“Bukan Kerana Kita Menang Pemilu” – Bah 1 (Ustaz Anis Matta)

anis matta 1InsyaAllah, pihak kami sedang berusaha membawa pembaca mengenali dengan lebih dekat sosok pemimpin bernama Ustaz Anis Matta. Anak muda yang mencecah 44 tahun tetapi mempunyai visi dan misi yang jelas, bukan hanya rhetorika dakwah atau tarbiyah tetapi anak muda yang penuh ilmu dan pengalaman dan terjun langsung ke lapangan amal..

Ikuti Perbahasan Beliau Terkait “Bukan Kerana Kita Menang Pemilu”

Ayo nikmati..!

June 3rd, 2008 by Anismatta
Bismillahirrahmanirrahim.Uhayyikum jamian bitahiyyatil Islam

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ikhwah sekalian,
Alhamdulillah siang hari ini kita bertemu kembali, dan pada kesempatan ini saya akan mencuba share pada antum semua mengenai gagasan atau idea-idea besar di TPPN ini.

Ikhwah sekalian, saya ingin memulainya, saya tidak memakai in focus (LCD Projector) kerana saya mahu menulis (di whiteboard) ke persoalan inti kita sebagai harakah.

Persoalan inti kita sebagai harakah ini ada dua (waktu kita mulai masuk ke demokrasi, membina partai dan mahu memimpin negara):-

  1. Persoalan yang fundamental (asas)
  2. Persoalan yang bersifat teknikal.

Persoalan yang fundamental itu adalah menyangkut masalah leverage to lead sedangkan persoalan yang menyangkut teknikal itu adalah strategy to win.

Jadi terkait masalah leverage to lead itu adalah menyangkut syurutul qiyadah (syarat-syarat kepemimpinan) yang dituntut kepada kita, atau kualiti-kualiti yang diperlukan jika kita ingin memimpin Negara.

Sedangkan yang teknikal itu adalah bagaimana memenangkan pilihanraya. Yang dua ini boleh berjalan seiring, boleh juga tidak.

Contoh yang tidak seiring itu misalnya PKB: sempat punya presiden, tapi cuma bertahan 21 bulan, setelah itu selesai. Boleh disebut parti boleh juga tidak, tapi ICMI itu adalah satu kenderaan besar bagi Habibie, diluar Golkar, tapi nyatanya Habibie cuma bertahan 18 bulan. Begitu juga PDIP, justru ketika terzalimi suaranya naik 34%, ketika berkuasa suaranya menurun menjadi 19%. (analisis parti-parti politik di Indonesia, PKB – Partai Kebangkitan Bangsa, ICMI – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Golkar – Golongan Karyawan, PDIP – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)

Jadi bukan kerana kita menang pilihanraya maka kita memimpin. Itu harus kita bezakan. Bukan kerana kita menang pilihanraya maka kita memimpin, pemimpin itu adalah leverage.

Kenapa kita ingin memimpin, ikhwah sekalian? Kerana  industri kita ini (industri kita sebagai harakah) adalah sina’atul hayah -seperti yang sudah-sudah saya sampaikan sebelumnya. Saya tidak tahu, bukunya sudah diterjemahkan atau belum?? Ini penting antum baca buku ini, (live making, sina’atul hayah), bukunya Abu Ammar, Muhammad Ahmad Al-Rasyid.

Jadi, oleh kerana itu kita mempunyai tugas membina kembali kehidupan kita secara keseluruhan. Dan untuk menjalankan fungsi besar ini kita memerlukan instrument yang juga besar, instrument itu namanya kekuasaan, negara.

Kenapa kita perlu Negara ikhwah sekalian? Kerana sekarang kita hidup di era institusi, dan institusi yang paling besar di dunia ini setidak-tidak dalam waktu 500 tahun terakhir ini adalah Negara. Tidak ada organisasi paling besar selain negara dalam 500 tahun terakhir. Walaupun organisasi ini (Negara) dalam beberapa tahun ke depan, juga sedang menghadapi persoalan yang sangat eksistensial.

