“Tatanan Rumah Islami – Aturan Ketiga”

ADAB MERENDAHKAN SUARA, MENJAGA
RAHSIA DAN TIDAK MEMBUAT GADUH
Dimanapun suatu keluarga hidup, dia akan mempunyai tetangga, rakan sepergaulan, dan kerabat yang hidup disekitarrnya, satu atau lebih. Dari sinilah ditekankan untuk memperhatikan hak-hak mereka, yaitu tidak saling mengganggu satu terhadap yang lainnya. Diantara ketidakselesaan yang paling mengganggu di dalam rumah, adalah suara yang keras.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah sebagian dari kamu terhadap yang lainnya saling mengeraskan suara dalam membaca al-Qur’an”. (Hadits shahih riwayat Imam Malik dan Abu Daud).

Larangan diatas adalah terhadap al-Qur’an maka dalam masalah yang lainpun kita tidak boleh mengganggu.

Dalam rumah yang Islami, penghuninya tidak akan mendengar hal-hal yang menyakitkan, menyinggung perasaan, atau sesuatu yang mengacaukaan suasana dan membuat gaduh. Begitu pula tetangganya akan merasa aman, tidak terganggu oleh kegaduhan dan tidak pernah mendengar hal-hal seperti diatas.

Pada praktiknya, hal-hal yang menyebabkan berlaku pergaduhan cukup banyak sekali. Terkadang mendengar radio atau television dengan volume yang terlalu kuat, sehingga mengganggu anggota keluarga yang lainnya, bahkan tetangganya. Terkadang pula dari suara bacaan yang keras yang tidak mempedulikan orang lain, sehingga mengganggu yang lainnya. Adakalanya pula disebabkan oleh perdebatan keluarga dengan suara yang keras, yang tak memperhatikan adab dan etika. Atau disebabkan oleh tangisan anak kecil yang dibiarkan begitu saja. Atau disebabkan oleh suara perempuan yang terlalu keras, sehingga terdengar oleh tetamu yang datang, atau tetangga. Semua itulah hal­-hal yang tidak diinginkan, dan terkeluar dari etika Islam.

Imam Hasan al-Banna, dalam salah satu wasiatnya berkata, “Jangan keraskan suaramu melebihi keperluan si pendengar, kerana hal yang demikian itu adalah perbuatan bodoh dan mengganggu orang lain”.

Suara yang keras daiam berbantah-bantahan, tertawa dengan gelak tawa yang terbahak-bahak adalah pengaruh dari kebodohan diri, serta menunjukkan bahwa orang tersebut tidak beradab dan lepas dari ikatan-ikatan syari’ah. Suara yang keras dalam berbicara dapat membuat orang lain tersinggung, kerana hal itu menunjukkan sikap yang tidak sopan dan tidak menghormati pendengar atau lawan bicaranya. Hal yang seperti itu menyebabkan dia menyimpang dari etika dan adab berbicara yang dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW.

Adab yang luhur, yang mesti diperhatikan, terutama oleh kaum wanita, adalah pentingnya mengendalikan suara. Sebagian ulama memandang, bahawa suara wanita itu adalah aurat, apabila berbicara diluar kepentingan dan keperluan, atau berbicara dengan gaya yang menarik perhatian laki-laki.

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang balk”. (QS. Al-Ahzab: 32)

Yang dimaksud dengan lunak dalam berbicara, adalah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang lain untuk berbuat yang tidak baik terhadap mereka.

Orang-orang yang mengetahui keutamaan diri selalu memperhatikan kesopanan, mereka berusaha mendidik isteri-isterinya supaya suara mereka tidak terdengar oleh tamu atau tetangganya. Begitupula wanita-wanita yang mempunyai keutamaanm, berusaha untuk menjaga sikap seperti itu. Bahkan ada sebahagian dari mereka membiasakan untuk menjawab ketukan pintu tetamu lelaki, dengan memukul pintu, sebagai isyarat agar si tetamu mengutarakan maksud kedatangannya, dan dia mendengarkan tanpa menjawab sedikitpun juga. Cara ini agak menyulitkan sehingga tidak menjadi tabiat umum, tetapi hal yang demikian menurut ahli kesempurnaan adalah sikap yang dianjurkan dan sikap yang balk.

Suatu hal yang kadang terjadi antara tetangga adalah, pertengkaran anak-anak, pertengkaran tersebut adakalanya melarat sampai kepada para ibu, bahkan sampai melibatkan orang tua. Atau antara kaum-kerabat, sehingga tali silaturahmi pun terputus. Semua itu adalah akibat dari kurang berfikir panjang dan kurangnya pendidikan anak. Kalaulah pendidikan anak itu memadai, pertengkaranpun tidak akan terjadi, begitu pula jika para ibu berfikir panjang, maka pertengkaran pun tidak akan merembet sampai ke orang tua.

