Menjadi Hamba Rabbani – “Definisi Fitrah”

Allah menciptakan hati manusia dengan kecenderungan alami, yakni memenuhi seruan iman. Kecenderungan inilah yang disebut dengan fitrah.

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (ltulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Rum [30]: 30).

Dengan fitrah inilah seluruh manusia memulai hidupnya di dunia. Namun, sedikit demi sedikit ia surut mundur ke tempat hawa nafsu berpaut. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR Bukhari-Muslim).

Jika sejak semula seorang hamba membiarkan hatinya tanpa pengarahan, perasaannya sangat mudah berjalan ke arah yang diinginkan nafsu. Jika nafsu yang lebih disukai, maka semua yang diinginkannya pun disukai pula. Sehingga sedikit demi sedikit hati menjadi terbiasa memenuhi ajakan hawa nafsu, dan pengaruh iman pun sedikit demi sedikit melemah. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka hati akan dikuasai oleh nafsu, kehendaknya dirampas dan ia akan menjadi tawanan nafsunya; menurut dan menaatinya.

Ketika Allah memberi anugerah kepada hamba-Nya dengan memasukkan iman ke dalam hatinya, bukan berarti dia mempunyai kebebasan penuh atas kehendaknya, dan hatinya keluar dari tawanan nafsu. Akan tetapi, ini berarti mulai kembali kehidupan hati untuk memulai perseteruan antara iman dan hawa nafsu dalam memperebutkan keputusan yang diambil oleh hati. Apabila seorang hamba terus mendapatkan bantuan dari hatinya, yang menguatkan keimanannya dan terus berjihad melawan nafsunya, perlahan-lahan dia akan terlepas dari tawanan nafsu tersebut, hingga kebebasannya benar-benar sempurna. Lalu terlahirlah kembali hati yang hidup dan berhubungan dengan Allah swt.

Hudzaifah bin Yaman meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Satu persatu fitnah terus dihadapkan kepada hati, bagaikan tangkai-tangkai di dalam tikar yang terbentang. Setiap hati yang terasuki oleh fitnah, akan dituliskan padanya satu titik hitam. Sedangkan hati yang menolaknya, dituliskan titik putih padanya, hingga hati manusia menjadi dua macam, yaitu hati yang hitam bagaikan wadah air yang terbalik; is tidak menerima kebaikan, tidak menolak kemungkaran dan hanya mengikuti hawa nafsu yang masuk ke dalamnya, dan hati putih yang tidak dipengaruhi oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada.” (HR. Muslim).

Hati yang hidup dan terbebas dari kekuasaan hawa nafsu terkadang juga bisa lalai. Hal itu merupakan tabiat manusia. Kelalaian tersebut dimanfaatkan oleh nafsu dan syaitan untuk menghalanginya dad jalan Allah. Namun, dia cepat menyadarinya dan mengejar apa yang terlewatkan darinya. Bahkan, terkadang hati kembali dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A`raf [7]: 201)

Dr Majdi Al-Hilali

Advertisements
This entry was posted in Menjadi Hamba Rabbani, MUTIARA DA'WAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s