Kenali Ustaz Anis Matta – Bicara Wang – Bahagian Akhir

anis matta 1Ikhwah sekalian

Jadi kita perbaiki instint kita.

Pertama kali kita perbaiki tsaqafah kita. Jadi hadirkan buku-buku itu ke dalam rumah dan mulai dari sekarang anak-anak kita juga mulai di ajari tentang wang. Ikutilah kursus-kursus tentang entrepreneurship supaya kita dapat memperbaiki dulu citra kita tentang wang.

Kedua, menyiapkan diri untuk menjadi kaya. Orang- orang kaya yang bijak itu mempunyai nasihat yang bagus, mereka mengatakan “sebelum anda menjadi kaya latihanlah terlebih dahulu menjadi kaya”. Hiduplah dengan hidup gaya orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, kerana itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita adalah pesimis. Saya punya seorang teman sekarang jadi kaya, dia datang ke Jakarta hanya sebagai pelatih karate dan tidak ada duitnya, tapi supaya tidak ketahuan oleh isterinya bahawa dia tidak punya pekerjaan, setiap habis solat subuh dia pergi lari untuk olahraga, setelah itu dia memakai pakaian rapi lalu keluar rumah. Dia juga tidak tahu mahu kemana yang penting keluar rumah. Isterinya tidak tahu kalau dia tidak punya pekerjaan. Nanti di jalan baru ditentukan siapa yang dia temui hari ini.

Langkah pertama perbaiki dahulu peredaran darah kita, olahraga dulu, supaya wajah segar, makan yang banyak. Banyaklah makan yang enak, daging. Sering- seringlah makan yang enak. Menurut Utsman bin Affan makanan paling enak itu adalah kambing muda. Setiap hari mereka makan kambing muda. Makan yang enak, olah raga yang bagus supaya wajah kita berseri.

Syeikh Muhammad Al-Ghozali dalam kitab Jaddid Hayataka mengatakan kenapa orang-orang Barat itu pipinya merah, kerana peredaran darahnya bagus, gizinya bagus. Sedangkan kita orang- orang Timur kalau ketemu itu auranya pesimis, tidak ada harapan. Biasakanlah kalau orang ketemu kita ada harapan yang terlihat, makanya kalau pilih warna baju pilihlah yang cerah-cerah. Ibnu Taimiyah mengatakan ada hubungan antara madzhab dan batin kita, pakaian apa yang kita pakai itu mempengaruhi kondisi kejiwaan kita. Jangan pakai pakaian orang tua. Ada anak umur 25 tahun pakaiannya pakaian orang tua, bagaimana nanti kalau umurnya 50 tahun pakaiannya seperti apa.

Tampillah sebagai anak muda. Gunting rambut yang bagus, cukur kumis yang rapi janggut dirapikan. Rapi, supaya kita kelihatan ada optimisme. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata kita kuat, perlu sedikit latihan menatap. Misalnya di pagi hari atau petang hari menjelang matahari terbenam, antum tatap matahari dan tidak berkedip matanya. Kalau boleh antum bertahan 1 minit itu bagus. Latih saja sendiri. Di dalam bilik ambil lilin, matikan lampu, antum tatap lilin dan matanya tidak berkedip dan tidak berair. Nanti kalau sudah terbiasa pandangan matanya kuat. Jadi kalau riadahnya teratur, peredaran udara bagus, fikiran jadi segar, tsaqafah kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah-cerah. Makanya Rasulullah itu senangnya memakai baju putih. Jangan pakai yang gelap-gelap atau warna yang tidak menunjukkan semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua.

Sekadar untuk menunjukkan kita ini kelompok orang-orang soleh kita pakai baju taqwa, itu pakaian orang Cina. Pakailah baju yang segar agar dapat menunjukkan bahawa kita ada semangat. Walaupun anda sudah berumur pun tetap pakai pakaian yang muda, jangan berpenampilan tua. Ertinya kita harus merendahkan diri, sebab uban tanpa diundang dia akan datang. Jadi tidak perlu menua-nuakan diri dengan sekadar tampil kelihatan dewasa, tua, bijak. Tampillah sebagai anak muda yang cerdas dan optimis.

Ketiga, bergaullah dengan orang- orang kaya, perbanyakkan teman-teman antum dari kalangan tersebut. Ini tidak bertentangan dengan hadits yang mengatakan bahawa bab rezeki lihatlah kepada yang dibawah dan jangan lihat yang ada di atas. Antum tidak sedang tamak ke hartanya, tetapi antum sedang belajar kepada mereka.

