Menjadi Hamba Rabbani – “Hubungan Iman dengan Kerabbanian”

Ibnul Qayyim r.a berkata, “Hati terbagi menjadi tiga macam. Pertama, hati yang hidup, yakni yang berhubungan dengan Allah. Kedua, hati yang mati, yakni yang tidak ada kehidupan di dalamnya; dan ketiga, hati yang hidup namun terdapat penyakit di dalamnya. Hati jenis ketiga ini berisi dua unsur yang silih berganti menguasainya. Di dalamnya terdapat cinta, iman, ikhlas dan sikap tawakal kepada Allah, yang semuanya merupakan materi untuk kehidupannya. Namun, di dalamnya juga terdapat kecintaan, pengutamaan dan keinginan untuk menikmati syahwat, hasad, sombong, ujub dan senang mendapatkan kedudukan, yang kesemuanya menghantarkan kepada kebinasaan dan kehancurannya. Hati jenis ketiga ini diuji dengan dua penyeru. Penyeru pertama mengajaknya kepada Allah, rasul-Nya serta Hari Akhir, dan penyeru kedua mengajaknya kepada kesenangan yang sementara dan fana. Namun, hati jenis ini memenuhi ajakan yang paling dekat dengannya.”

Ibnu Qayyim melanjutkan, “Sebagaimana anggota tubuh diharapkan dalam kondisi baik, demikian juga dengan hati. Ia juga diharapkan selalu dalam kondisi yang sehat dan baik, sehingga dapat menerima apa yang disiapkan untuknya dan tujuan ia diciptakan. Tidak sehatnya hati bisa jadi karena ia kering dan keras. Sebagaimana tangan yang lumpuh dan lidah yang kelu, bisa juga karena ada penyakit dan cacat di dalamnya sehingga menghalanginya melakukan segala hal yang baik dan benar.”

Hal ini berarti adanya keimanan di dalam hati tidak automatik membuat pemiliknya menjadi hamba rabbani. Dia harus membebaskan hatinya dari kekangan hawa nafsu dan membersihkannya dan berbagai penyakit, sehingga hati terlahir dengan sempurna kemudian memulai perjalanannya menuju Allah swt.

Sifat rabbani merupakan sifat khusus bagi orang-orang yang memiliki keimanan. Mereka dapat mencapai sifat tersebut ketika memenuhi syarat-syaratnya. Setiap orang yang merenungi rangkaian kata-kata di dalam al-Qur’an, akan mendapati suatu tuntutan bagi orang-orang Mukmin untuk menghidupkan hatinya.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (al-Anfal [8]: 24).

Al-Qur’an juga menanyakan ketidakkhusyukan hati mereka kepada Allah swt, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (al-Hadid [57]: 16).

Hal ini menunjukkan bahawa masuknya iman ke dalam hati seseorang, harus diikuti dengan usaha yang terus-menerus untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan bumi (hawa nafsu)’ dan memulai perjalanan yang sesungguhnya menuju Allah swt. Dengan demikian, sedikit demi sedikit dia pun akan mendekat kepada-Nya hingga menjadi hamba yang rabbani.

Dr Majdi Al-Hilali

Advertisements
This entry was posted in Menjadi Hamba Rabbani, MUTIARA DA'WAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s