Siapakah di balik proses ketokohan Hassan al-Banna?

“AKU INGIN MENYAMPAIKAN DAKWAH INI SAMPAI KEPADA JANIN DI PERUT IBUNYA (HASAN AL BANNA)” Ayah merupakan sosok penting dalam bangunan umat. Dalam sebuah keluarga, kedudukan ayah adalah salah satu batu bata yang menopang bangunan umat Islam. Jika para ayah berhasil menunaikan misinya dalam keluarga, akan kokohlah bangunan umat Islam di berbagai bidang kehidupan. Sebaliknya, sikap abai para ayah dalam menjalani misinya di dalam keluarga akan menyebabkan lemah rapuhnya bangunan umat ini. Ada banyak peran ayah dalam Islam yang harus ditunaikan dengan benar sebagaimana hadist Rasulullah SAW, “Setiap kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang amir adalah pemimpin atas rakyatnya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan anaknya dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dari Hadist Nafi’ bin Umar radhiallahu anhuma).  

Ayah yang menunaikan kewajibannya, berarti ia telah terbebas dari tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT di hari kiamat. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di sana ada malaikat yang kasar dan keras, tidak melanggar perintah Allah kepada mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim : 6)

Lembar-lembar berikut ini akan diuraikan sosok Hasan Al Banna. Seorang pemimpin dakwah, seorang pembina kader ummat, sekaligus seorang ayah dalam keluarga. Hasan Al Banna bahkan berperan dalam membina anak-anak di seluruh dunia ini. Dialah yang melontarkan kalimat-kalimat emasnya yang berbunyi “Aku ingin sekali menyampaikan dakwah ini sampai kepada janin yang ada di dalam perut ibu mereka.”

MARI BERTAMU KE RUMAH HASAN AL BANNA
Al Banna rahimahullah di rumahnya, adalah ayah yang kebaikannya begitu mengesankan anggota keluarga. Ia memberi contoh yang agung dalam penunaian misi seorang ayah yang berhasil. Ungkapan-ungkapan kekaguman terhadap Al Banna tertuang dalam ragam kalimat indah. Ia teladan praktis, hati yang penuh tanggung jawab, pemimpin yang mengayomi, gelombang rindu dan kasih sayang, cahaya kebaikan, mata air pemberian, sumber kedermawanan dan kemurahan, uluran kasih sayang dan ketegasan, pemimpin penuh disiplin yang diiringi cinta, mata yang tak terpejam untuk terus mengejar keberhasilan dalam perbaikan.  Kita banyak mendengar teori-teori pendidikan yang disampaikan para dosen ilmu pendidikan ataupun para pengamat pendidikan anak. Tapi sejujurnya, kita tidak bisa menutup mata bila nyatanya, praktik keseharian yang mereka jalani dalam kehidupannya justru menyingkap banyak kesenjangan dengan teori dan pandangannya soal pendidikan.  Hasan Al Banna menerapkan teori pendidikan dan pembinaan yang diserukannya dengan sangat baik di dalam keluarganya. Antara perkataan dan realitas hidupnya, menyuarakan satu hal yang sama.

Mari kita ikuti rangkaian tulisan yang dirangkum dari sejumlah dialog dan tanya jawab dengan anak-anak Imam Hasan Al Banna rahimahullah di episode akan datang…. insyaAllah.

Advertisements
This entry was posted in Cinta di Rumah Hassan al-Banna, PEMBANGUNAN KELUARGA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s