Bab 10 – “Masa-Masa Pengantin” – 1B

Merintis Kebiasaan Yang Baik

Allah menyempurnakan setengah agama kita ketika kita dikaruniai kekuatan untuk menikah. Kemudian kita disuruh menyempurnakan yang setengahnya. Salah satu yang bisa kita lakukan untuk menyempurnakan setengah dari agama kita adalah dengan merintis kebiasaan yang baik dan saling mengingatkan tentang watak (khuluq) serta perilaku yang tidak baik. Sebagian dari kita mungkin memiliki perilaku buruk yang tidak diketahuinya, kecuali dengan bantuan orang lain, termasuk suaminya sendiri.

Berkenaan dengan merintis kebiasaan yang baik ini, ada sebuah hadis yang dapat kita renungkan:

“Barangsiapa yang menetapkan sunnah-hasanah (kebiasaan yang baik) lalu ia diamalkan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikit pun.

Dan barangsiapa yang menetapkan dalam Islam satu sunnah sayyi’ah(kebiasaan yang buruk) lalu ada yang mengamalkannya, maka ia memperoleh dosa seperti yang mengerjakannya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR Muslim).

Kebiasaan baik yang kita rintis di rumah kita bisa jadi menyangkut ibadah mahdhah seperti shalat, bisa jadi berkenaan dengan perilaku kita kepada keluarga atau perilaku kita terhadap tetangga atau lebih luas lagi. Yang jelas, bisa merintis sunnah hasanah atau tidak, sebaiknya suami isteri berusaha untuk mengurangi perilaku­perilaku yang buruk. Syukur kalau bisa saling belajar melihat kekurangan masing­masing dan kemudian menyadarinya, bukan menjadikannya untuk berapologi. Syukur pula kalau bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan sehingga menjadi kebaikan.

Saya tidak berpanjang-panjang dengan masalah sunnah hasanah ini. Saya grogi membahasnya. Karena itu, marilah kita beralih kepada tema kita yang lain, yakni mengenai mengurangi keburukan dan memperbaiki kekurangan. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, keluarga kita akan barakah dan selamat dan fitnah dunia maupun fitnah akhirat. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, anak-anak kita dapat lebih memikirkan ummat Muhammad dibanding orangtuanya atas sebab kita berusaha memperbaiki sebagian kekurangan kita.

Hambatan besar yang mungkin muncul ketika kita ingin menjadikan rumah kita sebagai tempat untuk saling memperbaiki kekurangan, adalah seperti yang pernah dilukiskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin pada pembahasan tentang penyakit hati. Ia berkata, “Akan tetapi, biasanya kita justru menyibukkan diri dengan mencari-cari jawaban untuk menunjukkan kepada orang itu bahwa ia sendiri juga menyandang cacat-cacat seperti itu. Lalu kita akan berkata kepadanya: ‘Anda sendiri juga melakukan begini… dan begitu….’ Dan sikap permusuhan seperti itu pasti menghalangi kita daripada memanfaatkan nasehatnya.”

Seperti kata Al-Ghazali, adakalanya kita berkata saat diingatkan, “Habis, Mas kemarin juga begitu.”

Atau kalimat lain yang mirip dengan itu, misalnya, “Ah, Mas nyuruh bangun awal. Mas sendiri susah dibangunkan. Bagaimana mau shalat malam kalau tidur terus?”

Contoh lain yang semakna dengan itu masih banyak. Silakan Anda cari sendiri. Atau, silakan Anda ingat-ingat apakah dalam hidup Anda pernah mengucapkan kalimat-kalimat yang seperti itu manakala Anda diingatkan oleh suami Anda (atau suami diingatkan oleh isterinya). Atau, Anda sering mengucapkannya? Jika ya, maka ingatlah bahwa sesungguhnya suami Anda bukan Nabi yang Allah mema’shumkannya, sehingga ia terjaga dari melakukan kesalahan. Ia juga bukan tergolong sahabat Nabi –yang sekalipun tidak ma’shum, tetapi Allah meridhai mereka dan mengampuni kesalahannya. Ia adalah manusia biasa, sangat biasa. Sehingga terbuka kemungkinan melakukan kesalahan, sekalipun ia sangat menginginkan kebaikan. Sederhananya, ia mungkin sering tidur tanpa bangun malam, meskipun berkali-kali ia mengatakan ingin shalat malam.

Mari kita perhatikan hadis ini:

“Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan shalat. Dia bangunkan istrinya dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan yang lainnya. Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkan hadis ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berpendapat, hadis ini hasan).