Menyakiti tetangga adalah dosa besar yang mengakibatkan pelakunya masuk neraka. Dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA dinyatakan,

“Telah berkata seorang Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulanah itu sering melaksanakan solat, shaum dan shadaqah, hanya dia suka menyakiti tetangganya dengan ucapannya. Rasulullah SAW berkata, “Dia termasuk ahli neraka”. Kemudian orang tersebut berkata lagi, “Ya Rasulullah, bahawasanya si fulanah itu shaumnya, shadaqahnya, dan shalatnya sangat sedikit sekaii, kalaupun bershadaqah hanya dengan sepotong aqat (susu yang dimasamkan don dipadatkan) akan tetapi dia tidak pernah menyakiti tetangganya dengan lisannya”. Rasulullah SAW berkata, “Dia termasuk ahli syurga”. (HR Imam Ahmad).

Menyakiti tetangga boleh berupa mengganggu mereka dengan kerosakan yang kita buat, menaruh daun atau kotoran di jalanan mereka, atau rumah mereka. Atau kita tidak memperhatikan dan mempedulikan keadaan mereka, seperti kita menampakkan kegembiraan disaat mereka berduka, atau berduka, atau bersikap acuh ketika mereka mendapat kegembiraan. Atau hal-hal lain yang dapat mengganggu ketenangan mereka.

Memperhatikan hal diatas, hendaklah kelurga muslim memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Apabila kaum wanita mempunyai keperluan terhadap anggota keluarganya yang lelaki, sedangkan mereka tengah menghadapi tetamu, hendaklah dia mengetuk pintu sebagai pengganti dari panggilan.
  2. Jika pintu diketuk orang, dan di rumah tersebut ada lelaki, maka merekalah yang harus menjawab ketukan pintu tersebut, jika tidak ada lelaki maka wanita dibolehkan menjawab ketukan itu dengan jawaban yang pendek, serta dengan suara yang tegas, suara yang tidak menampakkan kemerduaannya.
  3. Apabila berbincang-bincang, baik antara orang tua, atau antara anak­-anak, atau antara anak dan orang dewasa, hendaklah dengan suara yang wajar. Dan hal yang mesti diperhatikan oleh anggota keluarga adalah hendaklah mereka membiasakan berkata dengan bahasa yang halus, sebagai tindakan pengawalan terhadap suara yang keras, balk dalam diskusi, berbincang atau dalam memanggil.
  4. Hendaklah anggota keluarga menjauhkan hal-hal yang akan menimbulkan kegaduhan, suara yang keras, atau sesuatu yang akan menyakiti.
  5. Jika dimungkinkan, tidak menggunakan alat yang membuat bising dalam memenuhi keperluan rumahtangga.
  6. Jangan bersikap tidak peduli terhadap anak, jika mereka menangis.
  7. Hal yang perlu dibiasakan oleh anggota keluarga muslim adalah menjaga rahsia. Tidak semua hal yang terjadi dalam rumah mesti diceritakan oleh anggota keluarga. Hal yang paling ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam masalah ini, adalah tidal bolehnya suami isteri menceritakan kepada orang lain, hal-hal khusus yang terjadi antara mereka berdua. Dan dalil yang melarang perbuatan tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud,

“Sejelek-jelek kedudukan manusia disisi Allah pada hari kiamat adalah suami isteri yang melakukan hubungan seksual kemudian menyebarluaskannya”.

Hadith diatas merupakan satu rambu dari rambu-rambu pembentukan rumah yang Islami. Sering terjadi, apabila sebahagian wanita berkumpul, mereka membicarakan hal-hal peribadi yang terjadi antara mereka dan suami mereka, yang sebenarnya tidak pantas untuk dikemukakan di depan umum. Atau hal-hal yang termasuk “laghu” atau perkataan yang jelek. Hal demikian adalah merupakan aib yang sangat besar,

Sering pula terjadi sebagian anggota keluarga mengungkapkan aib yang terjadi di dalam rumah, yang tidak enak untuk didengar, atau mengungkap kejelekan anggota keluarga lain yang apabila terdengar akan sangat menyinggung mereka. Hal-hal yang seperti inilah yang perlu diwaspadai oieh anggota keluarga muslim, sebagaimana mereka dituntut untuk merendahkan suara dan menjaga rahsia.

Wallahu’alam
Almarhum Syeikh Sa’id Hawwa

Advertisements
This entry was posted in PEMBANGUNAN KELUARGA, Tatanan Rumah Islami. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s