Puasa – “Keutamaan Bulan Ramadhan”

Keutamaan Bulan Ramadhan
Ramadhan adalah bulan yang paling mulia. Pada bulan inilah permulaan turunnya Al-Quran. Dia adalah bulan ketaatan, ibadah, dan perbuatan baik. Dia juga bulan ampunan, rahmat dan keredhaan. Dalam bulan ini terdapat Lailatul Qadar (malam kemuliaan) yang lebih baik daripada seribu bulan. Dengan sarana bulan ini, seorang mukmin memperbaiki perilaku keagamaannya dan menata urusan duniannya. Pada bulan ini banyak kesempatan bagi terkabulnya doa.

Banyak hadith Nabi saw, yang menyebutkan keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan berpuasa di dalamnya, di antaranya sebagai berikut:-

1.      Sabda Nabi saw, “Bulan paling utama adalah bulan Ramadhan, dan hari paling utama adalah hari Jumaat”.[1]

“Seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan Ramadhan, nescaya dia berharap bulan Ramadhan itu sepanjang tahun.”[2]

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ubadah bin Shamit bahawa pada suatu hari, ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw bersabda,

“Bulan Ramadhan yang penuh berkah telah datang. Dalam bulan ini Allah melimpahkan rahmat kepada kalian, menghapus kesalahan, dan mengabulkan doa. Allah Ta’ala memerhatikan perlumbaan kalian di dalamnya, dan Dia membanggakan kalian kepada para malaikat-Nya. Kerana itu, perlihatkanlah giatnya diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang sengsara adalah yang tidak mendapatkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla dalam bulan ini.”

2.      Sabda Nabi saw, “Apabila bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan dibelenggu”.[3]

3.      Sabda Baginda, “Solat lima waktu, solat Jumaat hingga solat Jumaat berikutnya, dan bulan Ramadhan hingga bulan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang dilakukan di sela-selanya, asalkan dosa-dosa besar dijauhi”.[4]

4. Sabda Baginda, “Setiap amal manusia dilipat-gandakan pahalanya. Satu amal kebaikan diberi pahala sepuluh, sampai tujuh ratus kali ganda. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, sebab puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang memberi pahala atasnya. Kerana, demi Akulah orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makanannya’. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan; ketika berbuka dan ketika bertemu Tuhannya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum menurut Allah daripada aroma minyak misk.”[5]

Dalam sebuah riwayat at-Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya Tuhan kalian berfirman, ‘Setiap amal kebaikan diberi pahala sepuluh kali ganda, sampai tujuh ratus kali ganda. Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan memberi pahala atasnya.’ Puasa adalah pelindung[6] dari api neraka, dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum menurut Allah daripada bau minyak wangi. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa lalu dia diganggu oleh seseorang, hendaklah dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa!”

5. Sabda Baginda, “Barangsiapa menunaikan solat Tahajud di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keinginan untuk mendapatkan pahala dari Allah, nescaya dosanya yang telah lampau diampuni.”[7]

Ertinya, barangsiapa menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan solat Tarawih atau dengan kegiatan lain (seperti zikir, istighfar, dan membaca Al-Quran) kerana mempercayai pahala yang dijanjikan oleh Allah, serta berharap mendapat ganjaran dari Allah swt semata-mata dengan menunaikan amalnya secara ikhlas kerana-Nya, tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, nescaya dosa-dosanya akan diampuni. Hanya sahaja, dosa yang berkaitan dengan hak-hak sesama manusia bergantung pada pemberian maaf dari pihak yang bersangkutan.

6. Diriwayatkan dari Salman r.a, ia berkata, “Rasulullah saw pernah menyampaikan khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban. Baginda bersabda, “Wahai saudara-saudara sekalian, bulan yang agung dan penuh berkah sudah hampir tiba, bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, bulan yang puasanya ditetapkan oleh Allah sebagai kewajipan dan solat tahajjudnya sebagai ibadah sunnah. Barangsiapa melakukan sebuah amal sunnah di dalamnya, maka dia seperti orang yang menunaikan sebuah amal fardhu di luarnya; dan barangsiapa melakukan sebuah amal fardhu di dalamnya, maka dia terhitung seperti orang yang menunaikan tujuh puluh amal fardhu di luarnya. Dia adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah syurga. Dia adalah bulan penghiburan (kepada kaum miskin). Pada bulan tersebut rezeki seorang mukmin bertambah. Barangsiapa memberi buka kepada seseorang yang berpuasa, nescaya dosa-dosanya akan diampuni, dirinya akan dibebaskan dari neraka, dan dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya.”

Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah , tidak semua orang punya harta untuk memberi buka kepada orang yang berpuasa!”

Rasulullah saw bersabda, “Allah memberi pahala ini kepada siapa pun yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma, seteguk air putih, atau campuran susu. Bahagian awal bulan ini adalah rahmat, bahagian tengahnya adalah ampunan dosa, dan bahagian akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barangsiapa memberi budaknya keringanan dari pekerjaan pada bulan ini, nescaya Allah akan mengampuni dosanya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah melakukan empat perkara dalam bulan ini, dua di antaranya untuk membuat Tuhan kalian redha, dan dua lagi pasti kalian perlukan. Dua perkara untuk membuat Tuhan kalian redha adalah mengucapkan syahadah ‘Laa ilaaha illa-llah (tiada tuhan selain Allah) dan beristighfar, sedangkan dua perkara yang kalian pasti perlukan adalah memohon syurga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, nescaya Allah akan memberinya minum dari telagaku, sehingga dia tidak akan haus lagi sampai dia masuk syurga.”[8]

Syeikh Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili
(Fiqih Islam Wa Adillatuhu)


[1] Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir dari Abdullah bin Mas’ud. Sanadnya terputus (Majma’uz Zawaa’id 3/140).

[2] Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir, Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dan al-Baihaqi dengan sanadnya dari Abu Mas’ud al-Ghifari. Salah seorang perawi dalam sanadnya diragukan ke-tsiqah-annya (at-Targhiib wat –Tarhiib 2/102); Majma’uz Zawaa’id 3/141).

[3] Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah (at-Targhiib wat-Tarhiib 2/97)

[4] Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah (at-Targhiib wat-Tarhiib 2/92)

[5] Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. Khuluuf ertinya perubahan bau mulut menjadi tidak sedap (at-Targhiib wat-Tarhiib 2/81)

[6] Junnah ertinya sesuatu yang menghalangi dan melindungi dari perkara yang ditakuti. Makna hadith ini; puasa melindungi dan menjaga pelakunya agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan maksiat.

[7] Muttalafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Bukhari dan lain-lain dari Abu Hurairah. Ihtisaaban ertinya mencari keredhaan Allah dan pahala dari-Nya.

[8] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, lalu dia berkomentar, “Hadith ini shahih”. Dia meriwayatkan dari jalur Baihaqi. Abusy Syaikh Ibnu Hayyan juga meriwayatkannya dalam ats-Tsawaab secara ringkas dari mereka berdua (at-Targhiib wat-Tarhiib 2/94 – 95).

Advertisements
This entry was posted in FIQIH ISLAM, PUASA & I'TIKAF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s