Bab 9 – “Memasuki Malam Zafaf” (Bahagian 1B)

Walimah Itu Ungkapan Syukur
Kalau pernikahan sudah berlangsung, maka suami boleh menyelenggarakan walimah sebagai ungkapan syukurnya kepada Allah. Melalui walimah, ia mengungkapkan kerendahan hatinya dengan meminta doa barakah kepada kaum muslimin yang datang; doa yang sungguh-sungguh, bukan sekadar mengikuti kebiasaan membuat undangan, serta mengumumkan kepada masyarakat bahwa dua orang yang bukan mahram itu kini telah halal hidup bersama.

Rasulullah s.a.w. menganjurkan kepada kita untuk mengadakan walimah ketika kita menikah. Rasulullah s.a.w. mengingatkan dengan bersungguh-sungguh agar kita mengadakan walimah untuk pernikahan kita, sesederhana apapun. Banyak hadis yang menunjukkan perkara ini.  Ketika  Rasulullah s.a.w.  mengetahui  ‘Abdurrahman  bin  Auf  menikah  –saat  itu ‘Abdurrahman bin Auf tidak menyelenggarakan walimah– maka Rasulullah s.a.w. bersabda, “Buatlah sebuah majlis, adakan walimahan meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.”

Ada hadis yang senada dengan itu. Dari Anas r.a., ia berkata, “Rasulullah belum pernah mengadakan majlis untuk sesuatu   kejadian sebagaimana yang Rasulullah lakukan terhadap Zainab, “Buatlah walimah, berpestalah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (HR Bukhari dan Muslim).

Masih   banyak   hadis-hadis   lain   yang   berbicara   tentang   perintah   untuk mengadakan walimah. Semuanya menunjukkan bahwa mengadakan walimah untuk sebuah pernikahan sangat penting. Dari sinilah lahir kesimpulan hukum tentang walimah. Sebagian besar ‘ulama sepakat bahwa walimah hukumnya sunnah muakkad.

Dalam hal ini, masalah penting yang perlu kita ingat adalah, titik tolak anjuran walimah ada pada penyelenggaraan walimahnya, bukan pada penyembelihan seekor kambing sebagai pesta minimum. ‘Abdurrahman bin Auf –sahabat utama Nabi s.a.w.— adalah termasuk orang paling kaya di masa itu, sehingga perkataan “meskipun hanya dengan memotong seekor kambing” menggambarkan penegasan tentang pentingnya mengadakan walimah. Tetapi jika untuk memberi mahar cincin besi saja tidak mampu, tentu ia tidak diwajibkan mengadakan walimah dengan menyembelih seekor kambing. Sebab jika ini dilaksanakan, justeru bisa mendatangkan madharat.

Wallahu A’lam bishawab.

Di Indonesia, umumnya majlis walimah diselenggarakan oleh orang tua dari mempelai perempuan. Kerana itulah, saya ingatkan kepada mereka agar memperhatikan kemaslahatan    dalam    menyelenggarakan    pesta    pernikahan    untuk    anaknya.

Menyelenggarakan pesta walimah secara berlebihan sampai di luar kemampuan mereka atau pun menantunya, justeru bisa mendatangkan madharat dan kerosakan sehingga pernikahan yang suci itu kehilangan barakah. Memaksakan diri dalam menyelenggarakan walimah juga bisa menjadi sunnah sayyi’ah, teladan buruk yang apabila dicontohi oleh orang lain akan menyebabkan kita berdosa. Wallahu A’lam bishawab.

Ukuran berlebihan ini boleh dilihat dari dua sisi. Pertama, kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Kedua, penyelenggaraan walimah dibandingkan dengan kemampuan secara peribadi. Pesta walimah yang amat jauh lebih sederhana dari kebiasaan yang berlaku di  dalam masyarakat masih dapat digolongkan berlebihan, apabila untuk mengadakan walimah itu pengantin lelaki atau orang tua pengantin perempuan sampai memaksakan diri melebihi kesanggupan ekonominya saat itu.

