Bab 9 – “Memasuki Malam Zafaf” (Bahagian 2A)

Mengajak Isteri Solat Bersama
Ada saat-saat untuk merasakan keindahan. Ada saat-saat untuk menghayati kebesaran Tuhan Yang Telah Menciptakan. Sangat besar kasih sayang Allah kepada kita. Dan hari ini, Allah mengurniakan kepada kita seorang sahabat, penyayang, pelindung, pengasih dan pemberi ketenteraman. Di saat inilah kita perlu mengingat kebesaran Allah dan mensyukurinya.

Malam ini adalah malam pertama untuk memasuki malam-malam berikutnya sebagai suami isteri. Hari ini adalah hari pertama untuk melangkah ke hari-hari berikutnya yang panjang. Mudah-mudahan kita dapat tetap bersama-sama sampai kelak hari perhitungan di hadapan mahkamah Allah.

Maka, alangkah baiknya jika malam ini kita mulakan dengan solat sunat bersama. Kita mulakan kehidupan kita sebagai suami isteri dengan menyebut-nyebut namaNya dan menundukkan diri di hadapanNya. Kita memohon pertolongan kepadaNya. Kita memohon perlindunganNya dari segala keburukan, yang diketahui oleh kita mahupun yang  tidak  diketahui.  Mudah-mudahan  Allah  melimpahkan  barakah  atas  malam pertama kita dan malam-malam berikutnya. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita dari pertemuan di malam ini keturunan yang penuh barakah, keturunan yang dapat menjadi syafa’at bagi kita kelak di yaumil-hisab.

Ketika malam zafaf tiba, ada baiknya anda memasuki kamar pengantin dalam keadaan berwudhu. Sehingga ketika suamimu masuk, engkau dapat mengikuti shalat di belakangnya. Shalat dua raka’at untuk memohon agar jalinan perasaan (al-’athifah) berupa rasa kasih dan sayang antara engkau dan suamimu dapat berkembang dan mengakar kuat di jantung hatimu. Sedang benih-benih kebencian dapat dimatikan sebelum tumbuh.

Mudah-mudahan pula, akan dipenuhi Allah dengan barakahNya. Barakah bagi Anda berdua maupun barakah bagi keluarga Anda, baik dari pihak istri maupun dari pihak suami.

Sesungguhnya, sebaik-baik pernikahan adalah yang paling besar barakah-Nya. Karena itu, marilah kita awali malam zafaf ini dengan solat dua raka’at. Apabila aku telah bertakbir, maka ikutilah dengan takbir di belakangku.

Sesungguhnya, solat bersama dua rakaat bagi pengantin baru, dapat menjauhkan keduanya dari perasaan benci. Saat-saat awal memang penuh keindahan. Tetapi di saat-saat awal pula, benih-benih kebencian mudah tumbuh. Ketidakpercayaan mudah muncul di hati masing-masing. Dan dengan solat dua raka’at, insyaAllah keburukan itu menjauh dengan rahmat Allah.

Telah diriwayatkan dari Syaikh Syaqiq, ia berkata, “Datanglah seorang lelaki bernama  Abu   Huraiz,  lalu   ia   berkata,  “Sesungguhnya  aku   menikah  dengan perempuan gadis, dan aku merasa khawatir ia membenciku”.

Maka ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Sesungguhnya rasa kasih itu dari Allah, sedang kebencian itu dari setan dimana ia  berkeinginan  untuk  membencikan  kepada  kalian  pada  apa  yang  telah  Allah halalkan bagimu. Maka apabila isterimu datang kepadamu, maka perintahlah agar ia solat  di  belakangmu dua  raka’at, dan  berdo’alah Anda, “Ya  Allah  barakahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka padaku. Ya Allah, kumpulkan antara kami apa yang Engkau kumpulkan dengan kebaikan, dan pisahkan antara Kami jika Engkau memisahkan menuju kebaikan”. (Ditakhrij oleh Ibnu Syaibah).

