“Siapa Bersantai Saat Bekerja, Dia Akan Menyesal Saat Pembahagian Upah”

Ibnu Jauzi: “Ada dalil yang menjelaskan bahawa seseorang yang beriman kepada Allah itu seperti seorang buruh harian. Masa kerjanya selama benderangnya siang. Nah, seorang yang diperkerjakan di sawah mestilah tidak memakai baju yang bersih. Semestinya ia bersabar selama masa kerja. Barulah ia membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang terbaik.”

Sebahagian kita benar-benar telah menyaksikan bagaimana orang-orang zalim mengintimidasi orang-orang beriman di negeri Islam. Mereka melihat betapa polis, tentera, para algojo, dan orang-orang yang zalim itu menahan kaum muslimin. Tiada hari berlalu melainkan mereka menahan puluhan bahkan ratusan kaum muslimin. Bahkan para eksekutor itu tidak melewatkan satu malam pun tanpa menyiksa kaum muslimin sejak sekian lama; mereka tidak peduli lagi kepada anak-anak, wanita, orang tua, atau pun pemuda. Siapapun akan mendapatkan bahagian dari terpaan siksaan ini.

Selama bertahun-tahun itu banyak akhwat yang dipaksa menggugurkan kandungannya, dipukul, dan dibiarkan tidur di atas bebatuan di malam musim dingin. Balita (anak-anak)  pun mendapatkan siksa yang berat, bahkan mereka dibiarkan beberapa hari tanpa makanan.

Bertahun-tahun pula ikhwah melewati hari raya Idul Fitri antara rumah tahanan, penjara, pengasingan, orang-orang yang terbunuh, dan orang-orang yang terluka. Mereka, keluarga mereka, bapa-bapa mereka, ibu-ibu mereka, anak-anak mereka, dan isteri-isteri mereka tidak sedikit pun merasakan kegembiraan di hari raya.

Sebahagian kita telah menyaksikan hal itu dan juga kejadian-kejadian lain yang terjadi di sekitar mereka, lalu syaitan menyusup ke dalam jiwa, menghembuskan rasa was-was supaya mereka mencela hikmah di balik takdir.

Syaitan berkata, “Bagaimana boleh Allah membiarkan musuh-musuh-Nya dan para algojo mereka semakin bertambah kuat dari hari ke hari, bertambah canggih alat-alat yang mereka miliki dalam menghadapi orang-orang yang beriman? Mengapa mereka dibiarkan bertambah kukuh dari masa ke masa, mereka bermaharajalela di pelbagai penjuru negeri. Mereka memerintah semahu mereka sendiri. Bagaimana para pengikut mereka tunduk kepada mereka? Lalu, bagaimana keadaan kalian wahai wali-wali Allah? Kalian tergeletak di atas batuan yang bagai salju di musim dingin dan bagai bara di musim panas. Kalian, tidak mendapati makanan, minuman, pakaian, selimut, dan bahkan udara yang mencukupi nafas kalian. Ini adalah suatu kenyataan yang tidak akan diyakini kecuali oleh orang-orang yang hidup di tempat seperti ini. Bagaimana juga para penguasa sekular bergelimang kenikmatan, kelazatan, naungan yang nyaman, sedangkan mereka dalam kekuatan penuh untuk menguasai dunia? Bahkan, bagaimana para algojo itu selalu hidup dalam tawa dan canda, sementara pada saat yang sama banyak ikhwah yang ditahan bagai binatang sembelihan oleh tangan mereka di belakang punggung mereka, ia berteriak sedemikian kerasnya sampai pengsan?”

Inilah was-was yang dihembuskan oleh syaitan di saat-saat berat seperti ini.

Ini pulalah kata nafsu ammarah bissuu’ (nafsu yang mengajak kepada kejelekkan) di masa-masa yang sulit. Ini semua membutuhkan mujahadah yang serius. Ini semua adalah ujian-ujian besar yang benar-benar memerlukan keteguhan untuk menghadapinya.

