“Bukan Kerana Kita Menang Pemilu” – Bah 3 (Ustaz Anis Matta)

anis matta 1Bahagian 3

Inilah sebuah pendahuluan dan setelah kita itu baru kita masuk ke persoalan setelah kita memahami realiti ktia…

Setelah kita merdeka, Ikhwah sekalian. Dimasa Soekarno, dan Soekarno datang dengan isu revolusi itu. Kita menghabiskan waktu 20 tahun pertama untuk konflik ideology. Antum lihat sejarah Soekarno itu adalah sejarah konflik.

Sebagian dari konflik itu berujung darah. Konflik segitiga antara Islam, nasionalis dan komunis, semuanya menggunakan kekerasan pada akhirnya. wujud politik Islam itu ada pada Masyumi tapi wujud tentaranya, kekerasaannya ada pada DI (Darul Islam).

Di komunis, pada mulanya perjuangan ideology, kebudayaan dan seterusnya, tapi ujungnya juga menggunakan pendekatan kekerasan. Makanya melakukan beberapa kali kudeta yang terkahir terjadi di Madiun pada tahun 65. Satu polanya gerilya, satu polanya kudeta militer. Tapi kaum nasionalis yang kemudian menang, diwakili tentera. Tapi ujungnya antum lihat, sejarah kita itu, 20 tahun pertama itu sejarahnya konflik. Berdarah-darah 20 tahun pertama.

Kita tidak tahu berapa orang yang dibunuh oleh komunis dan berapa orang komunis yang dibunuh oleh Orde Baru. Sama juga berapa banyak DI yang dibunuh oleh tentara Orde Baru, dan berapa banyak tentara Indonesia yang dibunuh oleh DI. Tetapi faktanya kita hari ini, satu tanah bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, tapi (konflik) 20 tahun pertama. Ini adalah era dimana ada demokrasi tetapi tidak ada kesejahteraan. Kerana itu collaps.

Orde Baru datang dan membuat penyederhanaan, konflik ini kita akhiri, tidak ada konflik ideologi, tidak ada politik, kita perlu stabilitas, kerana itu tentara diperkuat parti-parti disederhanakan, pembangunan kita lakukan, investasi luar kita datangkan, masyarakat kita didik, semua yang beraliran digabung jadi satu. PPP, Islam, simbolnya satu. Yang kiri-kiri dan PKI, (nasionalnya) digabung menjadi satu PDI. Nah, baru dimunculkan alternative ketiga namanya GOLKAR, tidak disebut partai karya, disebut golongan karya artinya jamaatul amal. Inikan, yang lain kerjanya bertengkar, kita bekerja.

Tapi ternyata itu ikhwah sekalian.  30 tahun kemudian, diatas semua kebaikan Orde Baru kepada kita. Kita inikan produk Orde Baru semua, saya lahir tahun 68, pas awal tahun Orde Baru membangun. Kita yang menikmati semua pendidikan yang baik yang tidak ada pada Orde Lama. Setelah kita menikmati semua kebaikan Orde Baru ini. Orde Baru ini kita akhiri. Kerana Orde ini memberikan kita kesejahteraan tapi tidak memberikan kita kebebasan. Padahal kebebasan dan kesejahteraan, itu dua-duanya adalah hajat manusia. Jadi Orde Baru itu adalah era kesejahteraan tanpa demokrasi. Dan sekarang Malasyisa sedang menghadapi ini, pada beberapa waktu ke depan Malaysia akan masuk era 97 nya Indonesia.

Kita perlu bebas bicara, sama persis kita juga perlu makan. Sama persis 10 tahun setelah reformasi. Seteleh kita sangat bebas bicara ternyata makan kita tidak terlalu bagus. Makanya dalam survey kemudian menyatakan, ternyata masyarakat lebih memilih Soeharto dan merupakan presiden yang paling disukai dari semua presiden. Yang kedua soekarno. Makanya kalau reformasi ini tidak merupakan kesinambungan pada periode-periode sebelumnya. Maka reformasi ini pasti gagal, collaps, kita sebagai masyarakat boleh collaps, sebagai negara juga boleh collaps.

Kenapa ikhwah sekalian? Kerana kalau ini sustainable secara historis, seharusnya reformasi itu bukanlah antitesa terhadap Orde Baru, Sebab kesejahteraan pada Orde Baru itu tidak perlu kita hapus, yang kita mahu hapus itu adalah dictatorshipnya. Dan itu sudah kita lakukan, dengan megeluarkan tentara dari percaturan politik. Pilar-pilar utama yang menyangga Orde Baru waktu itu kan ada tiga; Tentara, Golkar, Konglomerat. Di politisi sama birokrat kita masukan disini, di Golkar, kerana politisi dan golkar itu satu paket.

Tapi sekarang coba antum lihat.. !! Tentara sudah dikeluarkan dari percaturan Negara, Orde Baru hancur dan pilar-pillarnya kita gerogoti. Dan Golkar dari 76% suaranya pada tahun 97 (pilihanraya pada tahun 97) suara itu turun menjadi 20 %, pada tahun 99 terdiskon langsung kekuatannya. Sekarang senaik-naiknya dia tidak akan lebih dari 30, itupun rasanya tidak akan naik dari 25 ditahun 2009 nanti. Diskonnya, kerana tentara sudah tereliminasi, keluar dari percaturan politik. Tapi pengusaha. 10 tahun terakhir ini, ada ga pengusaha yang lahir diluar dari pengusaha yang sudah eksis?. Kita memang boleh mengganggu eksistensi para konglemarat Orde Baru. Semuanya boleh kita ganggu. Tapi faktanya sebagaimana yang pelajari dalam kaidah dakwah itu “Alhadamu daiman ashalu minal bina
(menghancurkan itu selalu lebih mudah daripada membangun).

