Itu tidak gampang. Sampurna itu menjual seluruh sahamnya itu setelah 50 tahun keluarga itu bekerja total uang keluarga semuanya 2 milyar dollar (18 trilyun). Itu setelah lebih dari 50 tahun. Nah sekarang, disini (market) kita kosong kan?!, kita punya Dep-Tan, tapi kita tidak punya pengusaha Agri bisnis, makanya kita kerjasama dengan pengusaha agribisnis, yah kecil-kecil jadi calo lah. Gak apa-apa ini baru tahap pertama. Jadi broker dulu lah. Sekarang kalu antum membina informal leader, trend setter disini.

Berapa jumlah pesantren kita? Ada al-kahfi.
Berapa jumlah selebriti kita?
Ini masalahnya selebriti kita rekrut berhenti jadi selebriti.

Saya ngobrol panjang dengan Dedi Mizwar. Dia mengatakan, Saya susah juga. Kerana Saya kerja sendiri. Tiap tahun Saya hanya boleh memproduksi maksimum dua seri, dua serial. Maksimum. Memang sih meledak. Tapi sepanjang tahunkan, akhirnya yang mengisinya Raam Punjabi. Jadi dia mengatakan sekarang saya sedang berfikir bagaimana membuat training-training, workshop untuk para calon-calon selebriti. Dia mulai beli tanah, padepokan dan lain-lain. Dalam pelatihan sambil kita didik moral mereka, supaya menjadi selebriti yang bermoral dimasa yang akan datang.

Dan kita kan belum punya investasi disitu sampai sekarang. Jadi antum lihat. Kunci-kunci pengendalian sosial itu tidak kita miliki. Sekarang antum bandingkan. Ada 12 channel televisi di Indonesia, semuanya punya jam tayang 24 jam, kalau satu program itu minimunnya ½ jam, untuk satu program TV, berarti kan setiap hari harus mempunyai 48 program. Satu TV dikali dalam satu tahun 365 hari, dikali 12 channel TV (1X365X12). Jadi
berapa program yang harus tersedia??

Jadi waktu kita mentarbiyah ikhwah kita semuanya, 2 jam dalam halaqoh itu, setelah itu dia pulang, dia menonton TV berjam-jam. Setelah kita doktrin semuanya, dia nonton TV. Dicuci lagi tuh. Kita mentarbiyah supaya menjadi pemuda yang tangguh, setelah itu kita suruh dia untuk kawin. Begitu dia kawin dan beranak pinak. Dia sibuk, anaknya diurus oleh televisi. Diurus oleh internet. Dan ini masuk ke rumah kita semua. Dan sekarang, kita tidak memasukkannya lagi dalam wasail ghozwul fikri. tidak tahu masih ada di materi kita ini. Ini sekarang masuk wasail tarbiyah atau wasail ghazwul fikri-.

Jadi ini yang Saya sebut dengan landscape sosial kita itu. Masyarakat itu dikendalikan oleh orang-orang, oleh figur-figur Ini, Informal leader.

Disini pasar di drive oleh pengusaha. Masing-masing semua menjadi raja. Dan disini tujuannya. Share tiga-tiganya. Politisi boleh punya presiden. Boleh jadi presiden. Boleh jadi wakil presiden. Boleh jadi menteri. Tapi eselon satu kebawah.. Nah itu birokrat. Begitu ada baru menteri datang. Birokrat langsung lihat, ini high capacity atau under capacity. Begitu under capacity dia dipimpin oleh birokratnya.