Kepada setiap aktivis hendaknya berbicara kepada diri sendiri, “Bukankah jika Allah hendak mengambil para syuhada. Dia menciptakan kaum yang membuka tangan mereka untuk membunuh orang-orang beriman. Apakah pantas ada orang yang menusuk Umar selain Abu Lu’lu’ah? Atau Ali selain Abu Muljam?[1] Atau Sumayyah selain Abu Jahal?

Hendaknya pula setiap ikhwah mengingatkan diri masing-masing dengan firman Allah; “Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka” (Ali-Imran: 178)

Juga firman Allah; “Nanti kami akan menarik mereka beransur-ansur (kearah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka, sesungguhnya rencana-Ku amat teguh” (al-Qalam: 44 – 45)

Kerananya, hendahknya ia menasihati diri sendiri dengan nasihat Ibnu Jauzi, “Ada dalil yang menjelaskan bahawa seseorang yang beriman kepada Allah itu seperti seorang buruh harian. Masa kerjanya selama benderangnya siang. Nah, seorang yang diperkerjakan di sawah mestilah tidak memakai baju yang bersih. Semestinya ia bersabar selama masa kerja. Barulah ia membersihkan diri dan memakai pakaian yang terbaik. Barangsiapa bersantai-santai di saat bekerja akan menyesal saat pembahagian upah, ia akan menangung akibat atas kelambanannya dalam menuntaskan pekerjaannya. Point ini akan menguatkan kesabaran.”[2]

Selanjutnya hendaklah berkata kepada diri sendiri, “Biarlah mereka mengambil dunia (itu pun jika dunia mahu) sedangkan kita, cukuplah akhirat menjadi milik kita.”

Dunia seisinya ini adalah kelazatan sementara yang di sisi Allah tak sebanding dengan selembar sayap nyamuk. Dengan hati dan lisan, hendaknya ia mengulang-ulang pernyataan para mantan penyihir Fir’aun setelah hati mereka diluapi keimanan – kepada Fir’aun masa kini dan masa yang akan datang,
“Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan, sesungguhnya kamu hanya dapat memutuskan didunia sahaja” (Thaha: 72)

Hendaknya ia juga mengingatkan diri bahawa para thaghut itu, meski mereka dapat memenuhi dunia dengan goncangan, himpitan, dan ancama kepada orang-orang yang beriman; sesungguhnya kehinaan, rasa sesak, dan kegelisahan yang diakibatkan oleh kemaksiatan tidak akan meninggalkan mereka selama-lamanya.

Hassan al-Basri berkata, “Mereka itu, walaupun baghal (sejenis keldai) tunduk dan kuda-kuda berjalan bagus di hadapan mereka, sesungguhnya kehinaan yang diakibatkan oleh kemaksiatannya dapat terbaca pada raut mukannya. Sesungguhnya Allah hanya akan menghinakan orang yang bermaksiat kepada-Nya.”[3]

Semua ini hanya dapat dirasakan dan dimengertikan dengan sebenarnya oleh orang-orang yang benar-benar beriman, soleh, dan benar-benar mengerti tentang Rabb mereka, penolong mereka yang sebenarnya. Mereka yang mengerti benar bahawa masa mereka dengan para thaghut akan segera berakhir: Kenderaan telah diparkir dan para penumpang telah tergesa-gesa turun.

Al-Syahid Dr. Abdullah Azzam


[1] Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 103 – 104

[2] Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 103

[3] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ dengan lafaz yang mirip 2/149, juga oleh Ibnul Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah 9/273

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Nasihat Pengemban Da'wah. Bookmark the permalink.

One Response to “Siapa Bersantai Saat Bekerja, Dia Akan Menyesal Saat Pembahagian Upah”

  1. Pingback: Usahakanlah Faktor-Faktor Kemenangan | Halaqah Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s