Orde Baru pergi, tapi para jaringan konglomeratnya ternyata tidak pergi-pergi. Dia menguasai panggungnya sendiri. Dan tidak ada panggung baru dipanggung itu, Tidak ada dari daftar yang kaya di indonseia ini, ada yang keluar dari daftar yang kaya sebelum-seblumnya?? Kan itu-itu juga kan. Ba*** besar dimana?, Ar*****, Jar**, Sam*****, Sa*** semuanya besar di Orde Baru. pasar itu adalah teritori sendiri.  Jadi sementara TNI terdemorelisasi begitu dahsyat, Golkar terdiskon begitu besar. Pasar, itu tidak terdistorsi sama sekali. Dan 10 tahun setelah era reformasi ini, ga ada perubahan. Tetapi yang menarik dari era reformasi ini adalah system politik. Inilah sisi yang kita ambil dari Orde Lama, demokrasinya. Tapi dari sisi kesejahteraan yang belum kita ambil dari Orde Baru. Seharusnya era ini adalah era sintesa, antara Orde Lama dan Orde Baru, kita memerlukan kebebasan. Tetapi seperti kata Thomas Jefferson : “Demokrasi itu memuaskan hati masyarakat tapi tidak menyelesaikan persoalan mereka”. Kerana itu cita-cita persoalan Indonesia ke depan adalah persoalan menemukan titik equilibrium maksimum, titik keseimbangan maksimum antara demokrasi dan kesejahteraan.

Itu persoalan Indonesia ke depan. Nah sekarang didalam situasi peta seperti ini ada tiga panggung yang eksis sekarang. Panggung utama ini yang sering saya sebut dengan segi tiga kekuasaan: Yang satu namanya Negara. Yang satu lagi namanya civil society, (dan) yang satu lagi namanya pasar atau market.

Jadi ikhwah sekalian…

Negara ini, tidak lagi berdiri sendiri, walaupun ia adalah organisasi terbesar yang mengatur ini (civil society) dan mengatur ini (market). Tapi otoritasnya itu dan kapasitinya tidak selalu besar. Kerana pasar ini juga tidak berdiri sendiri.

Lebih berkuasa mana dalam mengatur pasar, Negara RI dalam hal ini menteri keuangan atau WTO?? WTO. Jadi ada organisasi diatas Negara, yang mengatur Negara-negara itu. Begitu juga civil society. Pada akhir 90-an. Setiap tahunnya ada 3 milyar orang yang naik pesawat dalam catatan Newsweek. Sekarang kan lebih banyak. Apalagi di era tranportasi murah sekarang itu, Sekarang lebih banyak orang. Artinya apa? Ini artinya antum setuju atau tidak ini adalah era borderless teritory.

Gak ada lagi batasan dari segi jarak. Tapi telekomunikasi itu menghilangkan jarak waktu. dan 5 atau 10 tahun yang akan datang, tren telekomunikasi itu nanti, ikhwah sekalian..!! Ini menurut ahlinya, saya konsultasi dan ngobrol-ngobrol; nanti pembicaraan lokal dan internasioanal itu akan sama. dan provider telekomunikasi, perusahaan seluler sekarang itu akan mulai turun. Sama semuanya itu. Sekarang sudah mulai sebenarnya. Jadi antum boleh membayangkan negara tidak bias membatasi lagi orang saling berkomunikasi. Pelan-pelan nanti transaksi-transaksi pasar itu seluruhnya akan dilakukan melalui internet. Dan sekarang bagaimana caranya pemerintah mengambil pajak dari transaksi di internet.

Civil society, itu artinya apa ikhwah sekalian.. Ada kejadian-kejadian kecil yang terjadi disini itu kedengaran secara global, contohnya pembunuhan Mu***, bunyi suaranya sampai ke PBB, sampai ke Kongres Amerika itu. Capee.. (cepat) aja pemerintah menjawab pertanyaan. Itu civil society..

Oleh kerana itu ikhwah sekalian, jika kita hanya tumbuh kesini (Negara), tidak menguasai ini dengan baik (civil society) atau tidak menguasai ini dengan baik (market) kita tidak boleh mengendalikan hidup. Inilah tiga distribusi kekuasaan utama, tiga kekuatan utama di Negara kita.

Bagaimana kekuatan pengaruh antara masing-masing ini? Itu tergantung dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari satu periode ke periode yang lain.

Waktu di TPPN ada yang mempertentangkan DR. Sho***** I*** tentang, ya kalau kita baca teori Soros, market memang lebih berdaya dari pada Negara. Tapi kalau kita baca teori yang lain negara kan regulator. Tapi kuatnya atau tidaknya negara itu tergantung siapa yang punya asset paling banyak. Iya kan…?! Jadi kita tidak boleh mengatakan mana lebih kuat market atau Negara…?! Ada waktu tertentu Negara lebih kuat, dan ada waktu tertentu ini (market) lebih kuat, ganti-gantian aja itu. Tetapi kalau kita ingin berkuasa kita mesti punya share kekuatan pada tiga komponen ini. Oleh kerana itu PKS harus ada disini (ditengah).

Distribusi kekuatan kita itu harus ada di tiga kekuatan ini. Kalau cuma disini (negara) sedikit. Disini itu (negara), pelaku utamanya ada tiga ; Politisi, Birokrat dan Militer. Disini (civil society) pelaku utamanya kita sebut dengan informal leader. Informal leader itu bermacam-macam; budayawan, artis. Antum  suka atau tidak suka artis itu informal leader.

insyaAllah bersambung di Bahagian 4…

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Ustaz Anis Matta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s