Tentara, memang tidak berpolitik. Tapi dia boleh mempengaruhi seluruh jalannya politik. Makanya semua calon-calon presiden tahun 2009, coba antum lihat- banyakannya dari tentara kan. Memang sudah di eleminasi, tapi dia tidak hilang. Keluar dari permainan tapi dia boleh masuk dalam baju yang lain. Sekarang SBY punya kebijakan, di semua pilkada mesti ada satu dari gubernur atau wakil gubernur, walikota atau wakil walikota, bupati atau wakil bupati dari tentara. Kebijakan SBY, supaya boleh eksis lagi, boleh menang lagi pada 2009 nanti. Makanya jawa barat sampai sekarang gak putus-putus, kerana faktor itu, jadi tiga panggung ini sekarang kita ada sedikit disini, sedikit politisinya sedikit birokratnya, belum punya leader.

Berapa share kita di negeri ini? Kecil kan. Tapi kan kita mahu memimpin ini negeri. Jadi persoalan PKS sekarang adalah bagaimana menjadi leading party. Bagaimana kita menjadi partai pemimpin. Sekarang kita baru tahu. Kalau kita memimpin apakah kita perlu memiliki semua??

Soeharto disaat terakhir. Waktu dia terpilih lagi menjadi presiden tahun 97. Kan semua timnya itu shohibnya semuanya. Bob Hasan yang tadinya pengusaha masuk menjadi menteri. Anaknya sendiri masuk jadi menteri. Semua orang dekatnya menjadi menteri. Panglimanya Wiranto. Dibawahnya ada Prabowo. Semuanya. Geng besarnya masuk semua itu. Tapi waktu semua geng besarnya masuk semuanya dia jatuh. Sekarang coba antum fikir-fikir dulu. Kalau kita mahu mengembangkan kapasiti kita, leadership capacity kita itu.

Jadi tadi kita sudah sampai pada pembahasan distribusi kekuasaan. Cara yang harus PKS kalau mahu memimpin. Yaitu mempunyai share yang besar pada tiga panggung utama itu (State, Civil society dan Market).

Secara sederhana, kita sebagai gerakan itu kalau ingin punya kendali kira-kira aset-aset utama kita itu adalah ini. Kita kembali lagi pada gambar segitiga ini; Ide, Orang dan Uang.

Sekarang, -kalau antum lihat- reformasi ini kenapa mengalami stagnasi? Kerana tidak ada ide besar disini. Tidak ada satu kekuatan yang sangat berkuasa. Kerana tidak ada yang punya orang sebanyak yang diperlukan, dengan kapasiti yang diperlukan. Begitu juga uang terdistribusi secara tidak pasti dan tidak merata. Jadi tidak ada orang yang punya tiga-tiganya sekaligus. Tidak ada kelompok yang punya tiga-tiganya sekaligus. Makin besar kepemilikan kita pada tiga ini, maka makin besar share kita dalam kepemimpinan.

Jadi, kalau Gajah Mada kenapa dia legendaries di negeri ini kita, kerana dia datang dengan satu ide besar tentang Nusantara. Soekarno, juga datang dengan ide besar namanya Revolusi. Soeharto datang dengan ide besar namanya Pembangunan. Kita datang dengan ide besar namanya apa??

Saya sudah jelaskan pada pertemuan yang lalu bahawa ide besar itu adalah masalah ruang (dairatul mumkinat). Semua yang menjadi mungkin dalam ruang pemikiran kita, menjadi mungkin dalam realtitas. Jadi kalau di dalam ruang pemikran itu sesuatu tidak mungkin, lebih tidak mungkin lagi dalam ruang realiti. Nah, makanya makin besar ide seseorang, makin besar ruang realitinya juga.

Seperti ketika Imam Syahid menjelaskan tahapan-tahapan dakwah, yang terakhir adalah ustadziyyatul alam. Pada waktu dia masih dijajah, masih di bawah penjajahan Inggris. Jadi kalau pada saat itu saja, dia memiliki cita-cita besar seperti itu. itulah yang menjelaskan kenapa ikhwan masih hidup (eksis) sampai sekarang. Idenya itu melampaui zamannya. Sewaktu-waktu kalau khilafah ini tegak orang akan kembali mengenang idenya itu.

