Puasa – “Faedah Puasa”

Faedah Puasa
Faedah puasa amat banyak, baik dari aspek rohani mahupun jasmani; diantaranya adalah seperti berikut:-

Puasa merupakan bentuk ketaatan kepada Allah swt. Seorang mukmin mendapatkan pahala terbuka yang tiada batasnya, sebab puasa adalah untuk Allah swt, dan kurniaan Allah amat luas. Dengan puasa seseorang mendapat keredhaan Allah swt, berhak masuk syurga melalui pintu yang khusus disediakan bagi orang-orang yang berpuasa, yang disebut dengan pintu ar-Rayyan.[1]

Orang yang berpuasa menjauhkan dirinya dari azab Allah swt, yang akan menimpa akibat maksiat-maksiat yang kadang ia lakukan. Puasa merupakan kafarat (penghapus) dosa dari tahun ke tahun. Dengan melakukan ketaatan kepada Allah, seorang mukmin dapat beristiqamah di atas kebenaran yang disyariatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebab puasa merealisasikan takwa yang asasnya adalah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larang-larangan Tuhan. Allah Ta’ala, berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Puasa merupakan training center terbesar bagi akhlak. Di sana seorang mukmin melatih diri dengan berbagai budi pekerti. Sebab, puasa adalah melawan hawa nafsu dan dorongan-dorongan syaitan yang terkadang menggodanya. Dengan puasa, seseorang berlatih sabar dalam menahan diri dari sesuatu yang terlarang dan berlatih mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Terkadang dia melihat makanan yang lazat di masak di hadapannya, aroma masakan membuat air liurnya mengucur, dan air jernih yang segar terlihat amat menarik di matanya, tapi dia menahan diri, menunggu waktu untuk boleh menyantapnya.

Puasa mengajarkan sifat amanah dan menumbuhkan perasaan diawasi oleh Allah Ta’ala dalam keadaan sepi mahupun ramai. Sebab, kecuali Allah tidak ada yang mengawasi apakah orang yang berpuasa itu benar-benar menahan diri dari makan-minum atau tidak.

Puasa menguatkan kehendak, mengasah tekad, dan memupuk kesabaran. Puasa juga membantu penjernihan fikiran serta penciptaan idea-idea cemerlang, apabila orang yang berpuasa telah melampaui fasa kelesuan dan melupakan gejala-gejala kelemasan yang terkadang di alaminya. Luqman pernah berkata kepada putranya, “Anakku, apabila lambung terisi penuh, fikiran menjadi tumpul, hikmah menjadi bisu, dan organ-organ tubuh menjadi malas untuk beribadah”.

Puasa mengajarkan keteraturan dan kedisiplinan, sebab dia mengharuskan orang yang berpuasa untuk makan dan minum pada waktu yang sudah ditentukan. Puasa juga menciptakan rasa persatuan di antara kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Mereka semua berpuasa dan berbuka pada waktu yang sama, sebab Tuhan mereka sama dan ibadah mereka pun sama.

Puasa menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan, menciptakan rasa solidaritas dan ikatan saling menolong yang menghubungkan kaum Muslimin satu sama lain. Pengalaman akan rasa lapar dan kekurangan, misalnya, mendorong orang yang berpuasa untuk memberi bantuan kepada orang lain, menyumbang dalam mengentaskan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Dengan demikian, ikatan social di dalam masyarakat bertambah kukuh, dan setiap individu memberi sumbangsih dalam mengatasi kes-kes penyakit di dalam masyarakat.

Kenyataannya, puasa juga memperbaharui kehidupan individu dengan memperbaharui sel-sel tubuhnya, membuang sel-sel yang sudah haus, mengistirehatkan lambung dan alat pencernaan, memberi diet bagi tubuh, memusnahkan limbah yang mengendap dan makanan-makanan yang tidak tercerna di dalam tubuh, serta mengusir kebusukkan dan kelembaban yang ditinggalkan oleh makanan dan minuman. Nabi saw pernah bersabda,

“Berpuasalah, nescaya kalian sihat”.[2]

Tabib Arab, al-Harits bin Kaldah, berkata, “Lambung adalah sarang penyakit, dan diet adalah ubat yang paling ampuh”.

Puasa merupakan bentuk jihad melawan nafsu untuk membersihkannya dari kotoran-kotoran dan dosa-dosa duniawi, serta menurunkan gelora syahwat dengan cara mengatur makan dan minum. Nabi saw, pernah bersabda,
“Wahai para pemuda, siapa pun di antara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknya menikah. Sebab, pernikahan itu akan membuatnya lebih menjaga pandangan dan memelihara kemaluan. Dan siapa pun yang belum mampu menikah, hendaknya berpuasa. Sebab, puasa dapat mengurangi gejolak syawatnya”.[3]

Al-Kamal ibnul Hammam berkata, puasa adalah rukun Islam ketiga, setelah syahadah dan solat, yang disyariatkan Allah swt untuk menghasilkan beberapa manfaat, antara yang lainnya adalah:-

Pertama, puasa dapat menenangkan dorongan nafsu jahat, menurunkan gejolaknya dalam hal-hal tidak berguna yang berhubungan dengan seluruh organ tubuh, seperti mata, lidah, telinga, dan kemaluan. Dengan puasa, gerak semua organ tubuh akan melemah. Kerana itu, ada pepatah seperti berikut, “Jika nafsu lapar, semura organ akan kenyang, tetapi jika nafsu kenyang, semua organ akan lapar”

Kedua, puasa menumbuhkan rasa kasih sayang kepada orang-orang miskin. Dengan merasakan penderitaan akibat lapar selama beberapa waktu, seseorang akan teringat kepada orang lain yang sering menderita kelaparan. Akhirnya, timbul rasa kasih di hatinya lalu dia pun memberi bantuan, sehingga dia memperoleh pahala dari Allah swt.

Ketiga, ikut merasakan penderitaan yang terkadang dialami kaum fakir miskin. Hal ini akan meninggkatkan martabat seseorang di sisi Allah Ta’ala.

Pengarang kitab al-lidhaah menulis, “Ketahuilah, puasa adalah salah satu rukun agama yang paling besar, dan merupakan salah satu aturan syariat yang paling kukuh. Dengan puasalah dorongan nafsu jahat ditaklukkan. Puasa merupakan gabungan dari amalan hati dan penghindaran diri dari makan, minum dan hubungan badan sejak pagi hingga petang hari. Puasa adalah amal yang sangat utama, tapi paling berat bagi nafsu. Allah swt telah memuji puasa dalam sebuat ayat;

“Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim,.. laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa…” (al-Ahzaab: 35)

Syeikh Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili
(Fiqih Islam Wa Adillatuhu)


[1] Imam Bukhari, Muslim, an-Nasa’I, dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahawa Nabi saw bersabda, “Di syurga ada sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan. Pada Hari Kiamat hanya orang-orang yang berpuasa yang masuk syurga melalui pintu ini. Selain mereka tidak ada yang masuk lewat sana. Setelah mereka masuk, pintu ini di tutup, sehingga tidak ada lagi orang yang masuk lewat sana” (at-Targhiib wat-Tarhiib 2/82 – 83)

[2] Hadith hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Sinni dan Abu Nu’aim dalam ath-Thibb dari Abu Hurairah.

[3] Diriwayatkan oleh jamaah dari Ibnu Mas’ud. Lihat Nailul Authaar (6/99). Baa’ah ertinya biaya pernikaha. Wijaa’ ertinya melemahkan nafsu berahi.

Advertisements
This entry was posted in FIQIH ISLAM, PUASA & I'TIKAF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s