Atau mari kita simak hadis ini:

Dari Abu Darda’ r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Tiga (orang), Allah mencintai mereka, tersenyum kepada mereka dan merasa gembira dengan mereka.

Pertama, orang yang apabila suatu golongan menghadapi serbuan maka ia berperang sendirian semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia terbunuh atau ditolong oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan dicukupi-Nya lalu Allah berfirman (kepada para malaikat, “Lihatlah hamba-Ku ini bagaimana dia bershabar karena-Ku dengan (mengorbankan) dirinya.”

Kedua, orang yang memiliki istri cantik dan kasur empuk lagi bagus, kemudian ia bangun (melakukan shalat) malam, maka Allah berfirman, “Ia meninggalkan syahwatnya dan mengingat-Ku. Padahal kalau suka ia tidur saja.”

Ketiga, orang yang apabila dalam perjalanan (safar) bersama dengan rombongan lalu di saat itu begadang malam kemudian tidur, ia bangun waktu sahur dalam keadaan susah dan senang.” (HR Thabrani dengan sanad hasan. Al­Haitsami berkata, “Para perawinya terpercaya.” Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis ini hasan).

Hadis-hadis ini tidak berbicara tentang sifat suami sebagai manusia biasa. Dan saya pun tidak bermaksud untuk menjelaskan kepada Anda makna dari dua hadis tersebut karena saya belum berhak menjelaskan. Tetapi melalui hadis ini saya ingin berbincang-bincang dengan Anda bahwa suatu saat barangkali Anda yang memercikkan air ke wajahnya, dan di saat lain Anda yang susah dibangunkan sehingga suami perlu memercikkan air ke wajah Anda. Suatu saat Anda yang perlu mengingatkan suami ketika ia melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimat­kalimat yang merusak. Tetapi di saat lain boleh jadi suamilah yang harus mengingatkan Anda karena Anda melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimat yang tidak baik; kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh suami Anda.

Jika Anda menerima peringatan dan nasehat suami, sementara suami pun demikian, maka insya-Allah dari rumah Anda akan terbit cahaya yang menerangi dan memberi kesejukan bagi sekeliling. Paling tidak bagi orang yang mendiami rumah Anda. Tetapi jika Anda berkata “Uuh, Mas juga sering begitu”, maka kisah romantis tentang pernikahan penuh barakah selesai sampai di sini. Ia akan merasa terhalang secara psikis untuk mengingatkan Anda dengan segera di saat ia menjumpai Anda melakukan kesalahan. Yang paling mudah ia lakukan kemudian adalah marah dan menyalahkan. Kalau ini terus berlanjut, berarti Anda berdua telah jatuh dalam coercive communication (komunikasi memaksa). Selengkapnya tentang coercive communication ini bisa Anda simak pada bab Komunikasi Suami-Istri di jendela tiga buku ini.

Seperti kata Al-Ghazali,

saat diingatkan adakalanya kita berkata,

“Habis, Mas kemarin juga begitu.”

Dan Istri Pun HamilMasa pengantin baru, barangkali terasa belum lewat ketika istri Anda muntah­muntah di pagi hari. Ketika Anda mendekat, ia menepis Anda. Di saat Anda membutuhkan seorang teman untuk berbincang santai, ia malah berangkat tidur dan enggan bangun. Belakangan periksa, ternyata ia telah positif mengandung.

Sebagian orang terkejut dengan masa nyidam. Apalagi kalau mereka sama-sama tidak mengerti bahwa perubahan situasi emosi yang drastis itu disebabkan oleh datangnya kehamilan, percekcokan bisa tersulut dengan cepat sebagaimana api yang membakar rumput kering. Akibatnya, hubungan suami dengan istri akan renggang. Masing-masing menyimpan perasaan yang tidak mengenakkan.

Datangnya kehamilan dan masa nyidam itu adakalanya pada bulan ketiga pernikahan, adakalanya dua tahun kemudian. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan istri sudah mengandung setelah satu bulan menikah.

Nah, jika Anda masih menginginkan suasana pengantin baru, apa yang sebaiknya Anda lakukan bersama istri Anda yang mulai mengandung?

Silakan Anda jawab sendiri. Mumpung masih pengantin baru.

Kado Pernikahan

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

One Response to Bab 10 – “Masa-Masa Pengantin” – 1B

  1. Bang Uddin says:

    Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

    ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

    Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata “…maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya”.

    Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

    Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

    Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

    Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

    Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

    Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

    Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

    Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
    Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s