Ada doa-doa lain yang bisa dipanjatkan ketika itu. Ada yang berupa rangkaian doa untuk memohon barakah dengan cinta kasih dan penerimaan isteri atas diri kita. Sesudahnya dilanjutkan dengan doa memohon keturunan yang bertakwa. Kemudian segera diikuti dengan mengajak isteri mengecap kemesraan bersama. Tentang ini, Anda bisa mencari di berbagai sumber. InsyaAllah ada banyak sumber yang boleh Anda rujuk untuk doa sesudah shalat bersama.

Tetapi, sebelum solat, ada doa yang sebaiknya tidak Anda abaikan. Ketika pertama kali menemui isteri di malam perkahwinannya, suami disunatkan menyebut asma’ Allah. Lalu memegang nashiyahnya pada permulaan menjumpainya, kata Imam An-Nawawi, dan mengucapkan doa berikut:

Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.

Doa  ini  diucapkan  dengan  memegang  dan  mengecup  nashiyah  istri.  Apa nashiyah itu?  An-nashiyah adalah  rambut  yang  tumbuh  di  bagian  depan  kepala. Makna yang dimaksud ialah ubun-ubun, baik yang ada rambutnya ataupun tidak. Dalil memegang ubun-ubun di atas ialah hadis Abu Dawud dan Nasa’i serta Abu Ya’la Al-Maushuli, melalui Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya dari datuknya secara marfu’ dengan adanya sanad ini. Demikian keterangan yang saya ambil dari Al- Adzkaar Imam An-Nawawi.

Kemudian dilanjutkan dengan doa lain, misalnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Sinni dalam hadis yang shahih:

Apabila salah seorang dari kamu menikahi seorang perempuan, maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, membaca basmalah dan memanjatkan doa memohon barakah, serta mengucapkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya.

Kalau engkau sudah mengucapkan doa, maka sekarang engkau bisa bergegas shalat  bersama  istrimu.  Sebelum  mengajaknya  melakukan  kebersamaan,  ajaklah untuk beristighfar. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dari kesalahan- kesalahan dan memulai kehidupan baru dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan hati dan niat yang lebih baik.

Wallahu A’lam bishawab.

Masalah Kita
Solat bersama di malam zafaf (secara umum di hari pertama setelah akad nikah) sangat baik dilakukan untuk memohon barakah dan ulfah (keharmonisan) kepada Allah Ta’ala, sehingga tidak ada kebencian yang tersisa di hati kita. Masalahnya, rangkaian acara setelah akad kadang demikian panjangnya dan langsung bersambung dengan walimah. Rangkaian acara yang panjang kadang demikian memenatkan, sehingga suami isteri yang baru menikah itu tidak berkesempatan untuk melaksanakan solat bersama dua rakaat. Akhirnya, solat bersama dua rakaat tidak dapat dilakukan di hari pertama.

Nah, kalau begitu, apa yang harus Anda lakukan?

Makanan Kecil Pembuka
Ketika suami mendatangi isterinya pada malam zafaf, kata Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa, maka hendaknya ia tersenyum kepada isterinya dengan wajah yang manis sambil menyampaikan salam penghormatan kepadanya dengan ucapan: Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa  barakatuh. Semoga kesejahteraan atasmu rahmat Allah  dan barakah-Nya.

Dalam kaitannya dengan ini, telah diriwayatkan hadis dari Anas r.a. bahwa ia berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda kepada saya,

Wahai Anakku, jika engkau datang pada keluargamu, maka ucapkan salam, maka akan menjadikan kebarakahan atasmu dan atas keluargamu (penghuni rumahmu). (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata, “Ini hadis hasan lagi shahih).

Pada malam zafaf ini, suami hendaklah bersikap lemah lembut dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati dengan perkataan yang halus dan menyenangkan. Ini insyaAllah akan mencairkan kekakuan. Kalaupun wajah masih gugup dan tangan masih gementar, rasa cinta dan kedamaian berada di dekat suami mulai terasa bergetar di dada.