Jadi, jika Anda mengadakan walimah dengan menyembelih seekor kambing, sementara untuk membeli seekor ayam pun sangat menyukarkan Anda, maka walimah yang Anda laksanakan sudah termasuk berlebihan. Disebabkan oleh walimah itu, boleh jadi Anda sudah termasuk melampaui batas. Tindakan yang melampaui batas ini akan membawa akibat dalam dua hal. Pertama, beban bagi diri Anda secara peribadi. Kedua, hilang atau berkurangnya barakah pernikahan Anda lantaran agama tidak menyukai tindakan yang melampaui batas, termasuk dalam soal pernikahan. Kecuali Anda menyedari kekeliruan Anda dan beristighfar, mungkin Allah akan mengurniakan barakah dan rahmat-Nya.

Persoalannya kemudian, di zaman kita ini kadang seorang pengantin lelaki tidak diberi  ruang untuk menentukan bagaimana bentuk walimah yang sesuai dengan kemampuannya sendiri secara peribadi, tanpa mengaitkan dengan kemampuan orang tua  atau  saudaranya.  Di  sebahagian  daerah,  adat  istiadat  pernikahan  kaum Muslimin sudah bergeser jauh dari ajaran Islam. Sehingga menyebabkan para pemuda mengalami kesukaran menikah disebabkan oleh tingginya belanja walimah yang perlu ia tanggung. Ketika persoalan ini sudah menyangkut masalah kedudukan keluarga di mata masyarakat atau keluarga besan (mertua), maka persoalan yang suci dan penuh kemuliaan ini bergeser menjadi persoalan harga diri peribadi dan harga diri keluarga. Akhirnya, sistem pernikahan ini tidak menjadikan tumbuhnya peribadi yang  matang,  berdikari,  dan  berani  bertanggung  jawab  –yang  sangat  jarangnya, sampai-sampai terasa seperti slogan. Sistem pernikahan ini lebih cenderung membentuk orang untuk memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap orang lain, sekalipun itu kerabatnya sendiri, dan memudahkan tumbuhnya kekuasaan keluarga terhadap anak-anaknya, walaupun sudah waktunya untuk berdikari. Sistem yang demikian ini juga menyukarkan lahirnya pemuda yang memiliki sikap laisal fataa ma yaquulu kaana abi, wa inna mal fataa ma yaquulu ha ana dza (bukan pemuda mereka yang berkata “inilah bapakku”, tetapi sesungguhnya pemuda adalah yang berkata inilah dadaku).

Selain itu, kerana sistem yang demikian sering mempertaruhkan rasa malu seseorang atau bahkan keluarga di hadapan sekelompok orang atau masyarakat secara terbuka, maka secara jangka panjang mendorong orientasi setiap individu yang ada di dalam masyarakat itu untuk lebih memperhatikan hal-hal yang dapat mengangkat kedudukan keluarga daripada apa yang membawa kemaslahatan sangat besar bagi masyarakat.

Juga,  kerana  sistem  seperti  itu   mempersukar  perkara  yang  sebenarnya mudah, akhirnya menimbulkan perasaan takut pada pemuda untuk memenuhi panggilan agama ini dengan wanita-wanita setempat. Rentetan akibat berikutnya tentu sangat panjang. Salah satu yang sempat saya kenalpasti adalah keluarnya ketentuan dari pemuka masyarakat yang melarang pemudanya untuk menikah dengan wanita-wanita dari lain suku. Ini, tentu saja, merupakan langkah yang tidak tepat dan dapat membawa masyarakat kepada kejumudan yang besar. Disamping itu, langkah yang semacam ini tidak akan mampu mengubati kerosakan sosial dengan sempurna. Langkah itu hanya mengubati simptom (gejala), bukan akar penyakitnya.

Kembali ke soal berlebihan tidaknya majlis pernikahan yang kita selenggarakan. Jika walimah dilakukan berdasarkan kemampuan mempelai lelaki secara peribadi, apakah ini bererti keluarga mempelai lelaki dan keluarga mempelai perempuan tidak boleh mengeluarkan biaya untuk acara tersebut? Letak persoalannya bukan di sini. Letak persoalannya terletak pada ada tidaknya hal-hal yang membuat seorang mempelai lelaki menyelenggarakan walimah jauh melampaui batas kemampuannya, terpaksa atau tidak. Ada pun kalau pihak keluarga mempelai wanita atau keluarga mempelai lelaki ada yang berinisiatif untuk turut membantu menyelenggarakan walimah, insyaAllah baik sahaja, sejauh hal itu memang diniatkan untuk membantu. Apatah lagi kalau niatnya lebih luhur lagi, bukannya sekadar demi mempertahankan harga diri keluarga.

