Bab 10 – “Masa-Masa Pengantin Baru” – 1A

Masa pengantin baru barangkali sama pentingnya dengan malam pertama. Masa ini isteri anda sangat sensitif. Perasaannya sangat peka. Apalagi kalau ia masih gadis. Begitu juga suami, sekalipun perasaan laki-laki konon tak sehalus perasaan wanita, ia akan peka. Kerana keduanya sangat sensitif, maka ibarat negatif film yang belum dicuci, ia mudah terbakar. Kalau terbakar, hanguslah potret yang telah dibidik dengan sangat hati-hati itu.

Masa ini memang sangat peka. Kehancuran ikatan suci pernikahan, kadang bermula dari masa-masa pengantin baru yang tak terlewati dengan baik. Apalagi jika salah satu atau keduanya telah membawa perasaan yang negatif ketika memasuki pernikahan, goresan luka yang perih akan mudah terjadi. Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi hikmah di balik pesan Nabi Saw. agar memurahkan mahar dan memudahkan nikah. Di sinilah kita melihat bahwa hikmah di balik pesan-pesan Nabi tak cukup jika hanya ditulis dalam satu bab panjang seperti pada bab “Di Manakah Wanita-wanita Barakah Itu?”. Di sinilah kita melihat bahwa masa-masa ketika proses sedang berlangsung terasa sangat penting.

Tetapi karena akad nikah telah berlangsung dan malam zafaf telah lewat, maka marilah kita teruskan pembicaraan kita tentang masa-masa pengantin baru. Soal indahnya masa yang penuh cerita ini, tak perlu saya tulis. Anda sudah tahu sendiri. Lagi pula indahnya masa pengantin baru itu lebih enak dialami daripada dipelajari. Karena itu lebih baik kita memahami masalah-masalah yang lebih penting berkenaan dengan masa pengantin baru ini.

Pertama, jangan lupa menemani istri Anda. Sediakan waktu khusus untuknya. Lebih-lebih jika ini merupakan pernikahan kedua dalam rangka matsna (poligami), maka Anda perlu sekali memperhatikan. Jangan abaikan haknya untuk tinggal bersama Anda dan menghabiskan masa-masa yang khusus untuk Anda berdua itu. Tentang berapa lama Anda harus tinggal bersama istri Anda ini, mari kita simak Anas (bin Malik) r.a. riwayat Abu Qilabah yang berkata:

Termasuk sunnah bagi (seseorang) jika menikahi (lagi) seorang gadis, setelah dia mempunyai istri, dia bermukim padanya selama tujuh hari, lalu mengadakan pembagian. Apabila menikahi seorang janda, dia berhak untuk bermukim padanya selama tiga hari (tiga malam), kemudian barulah mengadakan pembagian (waktu).

(Selanjutnya) Abu Qilabah berkata, “Jika aku mau, pasti aku mengatakan bahwa Anas r.a. memarfu’kan berita (atsar) tersebut kepada Rasulullah Saw.” (HR Bukhari).

Selama masa pengantin baru ini, sebaiknya suami lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani istri, sehingga istri memiliki kesempatan untuk mulai belajar bertaba’ul (mengurus dan melayani) kepada suami dengan baik dan sesuai dengan suami. Sebaliknya, suami bisa belajar mengenal istri. Yang dimaksud dengan mengenal istri boleh jadi berkait-erat dengan persoalan-persoalan psikis, termasuk yang bersangkutan dengan bagaimana ia dibesarkan keluarganya, sehingga suami dapat memahami perbedaan sikap istri dan menerima apa yang bisa diterima. Tetapi mengenal istri boleh jadi bersangkutan dengan hal-hal yang kelihatan kecil dan sepele, misalnya makanan kesukaan istri.

Berkenaan dengan masalah yang disebut terakhir ini, boleh jadi sebagian orang menganggap sepele (ah, rumah tangga kok cuma ngurusi soal makanan). Tetapi menyepelekan masalah yang sepele ini, bisa memicu ketidakpuasan suami-istri. Mereka merasa diabaikan. Jika ini terus berlanjut, percekcokan bisa timbul.