Perkataan yang halus dan menyenangkan ini diikuti dengan sikap penuh kasih-sayang ketika membuka malam zafaf dengan segelas susu atau sedikit makanan kecil yang manis-manis. Di malam zafaf ini, segelas susu berdua bukanlah retorika bahasa agar tulisan ini terasa indah. Tetapi demikianlah contoh yang sampai kepada kita.

Segelas susu berdua di awal pertemuan dapat menghapus kekakuan di antara kedua mempelai. Ada kemesraan dan kelembutan yang tumbuh. Ada jalinan perasaan yang mulai terajut. Ada sikap kekok mencair pelahan ketika Anda berdua meminum dari gelas yang sama. InsyaAllah.

Saya kira pembicaraan kita tentang segelas susu berdua cukup sampai di sini. Silakan Anda melanjutkan sendiri dengan menyeduh segelas susu untuk malam zafaf Anda kelak. Selebihnya, mari kita dengarkan cerita dari Asma’ binti Yazid bin Sakan:

Aku menghias ‘Aisyah untuk Rasulullah Saw., lalu aku datang kepadanya. Kemudian aku memanggil beliau supaya memandang ‘Aisyah secara jelas. Beliau kemudian datang di sampingnya. Selanjutnya didatangkan sebuah wadah besar berisi susu.  Beliau  meminumnya.  Lalu  Nabi  memberikan  kepada  ‘Aisyah.  Ketika  itu ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan merasa malu.

Asma’   berkata,  “Kemudian   aku   membentaknya  dan   berkata  kepadanya, ‘Terimalah dari tangan Nabi Saw.” Asma’ berkata lagi, “Lalu ia menerimanya dan meminumnya sedikit.” Kemudian Nabi bersabda kepadanya, “Berilah temanmu itu.” (HR Ahmad).

Apakah Sekarang Saat yang Tepat?
Salah satu keindahan yang berhak dirasakan oleh suami-isteri adalah saat ketika mereka telah bersatu dalam kemesraan yang dalam. Mereka mencapai kenikmatan yang belum pernah terasakan sebelumnya ketika melakukan hubungan seks. Inilah keindahan dan sekaligus kenikmatan yang oleh Allah dijanjikan pahala besar di sisiNya. Bagi Anda pahala solat Dhuha sampai pahala anak laki-laki yang gugur di medan perang ketika melakukan itu kepada isteri.

Tetapi  apakah  sekarang  saat  yang  tepat  untuk  maksud  tersebut?  Bukankah suami-isteri masih canggung dan gugup ketika bertemu? Apakah malam zafaf tidak sebaiknya dihabiskan dengan bersembang-sembang sahaja agar tumbuh keakraban dan perasaan dekat? Baru beberapa malam lagi dapat mengajak isteri untuk maksud tersebut.

Sebahagian informasi yang disampaikan dalam beberapa pembicaraan memang menyebutkan, hubungan intim ketika baru pertama kali bertemu cenderung tidak dapat membawa kepada puncak kenikmatan (orgasme). Tetapi pembicaraan tentang orgasme sering hanya bersifat fizikal biologis sahaja. Padahal ada kebahagiaan dan keindahan melebihi kenikmatan biologis semata-mata.

Lihatlah wanita melahirkan, secara biologis mereka sakit. Mereka secara fizikal mengalami kecederaan. Tetapi dengarkan betapa bahagianya mereka. Kelelahan dan nyeri akibat proses persalinan, seakan tak ada bekasnya sejurus anak yang dinanti-nanti lahir.

Hubungan Anda berdua insyaAllah juga demikian. Jika kerinduan Anda tidak sekadar kerinduan biologis, insyaAllah Anda akan merasakan betapa indah malam itu, meskipun mesti salah tingkah dan gugup. Justeru, salah tingkah dan gugup boleh memberi kebahagiaan tersendiri yang membuat malam zafaf tidak pernah terlupakan.

Ada hal lain. Sebagian informasi tentang keringnya hubungan intim di malam pertama, sejauh yang saya ketahui tidak memiliki dasar yang dapat dipercaya secara ilmiah. Argumen qila wa qila (kabarnya konon katanya) tidak bisa diterima sebagai hukum ilmiah.