Dahulu saya suka ceramah di kalangan orang- orang kaya. Waktu saya ceramah di rumahnya Abu ***** ****** yang saat itu sedang berduit-duitnya, saya duduk atas 1 karpet, ketika krisis ekonomi pada waktu itu, sekretarisnya memberitahu pada waktu itu, tahu tidak berapa harga karpet ini? Saya mengatakan saya tidak tahu, saya fikir sejadah biasa. Dia bicara karpet itu harganya 100 ribu Dollar. Karpet kecil harganya 1.6 Milyar. Waktu saya selesai ceramah dikasih envelope, envelopenya nipis. Saya memberitahu setiausahanya. Ini envelope kembalikan kepada dia. Katakan sama beliau saya cuma ingin berkawan dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata- kata saya. Saya mahu bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya envelope lain kali.

Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini (bayaran) saya ingin bergaul dengan bapak, saya ingin jadi teman. Alhamdulillah dari situ saya banyak teman dari kelompok orang- orang kaya, dan kalau datang, kita belajar. Saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana caranya, bertanya kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu dido’akan panggil saya, boleh. Tapi kan saya tidak punya ilmu buat duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid.

Jangan kerana kita sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek. Saya bergaul dengan orang-orang kaya dan saya belajar dengan mereka. Saya belajar bagaimana caranya buat duit, bagaimana caranya buka perusahaan sama-sama dan saya tidak malu. Bergaul dengan mereka itu dari sekarang. Jangan tamak pada hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan rasa rendah diri bergaul dengan orang kaya seperti itu.

Awal lahirnya reformasi, setelah kalah dalam Pilihanraya 1999, kita berkumpul di rumahnya Fu** ******. Semua orang diam, ada Am** ****, Yu****, semuanya diam kerana malu. Kerananya kita semua kalah, tadinya sombong semua. Pak Am** **** mengatakan sebelum Pemilu “Nanti Golkar kita lipat-lipat, kita tekuk-tekuk, kita kuburkan di masa lalu”. Tahu-tahunya Golkar masih di nombor 2.

Partinya Pak Am** rendah perolehan suaranya. Suara umat Islam rendah. Jadi berkumpullah orang- orang kalah ini semua dalam 2 hari. Waktu itu Pak Am** sedang dikejar-kejar terus oleh Duta Besar Amerika untuk membuat pernyataan bahawa pemenang pemilu legislatif yang paling layak jadi Presiden, tapi Pak Am** menghindar.

Jadi saya datang ke rumah Pak Fu** ******. Saya katakan kepada Pak Fu**, saya ini bukan orang politik, saya ini ustadz. Yang saya pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya adalah i’tikaf, kita belajar banyak istighfar, tilawah dan seterusnya. Jauhi dulu wartawan, mungkin dosa-dosa kita banyak sehingga kita kalah.

Dia bicara benar juga ya. Cuma kalau kita i’tikaf di Indonesia tetap saja diketahui wartawan. Kalau begitu kita umrah. Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3 orang. 4 orang ini naik bisnes first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang beli tiket dia soalnya. Mahu diprotes bagaimana. Kita cuma dihargai begini, terima apa adanya dahulu. Tapi waktu itu dengan merendah saya datang menghadap Pak Fu**. Saya bicara Pak Fu** berapa harga tiket first class. Dia bicara asasnya 2 kali ganda harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 Dollar harga first class itu sekitar 2000 Dollar. Kenapa kita tidak sama-sama saja di kelas ekonomi, dan bakinya kita infaqkan untuk orang miskin. Ini kan masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa dia bicara ya akhi, nanti ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi ana tetap di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.

Kita tidak tahu apa nilai yang berkembang pada orang kaya, kenikmatan itu adalah nilai pada mereka. Mereka menghemat energi, tenaga. Dan, angka besar pada kita itu angka kecil bagi mereka. Wang 1 Milyar 2 Milyar itu wang saku. Kalau kita, belum tentu punya tabungan sampai mati seperti itu. Itu masalah cita rasa. Cita rasa pada orang kaya itu berbeza. Ini yang kita pelajari, yang dianggap besar oleh mereka adalah ini. Dengan begitu kita menyentuh sedikit emosinya. Kerana dalam pergaulan itu, kalau kita bergaul dengan seseorang itu, kalau bukan api dia pewangi.