Saya menganjurkan – kerana antum yang banyak yang boleh berbahasa Inggris disini, membaca buku yang ditulis oleh Peter F. Drucker: “Managing The Next Society”, disini ada pembahasan yang menarik kaitannya dengan posisi yang namanya “Nation State”, Negara bangsa itu, dalam era globalisasi, sejauh mana akan survive dimasa mendatang; baik kerana pengaruh perkembangan teknologi mahupun kerana pengaruh rasional ekonomi. Jadi kita memerlukan instrument besar itu, kalau kita ingin memimpin. Sampai disini kita tidak punya perdebatan. Perdebatan kita adalah tentang kapasiti apa yang diperlukan untuk mengelola itu semua. Itulah kepemimpinan.

Dan inilah yang kita inginkan. Oleh kerana itu persoalan fundamental ini harus kita pisahkan dulu dari persoalan yang teknikal, tentang bagaimana memenangkan pilihanraya. Sebab persoalan memenangkan pilihanraya itu mostly adalah persoalan komunikasi, Fi muhzamihi, ahya itu adalah pada masalah komunikasi.

Image waktu kita muncul pertama kali dengan membawa citra bahawa PKS itu adalah partai yang besih dan peduli pada rakyat. Di image ini terserap dan memberikan kita ruang yang besar di tengah masyarakat, tapi waktu kita masuk dalam pemerintahan kita tidak perform.

Jadi strategy to win itu adalah persoalan how to send, tetapi persoalan Leverage to win itu adalah persoalan how to deliver bagaimana mendelivery idea-idea itu menjadi suatu kenyataan. Dan itu memerlukan kualiti tertentu dari kita. Tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Kalau antum lihat, ikhwah sekalian, dalam tulisan-tulisan Ikhwan – saya ini senang buka ini kerana antum orang tarbiyah, setidak-tidaknya dalam 20 tahun terakhir ini, persoalan inilah yang tidak terbahas secara terperinci. Sebagian besar tulisan-tulisan pemikiran politik Ikhwan itu masih ada dilevel menyelesaikan terminologi. Kalau antum baca bukunya Yusuf Qardawi tentang fiqh daulah itu semuanya menyelesaikan masalah persoalan-persoalan basic/mafahim: Apa sikap kita terhadap demokrasi? Apa posisi perempuan dalam percaturan politik? Apa sikap kita terhadap ta’addudul ahzab? Sistem multi-parti? Apa sikap kita tentang tahaluf (aliance) politik? kita baru menyelesaikan perkara-perkara terminologi.

Dan itupun perdebatannya panjang. Kalau antum lihat buku yang ditulis oleh DR. Abul Hamid Al-Ghazali, judulnya: “Asasiyat masyru al-Islam” itu belum keluar dari kerangka itu semua. Jadi harakah Islamiyah secara keseluruhannya, belum keluar dari persoalan-persoalan fikriyah itu tadi, kepada persoalan-persoalan strategi. Persoalan-persoalan strategi dalam pengertian bagaimana kita perform sebagai sebuah kewujudan; baik sebagai harakah nanti mahupun sebagai daulah. Itu yang belum terbahas.

Tapi disini ada bias besar dan ini harus kita waspadai dari awal. Bahawa instrument Negara atau kekuasaan yang diperlukan ini pada akhirnya tetaplah sebagai wasilah. Kenapa ikhwah sekalian? Kerana kesejahteraan itu bukanlah tujuan. Keadilan itu juga bukanlah tujuan. Tetapi (keduanya adalah) sesuatu yang diperlukan oleh manusia, supaya naik ke level keperluan yang lebih spiritual, setelah persoalan-persoalan asas dia sebagai manusia selesai.

Ertinya ini apa? Manusia lebih kondusif secara spiritual untuk taat beragama ketika dia tidak lagi memikirkan persoalan fisik yang asas: persoalan makannya selesai, persoalan minumnya selesai, pakaiannya selesai, tempat tinggalnya selesai, kesehatannya selesai. Begitu ini semua selesai, pada umumnya, – sekalipun tidak selalu begitu, kerana kadang-kadang dalam keadaan miskin orang lebih dekat kepada Tuhan – keperluan spiritual itu muncul lebih beragam, lebih natural munculnya.

Nah! oleh kerana itu kita perlu menghilangkan hambatan-hambatan itu semua, yang disebut dengan mawaniut tadayyun, hambatan-hambatan seseorang untuk menjadi lebih beragama. Rasulullah saw mengatakan: Kaadal faqru anyakuna kufran.