Selain itu, melakukan hubungan intim di malam zafaf bukan sekedar sebagai pelampiasan dorongan seks terhadap lawan jenis. Ada yang lebih tinggi dari itu. Di atas dorongan biologis, ada dorongan cinta terhadap lawan jenis. Di atas cinta ada kasih-sayang yang lebih tulus. Di atas kasih ada dorongan ruhiyyah, dorongan untuk mencapai kesucian dan keutamaan ukhrawi. Masing-masing dorongan memiliki keindahannya sendiri. Jika engkau menunduk karena besarnya rasa cinta dan sayang pada suami, maka kehadirannya saja sudah membuatmu bahagia. Sedang sentuhannya semakin membuatmu tidak bisa berkata apa-apa. InsyaAllah.

Pada malam zafaf, suami-isteri yang baru menikah insyaAllah berada dalam keadaan  hati  yang  paling  bersih  dan  paling  baik  persangkaannya kepada  Allah. Mereka berada dalam keadaan hati yang lapang, jiwa yang tenang serta muatan ruhiyyah yang tinggi. Keadaan ini tidak selalu bisa dicapai di malam-malam selanjutnya. Manusia berada dalam keadaan hati yang paling bersih, niat yang paling suci dan kesadarannya tentang kebesaran Allah yang paling mendalam hanyalah sa’atan-sa’atan (sesaat-sesaat). Tidak  setiap  waktu kita  bisa  mencapai niat  yang sangat suci dan persangkaan kepada Allah yang paling baik.

Ketika kita dalam keadaan sangat merasakan betapa agungnya Allah dan niat yang betul-betul mengharapkan pertolongan dan redhaNya, insyaAllah akan tumbuh di rahimmu anak yang bertaqwa lagi suci. Anak yang penuh barakah dan dibarakahi. Mereka lahir untuk memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Mereka lahir atas kekuasaan dan keputusan Allah Yang Maha Suci, diikuti niat yang suci serta persangkaan yang baik pada ibu bapanya ketika melakukan hubungan suci suami isteri.

Jadi jika memungkinkan untuk melakukan di malam itu, maka melaksanakannya insyaAllah lebih baik dan lebih besar barakahNya. Meskipun gugup dan masih sangat salah tingkah. Kalaupun tidak, meniatkan untuk mendatangi karena mengharap redha dan barakahNya insyaAllah sudah tercatat sebagai kemuliaan. Selain itu, mendatangi isteri untuk maksud tersebut di malam zafaf juga sebagai ungkapan syukur atas kurnia Allah Yang Maha Penyayang.

Hubungan seks di malam ini lebih dimaksudkan untuk mencapai barakah. Adapun kalau Anda telah mempunyai dorongan yang meluap-luap, yang demikian ini adalah rahmat Allah sebagai rezeki bagi Anda dan isteri Anda. Kita memohon kepada Allah mudah-mudahan rezeki yang dikurniakan Allah kepada kita di malam zafaf ini dipenuhi dengan barakahNya dan atas perantara itu Allah menjauhkan kita dari siksa api neraka.

Rezeki ketika melakukan kemesraan bersama, meliputi beberapa tingkatan. Pertama, rezeki dimampukan untuk melakukan hubungan intim secara halal. Kedua, rezeki diberi kenikmatan yang ada di dalam jima’. Ketiga, rezeki diberi pahala dan kemuliaan kerana hubungan seks yang kita lakukan, dari pahala solat Dhuha sampai dengan pahala seorang anak laki-laki yang terbunuh dalam peperangan fi sabilillah. Dan Allah Maha Kuasa untuk melipatgandakan dan meninggikan lagi pahala serta barakah jima’ yang dilakukan oleh suami-isteri sesuai dengan niatnya.

