Menjadi Hamba Rabbani – “Pendahuluan”

“Ya Allah Zat Yang Maha Pemurah, berilah pertolongan dan kemudahan”

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Tuhan seluruh manusia yang terdahulu dan yang akan datang.

Selawat dan salam selalu dihaturkan kepada pemimpin para nabi dan rasul, Muhammad bin Abdullah, dan para sahabatnya.

Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi sosok yang dicintai dan diridai Allah swt? Sosok yang bersegera pergi ke masjid dan menunggu waktu salat berikutnya setelah menunaikan salat sebelumnya. Sosok yang bangun tengah malam untuk bermunajat dan menumpahkan air mata Sosok yang bersedekah dengan tangan kanan tanpa diketahui oleh tangan kiri; sosok yang ikhlas bersedekah. Sosok yang khusyuk dalam salatnya dan menghatiap Tuhan dengan sepenuh hati. Sosok yang banyak berdoa dan berzikir. Sosok yang tidak berambisi terhatiap dunia melainkan senang terhatiap akhirat. Sosok yang rida dengan qadha dan qaclar Allah. Sosok yang bergegas melakukan kebaikan, selalu membantu yang membutuhkan dan berusaha membela yang teraniaya. Sosok yang menyambung tali silaturahim dengan yang memutuskannya, memberi yang tidak mau memberi dan memaafkan yang menzalimi.

Ya, kita semua menginginkannya. Akan tetapi, sulit bagi kita merealisasikannya. Tatkala memulai solat, suasana dunia bermunculan di benak kita. Ketika mulai membaca al-Qur’an, hati kita berlarian menuju lembah-lembah kehidupan. Ketika membaca dan mendengarkan hal-hal yang wajib dilakukan, kita pun terpengaruh untuk melakukannya. Kita terbawa kemudian merasa sedih atas kondisi kita. Namun, tetap saja kita masih dalam kondisi semula, jauh dari sosok yang dicintai dan diredhai Allah. Kita berusaha mendiagnosa penyakit kita, akan tetapi kita tidak mampu meminum obatnya.

Apakah penyebab semua ini? Bukankah dalam hati kita terdapat iman? Lalu mengapa iman itu tidak mampu mendorong kita untuk melakukan amal soleh? Mengapa selama berabad-abad, perbuatan para shahabat, kalangan salaf dan orang-orang soleh dari umat ini, sesuai dengan ucapan mereka; sedangkan kita hanya berbicara, berangan-angan dan bermimpi, tapi tidak mampu menunaikannya?

Hal ini tentunya karena ada mata rantai yang terputus antara akal dan hati kita. Akal yang memiliki fungsi membaca, mendengar, dan merasa yakin, serta memberi isyarat kepada hati. Sementara hati yang dipengaruhi isyarat akal, seringkali tidak mampu memerintah anggota tubuh untuk menunaikannya. Tahukah Anda mengapa? Karena ia tertawan oleh hawa nafsu dan cinta dunia, serta terikat di bumi dan terkekang oleh syahwatnya.

Benar, di dalam hati terdapat iman kepada Allah dan Hari Akhir. Hal ini tampak dalam perbuatan baik yang kita lakukan. Kita juga dapat mengetahui dengan jelas kadar dunia di dalam hati kita, yakni melalui berbagai perbuatan yang memperlihatkan sejauh mana keterikatan kita dengan dunia.

Berdasarkan hal ini, saya katakan bahawa kita tidak akan mampu melakukan apa yang diinginkan dan diredhai Allah, kecuali jika kita membebaskan kehendak kita dan membersihkan hati dari belenggu kekuasaan hawa nafsu serta menyerahkannya kepada Allah semata.

“Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhatiap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’ [4]: 65)

Oleh karena itu, kita harus menundukkan nafs (jiwa) kita dan mengarungi peperangan untuk membersihkannya dari segala kotoran dunia dan syahwatnya, serta membebaskan hati untuk memulai hubungan yang hakiki dengan Allah swt.

Ibnu Mas`ud meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, Demi Zat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba menjadi Muslim, hingga dia menyerahkan hatinya kepada Allah swt. (HR. Ahmad).

Penyerahan hati dan hubungan yang terus-menerus dengan Allah inilah yang oleh para ulama disebut dengan rabbaniyyah. Dengan demikian, orang-orang yang rabbani adalah mereka yang memenangkan Allah atas hawa nafsunya, sehingga di dunia, Allah memberi mereka perlindungan, pembelaan, serta kebersamaan, dan ketika di akhirat nanti Allah akan memberi mereka keuntungan, berupa surga dan kedekatan dengan-Nya. Bila kita ingin menjadi bagian dari mereka, kita harus membebaskan hati dari hawa nafsu dan menghembuskan ruh ke dalamnya agar menjadi hati yang hidup, sehingga kita bisa memulai perjalanan menuju Allah swt.

“Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (al-An’am [6]: 122).

Tidak ada perjalanan menuju Allah kecuali dengan hati yang hidup. Walaupun kita membaca dan mendengar, serta terpengaruh oleh apa yang kita baca dan yang kita dengar, selama tidak memulainya dengan hati yang hidup, kita akan tetap seperti sebagaimana adanya, dengan meratapi kesedihan dan kesulitan yang kita alami.

Jika Anda katakan, “Aku yakin dengan apa yang engkau katakan, dan itu bukan hal baru. Akan tetapi pertanyaan yang terus menggelayut di fikiranku adalah bagaimana menerjemahkan kebenaran tersebut ke dalam realita?

Saudaraku, saya katakan sejujurnya. Pertanyaan Anda itu juga menggelayut di benak saya, dan itulah yang memotivasi saya untuk menulis buku ini. Benar, tema ini memerlukan pakar untuk membahasnya. Sementara kita, yang masih seperti anak-anak ini, duduk di posisi kita seperti biasanya; mendengar dan menerima.

Banyak buku yang berbicara tentang tema ini dengan kandungan yang elegan, namun tidak ada yang menjawab dengan jelas pertanyaan kita, “Dan mana kita mnlai dan bagaimana kita melangkah?” Bukan bererti saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan jawaban yang pasti benar. Siapa saya hingga mengaku-ngaku mampu melakukannya?! Ini adalah bentuk usaha saya, dengan memohon pertolongan dari Allah untuk memaparkan beberapa hal penting dalam tema ini, yang secara umum memberi kemudahan untuk menjadi hamba yang rabbani.

Pembaca yang budiman, dalam buku ini terdapat beberapa bab yang dimulai dan maksud kerabbanian, posisi kita darinya, sejauh mana keperluan kita terhadapnya, jalan yang menghantarkan kita kepadanya, dan ditutup dengan hambatan-hambatan yang terkadang menghadang seseorang mencapai derajat hamba rabbani ini.  Semoga Allah menjadikan buku ini bermanfaat bagi kita, menerimanya dengan kemurahan dan kebaikan-Nya, serta mengampuni kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Dr Majdi Al-Hilali

Advertisements
This entry was posted in Menjadi Hamba Rabbani, MUTIARA DA'WAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s