Puasa – “Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan)”

Dianjurkan mencari Lailatul Qadar, sebab ia adalah malam yang mulia, penuh berkah dan amat agung. Ada harapan doa terkabul pada malam tersebut. Ia adalah malam yang paling utama, bahkan melebihi malam Jumaat.[1]

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (al-Qadr: 3)

Ertinya solat tahajjud dan amal lain pada malam tersebut lebih baik daripada amal dalam seribu bulan yang tidak berisi malam kemuliaan tersebut. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa menunaikan solat Tahajjud pada Malam Kemuliaan dengan penuh keimanan dan keinginan untuk mendapatkan pahala dari Allah, nescaya diampuni dosanya yang telah lampau”[2]

Diriwayatkan dari Aisyah r.a bahawa apabila telah tiba sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi saw biasanya menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan menjauhi hubungan badan dengan isteri.[3]

Dalam riwayat Ahmad dan Muslim disebutkan, bahawa Nabi saw, biasanya semakin giat beribadah pada sepuluh hari terakhir melebihi malam-malam lain.

Malam Kemuliaan terdapat pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam gasal (ganjil). Sebab, Nabi saw pernah bersabda; “Carilah Malam Kemuliaan itu pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, terutama setiap malam gasal.”[4]

Pendapat yang paling kuat adalah bahawa Lailatul Qadar itu bertepatan dengan malam tanggal 27 Ramadhan. Ubai bin Ka’ab berkata, “Demi Allah, sebetulnya Ibnu Mas’ud tahu bahawa Lailatul Qadar itu bertepatan dengan malam tanggal 27 di bulan Ramadhan. Hanya sahaja, dia tidak mahu memberitahukannya kepada kalian. Sebab, dia tidak ingin kalian menggantungkan harapan kepada amal pada malam itu sahaja.”[5]

Diriwayatkan dari Mu’awiyah bahawa Nabi saw pernah bersabda tentang Lailatul Qadar, “(Ia bertepatan dengan) malam tanggal 27.”[6]

Ini diperkuatkan dengan perkatan ibnu Abbas, “Surah al-Qadr terdiri atas tiga puluh kata, dan kata yang ke-27 adalah hiya (malam itu).”[7]Ahmad meriwayatkan sebuah hadith dari Ibnu Umar dengan sanad yang shahih, “Barangsiapa ingin mendapatkan Lailatul Qadar, hendaknya dia mencarinya pada malam tanggal 27”. Atau dia berkata, “Carilah Lailatul Qadar pada malam tanggal 27.”

Ada hikmah tersendiri mengapa tidak dijelaskan malam keberapa Lailatul Qadar itu, iaitu agar kaum Muslimin berusaha mencarinya, bersungguh-sungguh dalam beribadah, dengan harapan mendapatkan malam kemuliaan tersebut. Hal ini sama dengan tiadanya penjelasan tentang yang mana sebetulnya nama-Nya yang paling agung di antara nama-nama-Nya, keredhaan-Nya kepada amal-amal kebajikan, dan sebagainya.

Dianjurkan seorang Mukmin berdoa begini pada malam tersebut, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan. Kerana itu, maafkanlah kesalahanku.” Hal ini didasarkan atas riwayat Aisyah r.a, bahawa dia pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, jika kebetulan saya berjumpa Lailatul Qadar, doa apa yang sebaiknya saya ucapkan pada saat itu?” Baginda bersabda,  “Ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan. Kerana itu, maafkanlah kesalahanku.”[8]

Adapun tentang tanda-tanda Lailatul Qadar, yang masyhur adalah yang diriwayatkan oleh Ubai bin Ka’ab dari Nabi saw. “Matahari terbit pada pagi hari itu putih tanpa sinar.”

Dalam sebagian hadith dikatakan, “…putih, berbentuk seperti baskom.”

Dalam riwayat lain dari Nabi saw.,
“Pertanda Lailatul Qadar adalah malam itu cerah bagaikan ada bulan yang bersinar; suasana malam itu tenang, tidak dingin dan tidak panas; serta bintang tidak dipakai untuk melempari setan sampai pagi hari. Pertanda lainnya adalah matahari terbit pada pagi harinya dengan bulat, tidak memancarkan sinar, seperti bulan purnama. Pada hari itu setan tidak diizinkan keluar.”

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadith marfu` dari Ibnu Abbas, “Malam Lailatul Qadar itu cerah, tidak panas dan tidak dingin. Pada paginya matahari berwarna merah dan bersinar lemah.”

Dalam hadith Ubadah yang diriwayatkan Ahmad, “Malam itu tidak panas dan tidak dingin. Malam itu tenang dan cerah, dan bulannya bersinar terang.”

Ada beberapa hadith mengenai tanda-tanda Lailatul Qadar, antara lain hadith Jabir bin Samurah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, hadith Jabir bin Abdullah dan Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, hadith Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan lain-lain.

Syeikh Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili
(Fiqih Islam Wa Adillatuhu)


[1] Al-Muhadzdzab (1/189); al-Majmuu’ (6/492 – 503); al-Mughnii (3/178 – 183); Kasysyaaful Qinaa’ (2/401 – 404).

[2] Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’I dari Abu Hurairah.

[3] Muttafaq ‘alaih (Nailul Authaar 4/270)

[4] Muttafaq ‘alaih, dari riwayat Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Dzar.

[5] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dinyatakannya shahih.

[6] Diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu’. Kemungkinan terbesarnya adalah riwayat ini mauquf dari Muawiyah, tapi riwayat ini berstatus marfu’ (Subulus Salaam, 2/176)

[7] Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baarii, “Ada empat puluh pendapat tentang malam keberapa sebetulnya Lailatul Qadar itu. Pendapat yang paling kuat adalah Lailatul Qadar jatuh pada malam gasal di sepuluh hari terakhir, hanya saja dia berubah-ubah setiap tahun.” Sementara itu, ash-Shan’ani berkata, “Pendapat yang paling kuat adalah Lailatul Qadar jatuh pada tujuh hari terakhir.” Ibid.

[8] Diriwayatkan oleh lima perawi hadith (Ahmad dan para pengarang kitab Sunan) kecuali Abu Dawud. Hadith ini dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim. Ibid..

Advertisements
This entry was posted in FIQIH ISLAM, PUASA & I'TIKAF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s