Jumlah orang miskin yang lari ke masjid dibanding yang lari jadi pengemis, jadi pelacur atau yang lari jadi perompak, lebih banyak yang mana? Ertinya (bila) manusia-manusia itu dalam kondisi fisik tertekan pilihan-pilihannya itu banyak, antara positif dan negatif, tetapi umumnya mereka itu lebih cenderung memilih yang negatif, kerana kesan keterpaksaan itu tadi.

Tetapi ketika orang itu kaya, pilihannya juga sama banyaknya dengan orang yang miskin, pilihan positif dan negatif, tapi orang kan biasanya yang kaya kalau dia bergerak dari awal, katakanlah dia kaya diumur 50 tahun, pada waktu fikiran tentang kematian sudah bermunculan, terus menerus itu. Disitulah adilnya Tuhan, disitu adilnya Allah, kita dikasih itu, dia dikasih kekayaan last minute. Dia dikasih kesempatan untuk menyaksikan hasil kerjanya tetapi tidak dikasih kesempatan untuk menikmatinya.

Nah! oleh kerana itu orang di tingkat seperti itu cenderung lebih spiritualis dengan sendirinya. Alam yang mengantarkan dia kesitu, begitu juga kita. Kerana itu pemikiran itu harus lurus, supaya kita tidak bias, kita memerlukan instrument ini untuk menghilangkan seluruh mawaniut tadayyun dalam diri manusia.

Ada pembasahan tentang ini bagus antum baca di bukunya Abbas Mahmud Al-Aqod, tentang Abu Bakar As-Shiddiq, Abaqoriyatu Abu Bakar As-Shiddiq. Dibuku ini dibagian awal ada pembahasan tentang mawaniul Islam, mengapa Abu Bakar itu berada dilevel nombor satu, dibahas dulu dengan pertanyaan terbalik.

Apakah hambatan orang itu untuk berIslam? Apa hambatan orang berIslam? Apa entry barrier orang berIslam? Waktu dia bahas ini, dia jelaskan bahawa semua mawani’ ini, tidak ada dalam diri Abu Bakar, misalnya al-kibriya, itu tidak ada dalam diri Abu Bakar, dia berhasil melampaui itu semua. Jadi fungsi kekuasaan yang kita cari ini adalah menghilangkan hambatan ini, itu persis juga dengan jihad fi sabilillah.

Jadi ketika kita melakukan pengembangan pada suatu Negara, kita tidak ingin menundukkan orang dengan senjata, tetapi ingin menghilangkan mawaniu tadayyun yang salah satunya adalah at-thowagit. Thagut-thagut ini mencegah orang untuk beragama. Makanya Rasul mengatakan: “Annasu ala diini mulukihim”. Jadi kalau para muluk ini dihilangkan maka mawaniu tadaayun itu hilang, orang diberi kebebasan.

Jadi waktu kita menguasai satu wilayah, kita kerjasama satu wilayah, setelah kita menaklukkan pasukannya, tidak dengan sendirinya semua orang harus masuk Islam. Itu tidak.

Tujuan kita adalah menghilangkan mawaniul tadayyun, mawaniul  Islam, apa hambatan orang kepada itu, kalau semuanya ini semua hilang, orang belum masuk Islam juga, itu sudah bukan tanggung jawab kita. Baru saat itu kita boleh mengatakan “Ala hal balaghtu” iya kan.. ini antum perhatikan.. ini clear yah..!!

Kalau ini selesai kita masuk pada persoalan leverage to win..

(Ada komentar: bukan masalah clearnya, tapi yang menjadi inhiraf itu apa?). (ada soalan dari hadirin)

Dijawab: Masalah inhiraf itu terjadi di semua marhalah, boleh jadi kerana pembelotan, misalnya begini: waktu kita berkuasa seperti itu, boleh jadi pembelokan, sebenarnya pembelokannya boleh dengan sederhana, waktu sarana menjadi tujuan, secara real itu tidak akan keluar dari itu semuanya, waktu kita mulai berfikir, bahawa kekuasaan ini adalah tujuan. Kerana itu ukuran kejayaan kita adalah pertumbuhan ekonomi, tidak, itu ukuran kejayaan dipermukaan, tapi ukuran hakikinya berapa banyak orang menjadi beragama, dengan semua kesejahteraan itu.

insyaAllah bersambung di Bahagian 2…

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Ustaz Anis Matta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s