‘Alaa kulli hal, kerana walimah merupakan ungkapan syukur kepada Allah sekaligus majlis untuk meminta doa para hadirin agar pernikahan kita barakah, maka hendaklah walimah itu tidak merendahkan asma’-Nya yang tinggi lagi mulia. Maksud saya, penyelenggaraan walimah hendaknya tidak mengakibatkan kita secara sengaja mengejek Tuhan dengan alasan keadaan dharurat. Misalnya, apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan berhias sebelum memasuki waktu solat Zohor –kadang-kadang malah persiapannya sejak sebelum Subuh– dan melewati beberapa waktu solat tanpa menyentuh air demi menjaga agar keindahan solekan tidak rosak oleh air wudhu.

Saya sempat sedih dan merasa terpukul ketika pada suatu majlis pernikahan, seseorang dengan ringan berkata bahwa Allah Maha Pengampun. Benar bahawa Tuhan Maha Pengampun, tetapi Dia juga Maha Pedih SiksaNya. Saya juga merasa bingung ketika dalam majlis pernikahan yang lain tukang soleknya bercerita, biasanya ia menyolek pengantin sebelum masuk waktu solat, kecuali jika pengantinnya termasuk orang-orang yang dipandang taat. Padahal, itu untuk majlis-majlis walimah yang diadakan pada waktu petang atau malam. Sehingga menyolek sebelum memasuki waktu solat –kecuali jika sedang datang bulan– bererti secara sengaja mengabaikan waktu solat.

Saya belum termasuk orang yang khusyuk. Tetapi ketika mendengar hal yang semacam   itu,   saya   jadi   bertanya   apakah   majlis   pernikahan   itu   tidak   justeru memburukkan ketaatan kita kepada Allah di saat Ia menyempurnakannya? Apakah kita tidak  mendustakanNya  ketika  mengatakan  dharurat  (apa  boleh  buat,  terpaksa begini), padahal saat itu kita sedang mendapat kemudahan dan kebaikan dariNya? Atau, jangan-jangan sikap kita seperti itu memang telah menjadi doa mohon keadaan dharurat sehingga kita sekarang mengalami kesukaran yang bermacam-macam di negeri ini. Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.

Masih banyak perkara yang boleh kita bicarakan tentang acara walimah nikah ini, semoga walimah tidak menjadikan pernikahan kita berkurang barakahnya. Apatah lagi sampai merosak dan menghapus barakah atas pernikahan kita, sehingga kita mendapati rumah tangga kita kering, gersang, menjengkelkan, dan penuh pertengkaran. Masih banyak yang boleh kita bicarakan agar walimah nikah dapat menjadi ungkapan syukur kita yang jernih dan kerendahan hati kita untuk meminta doa dengan tulus, lalu para tamu pun benar-benar mendoakan dengan hati yang ikhlas (bukan  sebagai  basa  basi  sosial)  sehingga  Allah  berkenan  melimpahkan  barakahNya. Semoga melalui pernikahan yang barakah itu Allah berkenan memberi syafa’at kepada kita, kelak di hari kiamat.

***

Oh ya, satu lagi masalah yang berkenaan dengan walimah. Sebahagian dari kita ada yang bersikap sangat keras sehingga pengantin wanita sama sekali tidak mahu keluar untuk menemui tetamu dari kaum lelaki dengan mengajukan argumentasi (hujjah) perintah hijab bagi Ummahatul Mukminin, isteri-isteri Nabi.

Saya tidak akan berpanjang-panjang dalam soal hijab, kecuali dengan meyakini wajibnya menutup aurat secara sempurna dengan melabuhkan kain yang menutupi dada. Saya tidak berpanjang-panjang dalam soal ini kerana bukan bahagian saya. Yang ingin  saya  sampaikan  kepada  Anda  adalah,  seorang  pengantin  wanita  boleh menemui tetamu lelaki berdasarkan sebuah hadis sahih riwayat Bukhari & Muslim.