Kalau dia pewangi dia menyebarkan wangi, kalau dia api menyebarkan panas. Orang jahat itu api, kalau antum dekat-dekat akan menyebarkan panas. Orang baik itu perfume, kalau antum dekat-dekat setidak-tidaknya bau badan kita tertutupi oleh perfume tersebut. Jadi ikut-ikut kerana kita perbaiki selera. Jadi kalau antum punya waktu kosong jalan-jalanlah ke mall, lihat-lihat orang kaya tidak usah berbeli, lihat-lihat saja dulu, memperbaiki selera. Datanglah ke showroom kereta, datang ke pameran kereta. Lihat-lihat, pegang-pegang. Rajinlah berdo’a. Bergaullah dengan orang kaya. Selain itu, rajinlah berinfaq walaupun kita miskin. Gunanya apa? Supaya antum tetap menganggap wang itu kecil dan supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita.

Misalnya kita punya 10 juta (RM4k), infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar dari ini. Jadi angka itu terus bertambah di kepala kita, walaupun dalam kenyataannya belum. Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita rasa kita tentang angka. Bukan sekadar dapat pahala tetapi efek tarbawi-nya bagi kita akan bertambah terus.

Kita belum pernah merasakan bagaimana menginfaqkan kereta, suatu ketika kita berusaha untuk menginfaqkan kereta. Begitu antum punya wang sedikit terus berinfaq, terus seperti itu kita latih sampai menjaga jarak. Kita membuat peredaran jadi bagus.

Kelima adalah mulailah melakukan bisnes sebenar. Terjun ke dalam bisnes secara langsung. Kerana Rasulullah SAW mengatakan 9 per 10 rezeki itu ada dalam hal perdagangan. Saya juga ingin menasihati ikhwah-ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan mengharapkan mata pencarian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum tentu kader-kader di Riau ini nanti masih menginginkan Pak Khairul (Anggota Dewan di Riau) untuk periode selanjutnya. Belum tentu juga jama’ah meletakkan kita lagi sebagai anggota dewan, padahal gaya hidup sudah berubah.

Anak-anak kita kalau kenalan dengan orang, bapak saya anggota dewan padahal itu hanya putaran sementara. Jadi setiap kali kita mendapatkan pendapatan dari gaji kerana pekerjaan seperti ini, kita harus hati-hati itu bahaya. Jadi pendapatan paling bagus itu tetap dari bisnes. Oleh kerana itu, mulai sekarang itu belajarlah terjun ke dunia bisnes.

Jatuh bangun waktu bisnes tidak ada masalah, terus saja belajar. Tidak ada juga orang langsung jadi kaya. Yang antum perlu terus berniaga. Begitu juga dengan para ustadz, teruslah bisnes. Begitu juga dengan seluruh pengurus DPW-DPD dan seterusnya. Teruslah berbisnes. Lakukan bisnes sendiri sekecil-kecilnya. Tidak boleh tidak. Itulah sumber rezeki yang sebenarnya. Kalau antum mahu kaya sumbernya adalah dagang. Rezeki itu datangnya dari 20 pintu, 19 pintu datangnya dari peniaga dan hanya 1 pintu untuk yang bekerja dengan keterampilan tangannya, yaitu professional. Misalnya akuntan itukan professional, pekerja pintar, tapi kalau sumber rezekinya satu makanya wangnya terbatas. DPR juga begitu sumbernya satu, yakni gaji bulanan itu hanya 5 tahun. Itu pun kalau tidak di PAW sebelumnya. Jadi kalau saya ketemu dengan ikhwah dari dewan, hati-hati jangan sampai mengharapkan mata pencarian dari situ.

Selain itu potongan dari DPP, DPW, DPD juga besar. Untuk ma’isyah sendiri kita harus cari sumber lain. Waktu kita terjun ke bisnes, kita pasti gagal. Gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga, gagal keempat tapi teruslah jangan pernah putus asa. Saya punya partner bisnes. Dia mulai bisnes umur 16 tahun, semua jenis pekerjaan sudah dia lakukan. Pada suatu waktu dia mempunyai 38 perusahaan tapi dari 38 perusahaan ini hanya 6 yang menghasilkan wang. Kita lihat berapa ruginya. Jadi seringkali kita salah pandang terhadap orang kaya. Kita fikir tangan dingin semua yang disentuh jadi wang. Ternyata tidak juga. Jadi hal-hal seperti itu harus kita hadapi secara wajar jangan shock kalau rugi. Jangan berfikir dengan berdagang antum akan cepat kaya, yang menentukan antum cepat berhasil dalam dagang itu adalah secepat apa antum belajar. Cara belajar itu ada dua: baca buku atau sekolah atau bergaul dengan orang- orang sukses, nanti kalau sudah baca buku sudah bergaul dengan orang sukses masih gagal juga. Teruslah berdagang, teruslah bergaul, teruslah seperti itu kerana setiap orang tidak tahu bila saatnya dia ketemu dengan momentum lompatannya.

Alhamdulillah… Tammat

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Ustaz Anis Matta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s