Masih ada tingkatan-tingkatan rezeki lainnya dalam hubungan intim suami-isteri, khususnya di malam zafaf. Salah satunya adalah rezeki berupa anak yang dilahirkan dari hubungan intim di malam itu. Sebaik-baik rezeki adalah yang paling besar barakah-Nya. Dan pada malam zafaf insyaAllah kita berada dalam keadaan hati dan jiwa yang paling siap untuk menerima kurnia ruhiyyah. Pada malam zafaf insyaAllah  kita  berada  dalam  niat  paling  bersih,  pengharapan terbaik,  dan  prasangka kepada Allah yang paling bersih.

Kerana itu, melaksanakan kemesraan suami-isteri di malam zafaf insyaAllah merupakan kemuliaan yang utama. InsyaAllah dari malam zafaf ini lahir anak-anak yang menjadi syafa’at bagi orangtuanya di hari kiamat dengan seizin Allah. Anak-anak yang hukma-shabiyyan rabbi-radhiyyan (sejak kecil memiliki kearifan dan diridhai Tuhan). Anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.

Islam memberikan tuntutan kepada kita ketika memasuki malam zafaf adalah agar suami-isteri yang baru menikah dapat segera memperoleh kenikmatan hubungan intim. Ibarat puasa, segerakanlah berbuka ketika maghrib tiba. Yang demikian ini lebih besar barakah dan redhaNya.

Wallahu A’lam bishawab.

Ada yang dapat kita renungkan untuk kita jadikan sebagai cermin ketika membicarakan masalah melakukan hubungan intim dan rezeki yang ada di dalamnya. Salah satu teladan kita adalah Umar bin Khaththab, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang termasuk khulafaur-rasyidin.

Umar bin Khaththab r.a. mengingatkan dengan mencontohkan dirinya, “Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan mengaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya.”

Umar r.a. juga menganjurkan, “Perbanyak anak, karena kalian tidak tahu dari anak yang mana kalian mendapatkan rezeki.”

Jadi kalau memungkinkan, mendatangi isteri di malam zafaf insyaAllah lebih utama dan lebih besar barakahNya. Sedang isteri boleh mengingatkan suami tentang niat. Adapun kalau suami tampak masih ragu, isteri boleh menyemangati dengan cara-cara yang baik, halus dan mengesankan suaminya. Semoga Allah meridhai usaha Anda.

Rasulullah  Saw.  bersabda,  “Nikah  itu  sunnahku.  Siapa  yang  tidak  mau menerapkan sunnahku, sudah tentu ia bukan dari golonganku. Maka budayakanlah perkahwinan, kerana aku bangga dengan banyaknya bilanganmu lebih dari umat-umat lain di hari kiamat.” (HR Ibnu Majah).

Nah,  mari  kita  tetapkan  niat  untuk  memberikan kesenangan kepada  isteri  di malam pertama. Mudah-mudahan Allah menguruniakan dengan kebersihan hati, memperbaiki akhlak kita sesudahnya, dan mensucikan niat. Semoga pertemuan kita saat ini penuh barakah dan dibarakahi. Allahum-ma amin.

Tetapi sekalipun Anda sebaiknya bersegera mendatangi isteri untuk melakukan apa yang lazim dilakukan oleh orang yang sudah menikah, Anda juga perlu memperhatikan kesiapan dan perasaan istri. Jika Anda tetap memaksakan untuk hubungan intim, sementara isteri berada dalam ketidaksiapan dan ketakutan, malam pertama Anda boleh meninggalkan kesan yang mengerikan, bukan membahagiakan. Kerana  itulah,  barangkali  ada  baiknya  Anda  jawab  pertanyaan  Ukasyah  Abdul Mannan Al-Thayyibi Hasan ‘Asur (namanya memang panjang sekali) dalam bukunya Etika & Nasehat Malam Pertama. Salah satu bab di buku itu diberi judul berupa pertanyaan, “Malam Pertama, Mengerikan atau Membahagiakan?”

Jika Anda ingin malam zafaf Anda tidak berakhir dengan kesedihan yang mengerikan, maka Anda perlu mendekati isteri dengan cara yang baik dan lembut agar ia siap. Sesudahnya, Anda bisa melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan.

insyaAllah bersambung…

Mohammad Fauzil Adhim
(Kado Pernikahan)

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s