Menjadi Hamba Rabbani – “Kelahiran Kedua bagi Hati”

Dari paparan di atas, menjadi jelas bahawa permulaan untuk mencapai hakikat rabbani dimulai dengan terlahirnya hati yang bebas dari tawanan hawa nafsu. Apabila kelahiran tersebut sempurna, hati akan memulai perjalanan yang hakiki menuju Allah.

Ibnu Qayyim dalam Madarik ash-Shalihin berkata, “Di alam ini, ruh mempunyai dua pertumbuhan. Pertama, pertumbuhan alami yang bersamaan dengan pertumbuhan tubuh; kedua, pertumbuhan hati yang bersifat ruhani. Dengan pertumbuhan yang kedua ini, hati terlahir dan terlepas dari placenta tabiatnya, seperti tubuhnya yang terlahir dan terlepas dari placenta-nya. Orang yang tidak memercayai hal ini, mengabaikannya dan menyibukkan diri dengan hal lain.”

Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd berkata, “Sesungguhnya  Isa al-Masih pernah berkata kepada para sahabat dekatnya, “Sesungguhnya kalian tidak akan masuk ke dalam kerajaan langit hingga kalian terlahir dua kali.”

Ibnu Qayyim melanjutkan kata-katanya, “Aku juga mendengar Syeikh Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Kelahiran kedua ini adalah terlahir dan keluarnya ruh serta hati dari tubuh dan dari alam tabiat, sebagaimana terlahir dan keluarnya satu tubuh dari tubuh yang lain sebagaimana telah diketahui oleh orang-orang.” Wallahu’alam.

Benar, tidak ada alternatif lain bagi orang yang menginginkan kehidupan bagi hatinya selain kelahiran kedua.

“Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (al-An’am [6]: 122).

Terlepasnya hati dari badan, bukan berarti seseorang mengabaikan dan tidak berinteraksi dengan dunia sama sekali. Akan tetapi, tidak adanya ketergantungan kepada dunia, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw, makhluk yang paling sempurna dan hamba terbaik dalam menyembah Allah. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri dan dengan orang-orang di sekitarnya.

Ibnu al-Jauzi dalam Shaid al-Khathir mengatakan, “Orang yang merenungi kondisi Rasulullah, nescaya dia akan melihat seorang hamba yang sempurna, yang memberikan hak kepada semua yang berhak mendapatkannya. Terkadang dia bergurau, tertawa, bercanda dengan anak-anak kecil, mendengar syair, berbicara di tempat-tempat ramai, pandai bergaul dengan isteri-isterinya, makan dengan apa yang tersedia hingga makanan yang nikmat, seperti madu, dia juga menikmati segarnya air, dan jika dibentangkan peneduh baginya, dia pun tidak menolaknya.”

Ibnu Rajab menguatkan hal ini dengan mengatakan, “Setiap berzikir, kondisi Rasulullah berubah. Setelah itu beliau kembali berbaur dengan orang-orang dan menunaikan hak-hak mereka.”

Jabir r.a berkata, “Saat wahyu turun, nabi Muhammad saw adalah pemberi peringatan bagi manusia. Namun setelah itu, dia adalah periang yang banyak tersenyum dan paling baik akhlaknya. Pada suatu hari aku bertanya kepada `Aisyah ra, `Bagaimana kondisi Rasulullah saw jika bersama isteri-isterinya?’ Aisyah r.a menjawab, “Beliau sebagaimana kaum lelaki di antara kalian. Hanya saja beliau adalah orang yang paling dermawan, paling baik akhlaknya dan banyak tersenyum’.” (HR. Al-Bazzar).

Demikian juga dengan kondisi para sahabat. Setiap orang yang mengamati perjalanan hidup mereka, dia akan mendapati bahawa mereka tidak meninggalkan kehidupan dunia, mereka gemar beribadah akan tetapi tidak menjauhi orang-orang. Mereka menjalani hidupnya secara alami. Mereka makan dari makanan yang baik-baik, berbincang-bincang, tertawa, bercanda dengan isteri-isteri mereka dan bermain dengan anak-anak mereka. Mereka berinteraksi sosial dengan jasad mereka dan berinteraksi dengan Allah dengan hati mereka.

Abu Nu’aim meriwayatkan dari Qatadah, “Pada suatu hari seseorang bertanya kepada Ibnu Umar, Apakah para sahabat Nabi saw tertawa?’ Dia menjawab, “Ya, dan keimanan di dalam hati mereka lebih besar dari pada gunung.”

Para sahabat lebih unggul dibanding orang-orang setelah mereka, karena kuatnya hubungan dan kedekatan mereka dengan Allah swt, eratnya hubungan dan rasa senangnya mereka kepada akhirat, serta tidak terkekangnya mereka oleh dunia, karena dunia ada di genggaman mereka.

Renungilah kata-kata Abdullah bin Mas’ud ra ketika berbicara tentang para shahabat, “Kalian lebih banyak menunaikan puasa dan solat serta lebih bersungguh-sungguh dari para sahabat Rasulullah. Akan tetapi mereka lebih baik dari kalian”. Orang-orang pun bertanya, “Mengapa demikian wahai Abu Abdurrahman—panggilan Abdullah Ibnu Mas’ud?” Dia menjawab, “Mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih senang dengan akhirat’.”

Dr Majdi Al-Hilali

Advertisements
This entry was posted in Menjadi Hamba Rabbani, MUTIARA DA'WAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s