Pentingnya memperhatikan persoalan yang dianggap sepele itu tidak berarti melupakan soal-soal yang lebih penting. Sebab di atas itu semua, masalah yang paling berpengaruh memang orientasi. Pernikahan Hari Moekti adalah contoh yang tepat untuk menggambarkan bahwa orientasi masing-masing sangat mempengaruhi kebahagiaan pernikahan. Ketika Kang Hari masih menjadi rocker, pernikahannya sering diwarnai ketidakpuasan dan ketegangan-ketegangan. Akan tetapi setelah menemukan Islam, mereka mendapati keluarganya penuh kebahagiaan.1

Salah satu masalah penting yang perlu dicatat dari perjalanan keluarga Hari Moekti adalah soal perubahan orientasi keluarga yang ikut mempengaruhi kebahagiaan pernikahan mereka. Ketika Kang Hari telah menemukan Islam, ia menemukan cara pandang yang sama sekali baru tentang istri, tentang bagaimana bersikap dan memuliakan istri, tentang bagaimana memandang kehidupan, serta tentang tujuan hidup yang semuanya berpulang kepada Allah.

Wallahu A’lam bishawab.

Semoga kita berkesempatan untuk menemukan Islam sebelum kita meninggal.

Singkat cerita, masa pengantin baru sangat peka. Dan seperti yang dinasehatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, tergantung pribadi masing­masing untuk memperoleh kemuliaannya.

… Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi
hikmah di balik pesan Nabi Saw.
agar memurahkan mahar dan memudahkan nikah.
Di sinilah kita melihat
hikmah di balik pesan-pesan Nabi ….

Lalu apa yang bisa kita lakukan pada masa-masa pengantin baru? Wallahu A’lam bishawab. Selebihnya, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Belajar Mendampingi Suami

Anda barangkali geli dengan sub judul ini. Tetapi kita menghadapi kenyataan bahwa para wanita usia nikah di zaman kita umumnya tidak memperoleh pendidikan memadai tentang bagaimana mendampingi suami. Sama halnya dengan suami mereka yang pada umumnya tidak sempat mendapat pendidikan tentang bagaimana menjadi suami sebagaimana yang diterima oleh orangtua mereka dulu. Sebabnya sederhana, sebagian besar dari generasi usia nikah maupun keluarga baru di zaman kita umumnya menghabiskan masa kecil hingga masa dewasa di sekolah-sekolah formal saja. Mereka tidak memperoleh pengalaman dan pendidikan mengenai peran-peran sosial maupun peran keluarga dari lingkungan, katakanlah dari masjid dan pesantren. Bahkan, mereka juga tidak mendapatkan pengalaman itu dari keluarga –komunitas terdekat yang sebenarnya paling memungkinkan untuk memberi pengalaman kepada anak.

Jika pada generasi orangtua, suami-istri memasuki pernikahan dengan membawa bekal ilmu berumah-tangga yang mereka peroleh dari pesantren atau mushalla, maka pada generasi kita tidak seperti itu. Kita memasuki pernikahan dengan tangan kosong;

sebagian nyaris tanpa bekal, kecuali ijazah diploma atau kursus MS Excel. Jika tidak, kita membawa bekal sertifikat seminar menjelang pernikahan –yang tidak cukup untuk memberi gambaran kepada kita tentang bagaimana berumah tangga, khususnya mendampingi suami. Adapun bagaimana bersikap kepada suami ketika sedang marah, bagaimana meredam emosi suami, bagaimana memberi sentuhan yang membangkitkan gairah istri ketika suami mempunyai keinginan besar sementara istri sedang dingin-dinginnya, dan soal-soal semacamnya, kita nyaris tidak tahu. Saya sendiri baru tahu bahwa di pesantren ada literatur (sekaligus pengajiannya) tentang urusan yang saya sebut terakhir itu ketika saya sudah menikah. Sampai sekarang saya belum mengetahui isi kitabnya secara persis. Saya hanya mendengar penjelasan dari seorang gus (putra kiai) tentang isi kitab yang membahas soal itu ketika menyarankan kepada saya untuk mempelajari, sehingga bisa melengkapi pembahasan tentang jima’ pada buku Mencapai Pernikahan Barakah.

Kembali ke persoalan mendampingi suami, ada baiknya kita mendengar nasehat dari Al-Khasyat, “Mendampingi suami merupakan sebuah proses belajar. Kecocokan perasaan harus melalui beberapa tahapan, entah membutuhkan waktu lama atau relatif singkat dari ‘usaha dan kesalahan’.”