Dari Sahal, dia berkata, “Ketika Abu Usaid As-Sa’idi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi s.a.w. beserta para sahabat beliau. Maka tidak ada yang membuat makanan dan menghidangkannya pada mereka selain isterinya, Ummu Usaid. Dia telah merendam beberapa biji kurma di dalam satu bejana kecil yang terbuat dari batu pada malam harinya. Tatkala Nabi s.a.w. selesai makan, Ummu Usaid menghancurkan kurma tersebut, lalu menuangkannya sebagai hadiah khusus untuk Nabi Saw.” (HR Bukhari & Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah sahih Bukhari paling berwibawa, menerangkan, “Hadis ini dapat dijadikan dalil mengenai diperbolehkannya wanita melayani suami dan tamu undangannya, tapi dengan syarat tidak menimbulkan fitnah, serta dengan tetap memperhatikan hal-hal yang wajib dia tutup.”

Ada dua catatan yang diberikan oleh Al-Hafizh sehubungan dengan pembolehan wanita melayani suami dan tamu undangan, iaitu tidak menimbulkan fitnah serta dengan tetap memperhatikan hal-hal wajib dia tutup. Dua hal inilah barangkali yang sukar dijaga sehingga membuat sebahagian dari kita bersikap keras tidak mahu menampakkan diri sama sekali di hadapan para jemputan –yang terdiri dari wanita dan lelaki– lalu ada kesan bahwa menampakkan diri ketika walimah adalah tidak boleh. Padahal untuk melayani undangan lelaki dibolehkan, asal memenuhi dua ketentuan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar.

Wallahu A’lam.

Masalah ini perlu saya kemukakan kepada Anda atas dua alasan. Pertama, saya melihat sikap tidak mahu menampakkan diri sama sekali mulai merebak, sehingga kadang-kadang menimbulkan “fitnah” di masyarakat. Jika sikap itu disebabkan tidak dapat memenuhi dua ketentuan dari Al-Hafizh, maka yang demikian itu insyaAllah akan membawa kebaikan. Apatah lagi kalau dapat menjelaskan kepada tetamu dengan cara yang baik. Kedua, saya menyampaikan disebabkan oleh kebimbangan saya bahawa hal ini dipandang haram. Sikap ini saya dasarkan pada peristiwa ketika Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu minum sambil berdiri seraya mengatakan kepada khalayak tentang dibolehkan minum sambil berdiri. Selengkapnya tentang peristiwa Sayyidina ‘Ali ini oleh Anda baca pada bab Keindahan Suami istri.

Begitulah. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita, dunia dan akhirat. Selebihnya, kerana walimah sudah selesai, saya hanya dapat menitip doa semoga pernikahan Anda penuh barakah. Doa yang maksudnya sama dengan doa Anda tatkala mengucup ubun-ubun isteri di malam zafaf:

Barakallahu likulli waahidin minnaa fii shaahibihi.

Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.

Ya Allah Ya Rahim, barakahilah pernikahan orang-orang yang mengharapkan barakah-Mu. Allahumma amin.

Ehmm, kerana tetamu sudah pulang ke rumah masing-masing dan burung-burung juga sudah kembali ke sarangnya, maka jangan lupa: malam zafaf Anda telah tiba. Di kamar pengantin, isteri Anda telah lama menunggu. Maka jangan biarkan ia gelisah kerana Anda tak kunjung datang untuk menghabiskan malam bahagia dan penuh barakah (mudah-mudahan. Allahumma amin).

Tapi sabar dulu. Sebelum memasuki malam zafaf, apa yang sudah Anda ketahui tentang malam yang penuh cerita? Bagaimana agar malam zafaf dilalui dengan baik, dan bukannya meninggalkan cerita duka dan benih kekecewaan? Ada ilmunya. Mudah-mudahan Allah menjadikan tulisan berikut ini bermanfaat dan penuh barakah bagi kita semua, terutama bagi Anda yang akan memasuki malam zafaf.

Dan agar Anda tak terlalu gelisah, inilah pembahasan tentang malam zafaf itu. Silakan diteliti.

insyaAllah bersambung…

Mohammad Fauzil Adhim
(Kado Pernikahan)

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s