Bandingkan Hasan Al-Banna dengan pemikir sebelumnya, misalnya diatas beliau itu ada Rasyid Ridha yang sempat berinteraksi, diatasnya lagi ada Muhammad Abduh, diatasnya lagi Jamaluddin Al-Afghani, dan yang se zaman dengan Jamaludin Al-Afghani tapi beda tempat; Abdurrahman Al-Kawakibi.

Abdurrahman al-kawakibi itu punya buku yang namanya tobai’ul istibdad (karakter kediktatoran). Dia mendefinisikan penyakit umat Islam cuma satu yang namanya kediktatoran.

Al-Afghani menyebutkan bahawa dia setuju dengan premis al-kawakibi. Dan kerana itu solusinya adalah perlu ada gerakan politik. Makanya Pan Islamisme idenya. Itu akhir abad ke 19. Ide Pan Islamisme itu adalah ide dari Al-Afghani. ide ini terlalu besar, tapi tidak -kalau istilah orang-orang manajemen sekarang ini-, diketahui cara mengeluarkan idea-idea secara nyata. Kerana itu orang-orang dalam manajemen itu -antumkan belajar planning-, yang jauh lebih penting dari planning itu adalah menyusun strategi. Memformulaasi strategi adalah mengetahui dengan pasti How to execute, bagaimana mengeksekusinya. Makanya idea-idea itu adalah ide yang tidak boleh di eksekusi, kerana tidak ada penjelasan bring down-nya. Tidak ada sterategi untuk membuatnya jadi nyata. Antum lihat ruang kemungkinannya cuma satu disitu.

Muhammad Abduh datang dengan ide yang lebih aplikatif. Ide tentang pendidikan. Kerana itu iconnya Abduh itu adalah islah. Dan islah itu dimulai dari pendidikan, makanya buku besarnya adalah kitabuttauhid. Yaitu pembersihan masyarakat.

Rasyid RIdha melanjutkan ide. Dan kerana itu dimelanjutkan perlunya pemahaman ulang  tajdid  dalam pemahaman kepada Islam.

Hasan Al-Banna ada diurutan, merupakan satu kesinambungan dari sini. Makanya konsepnya tarbiyah, tetapi itu tidak cukup. Itu adalah sarananya. Diperlukan wadah yang lebih besar namanya organisasi. Makanya ide utama dari Hasan Al-Banna itu adalah ide tentang tarbiyah dan yang kedua ide tentang organisasi. Tarbiyah itu adalah reformulasi individu, rekonstruksi individu, jamaah itu adalah kanang, wadah untuk menyalurkan potensi yang sudah terbentuk. Kalau tidak ada itu tidak ada yang boleh bekerja, oleh kerana itu pemikiran tentang organisasi ini adalah pemikiran yang mendahului zamannya.

Teori-teori tentang manajemen yang lahir tahun 50an keatas, setelah perang dunia kedua, itu semuanya membenarkan. Menjelaskan pentingnya, terutama kalau antum bacanya buku Peter L Gardnerd, pentingnya bekerja di dalam dan melalui organisasi. Kerana kita tidak boleh bekerja sendiri. Inilah zaman dimana manusia tidak sebanyak seperti sekarang. Jumlah manusia ini terlalu banyak dan kerana itu kita menyediakan dan selalu bekerja didalam dan melalui organisasi. Itu idenya. Kerana ide ini besar, lebih besar lebih besar dari ide selanjutnya, makanya lebih lama beratahannya. Tapi ide Hasan Al-Banna bukan sekedar ustadziyatul alam, bukan sekedar Pan Islamisme, idenya lebih besar dari itu. Dia melampaui wilayah geografi dunia Islam. Makanya di kelompok dunia Islam idenya itu adalah tahrirul wathan Islami setelah islahud daulah.

insyaAllah bersambung dalam Bahagian 5…

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Ustaz Anis Matta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s