Persoalan yang lebih penting dalam mendampingi suami adalah keinginan yang tulus, bukan keterampilan memasak atau menjahit sebelum Anda menikah. Kata Al­Khasyat, “Sebelum ini seorang istri perlu memiliki keinginan tulus untuk memahami suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk merealisasikan kecocokan dan keharmonisan dengan suaminya sedikit demi sedikit, dibarengi dengan kesabaran, kelembutan, dan ketekunan dalam menghindari berbagai sebab permusuhan, serta menjauhi sebab-sebab perselisihan, dan menciptakan suasana yang sesuai dengan perkembangan semangat kasih-sayang dan cinta-kasih.”

“Adalah mustahil,” kata Al-Khasyat lebih lanjut, “bila kelembutan dan keharmonisan dapat diraih tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk menghilangkan sebagian tingkah laku dan beberapa kebiasaan yang lalu.”

Seperti yang telah kita dengar dari Al-Khasyat, yang kita perlukan agar bisa mendampingi suami adalah keinginan yang tulus. Istilah ini sangat indah dan barangkali sangat sering Anda dengar. Tetapi apakah keinginan yang tulus itu? Apa yang dapat menandakan kita tulus atau tidak?

Wallahu A’lam bishawab. Silakan Anda cari jawabnya dengan bertanya kepada diri Anda sendiri.

Sementara Anda mencari jawabnya, mari kita melanjutkan pembicaraan kita kepada persepsi. Secara sederhana, bagaimana Anda mempersepsi sesuatu sama halnya dengan bagaimana Anda memandang. Jika Anda memakai kacamata merah, maka apa pun yang Anda lihat akan tampak ada warna merahnya. Daun yang hijau dan bunga yang putih pun akan tampak kemerah-merahan.

Selain itu, pengalaman dan pengetahuan Anda juga mempengaruhi. Orang Jawa Timur akan berbinar-binar melihat rujak cingur yang hitam pekat bumbunya dan menebar bau petis campur terasi (Ouw, sedapnya). Air liurnya akan segera mengucur sehingga tak sabar lagi untuk segera menikmati. Tetapi orang lain, akan segera bergidik. Jijik. Jangankan untuk memakannya, melihat orang lain makan saja rasanya tengkuk sudah geli. Iihh, makanan kok hitam begitu. Baunya nusuk-nusuk lagi…!

Singkatnya, persepsi dipengaruhi oleh zhan (prasangka) Anda, sebagaimana warna kacamata mempengaruhi penglihatan kita terhadap benda-benda yang kita lihat. Selain itu, persepsi kita dipengaruhi oleh pengalaman, ilmu, dan juga kondisi psikis kita saat itu. Jika Anda sedang marah sekali, Anda akan mudah melakukan kesalahan dalam menafsiri perkataan orang lain, termasuk perkataan suami atau istri Anda. Ini satu contoh.

Lalu apa perlunya kita berdiskusi soal persepsi dengan pembicaraan kita mengenai masa pengantin baru? Untuk menjawab pertanyaan ini, sekali lagi mari kita ingat bahwa masa pengantin baru adalah masa yang sangat peka. Keindahan malam zafaf dan kebahagiaan masa pengantin baru bisa berantakan karena persepsi kita tidak baik. Akibatnya, kita mudah menaruh “kecurigaan” manakala kita menjumpai hal-hal yang tidak mengenakkan. Ini dapat menjadi sebab munculnya bibit perselisihan yang bersifat latent (tersembunyi).3

Karena itu, pengantin baru perlu belajar menjaga persepsi terhadap apa yang dilakukan oleh suami atau istrinya. Jika tidak, bersama keindahan itu akan tumbuh penyakit yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika masa pengantin baru telah lewat.

Ada hal lain yang kita butuhkan di masa pengantin baru, yaitu penerimaan yang tulus. Penerimaan dari kedua pihak. Bukan suami saja atau istri saja. Sederhana bukan? Ya, sederhana. Sangat sederhana menuliskannya. Jauh lebih sederhana daripada mengamalkannya.

bersambung…

Kado Pernikahan

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s