Bab 9 – “Memasuki Malam Zafaf” (Bahagian 1A)

Kalau sudah ada kerelaan untuk menjadi teman hidup, maka tunggu sesaat lagi jalinan perasaan itu  akan sah. Sesaat lagi, apa-apa yang haram bagi kita telah menjadi halal atas kurnia Allah. Sesaat lagi, seorang jejaka mulai wajib memberikan kelembutan sikap kepada wanita yang beberapa waktu lalu dipinangnya. Sesaat lagi, seorang wanita mulai mempunyai kewajiban untuk bertaba’ul (pengurusan dan pelayanan). Hal ini kelak di akhirat akan dipertanggungjawabkan kepada kita. Ada perjanjian yang sangat berat kepada Allah, sehingga Allah memberi hak kepada kita beberapa kesenangan dan memberi amanah di balik kesenangan-kesenangan itu. Perjanjian ini terikat sesaat lagi, ketika seorang ayah mengucapkan ijab atas anak gadisnya dan seorang laki-laki mengucapkan qabul (penerimaan) untuk mengikat jalinan perasaan sebagai suami-isteri.

Inilah akad nikah. Inilah akad yang menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya haram, dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa.

Ikatan Itu Bernama Mitsaqan-Ghalizhan
Nabi berdiri di Mina, di Masjid Kheif. Dia memandang ribuan jemaah yang hadir untuk menunaikan haji di sekelilingnya. Kemudian bibirnya yang tidak pernah berdusta menyebutkan pujian kepada Allah. Lalu memulakan khuthbahnya.

“Wahai manusia,” kata Rasulullah s.a.w. berseru, “Dengarkan penjelasanku baik-baik, kerana aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang.” 

Suara Rasulullah bergetar. Para sahabat merasa ada yang akan hilang. Ada tangis yang terasa, tapi menahannya di tenggorokan. Ada kesedihan. Ucapan Rasulullah s.a.w. kali ini,  mengisyaratkan  perpisahan.  Tahun  hadapan  mungkin  Rasulullah s.a.w.  sudah  tidak bersama mereka lagi. Betapa besar kehilangan kalau Rasulullah s.a.w benar-benar dipanggil oleh Yang Mengutusnya, Allah subhanahu wa ta’ala. Betapa besar kehilangan kalau kali ini adalah haji perpisahan, haji wada’, sedangkan wajah suci itu telah bertahun-tahun membimbing mereka sekaligus menanggung luka-luka dalam beberapa peperangan. Para sahabat merasakan kesedihan itu.

Kemudian  Rasulullah s.a.w. berkata,  “Apakah  aku  sudah  menyampaikan  risalah Tuhanku kepada kalian?”

Para sahabat menjawab dengan suara serentak, dengan gemuruh yang sama, dan dengan jawapan yang sama, “Benar. Engkau sudah menyampaikan risalah kepada kami.”

Allahumma isyhad. Ya Allah, saksikanlah!” Sebagian sahabat sudah tidak sanggup lagi menahan tangisan mereka. Mereka mengetahui bahawa tugas Nabi sudah berakhir, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat.

“Wahai manusia,” begitu kata Nabi selanjutnya, “Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah sekarang ini?” “Hari yang suci.” “Negeri apakah ini?” “Negeri yang suci.” “Bulan apakah ini?” “Bulan yang suci.”

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali kerana takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Suara para sahabat bergemuruh. Mereka menjawab, “Benar.” Begitulah setiap kali Nabi menyampaikan satu bahagian (maqtha’) nasihatnya, beliau mengakhirinya dengan “apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”; dan para sahabat menjawab serentak dengan “benar”. Setiap kali beliau memulai bahagian nasihatnya, kata Kang Jalal, beliau berkata, “Semaklah bicaraku, kalian akan memperoleh manfaat sesudah aku tiada. Fahamilah baik-baik supaya kalian memperoleh kemenangan.”

Hari ini, Rasulullah s.a.w. telah tiada. Dan sekarang, saya ingin menyampaikan salah satu pesanan Rasulullah s.a.w. saat itu, ketika Anda sudah menguatkan hati untuk mengikat perjanjian yang sangat berat (mitsaqan-ghalizhan). Isteri Anda mempunyai hak atas Anda kerana perjanjian itu. Ia mempunyai hak yang suci, sama sucinya dengan hari ketika khuthbah perpisahan itu diucapkan.

Ketika Anda sudah mengikat perjanjian yang sangat berat, tahukah Anda apa hak isteri Anda? Dan ketika Anda menerima perjanjian berat dari suami Anda, tahukah Anda hak suami atas Anda?

Di haji wada’ itu, Rasulullah s.a.w. mengingatkan dengan peringatan suci, “Wahai manusia, sesungguhnya isteri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana  kalian  mempunyai  hak  atas  mereka.  Hak  kalian  atas  mereka  ialah mereka (para isteri) tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian senangi masuk ke rumah kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur mereka, serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus isteri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik.”

“Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik,” begitu kata-kata terakhir dari Rasulullah s.a.w. ketika mengingatkan kita tentang kewajiban di balik amanah pernikahan. Ada yang harus dijaga dalam perjanjian yang sangat berat ini (mitsaqan-ghalizhan). Ada yang harus diperjuangkan karena amanah ini.

Ada yang besar dalam perjanjian berat ini. Hati yang menerima, jiwa yang rela, sikap yang memberi ketenteraman, dan kesediaan untuk berjuang bersama. Sudahkah engkau bersedia? Aku bertanya kepada diriku sendiri dan juga kepadamu.

Perjanjian berat akan kita ikrarkan. Allah dan para malaikat menjadi saksi. Para tetamu juga menjadi saksi. Ada yang menjadi saksi khusus ketika perjanjian berat itu diucapkan.

Akad nikah memang wajib ada saksi. Sebenarnya, apakah saksi itu? Mengapa perjanjian berat ini memerlukan saksi? Padahal Allah Maha Tahu dan tak ada yang boleh disembunyikan dari penglihatanNya.

Maha Besar Allah. Sungguh Allah tidak pernah zalim kepada setiap makhlukNya. Pernikahan memerlukan saksi untuk mengingatkan kepada kita tentang amanah di sebaliknya. Mudah-mudahan kita selalu ingat dan tetap menjaganya sampai kelak bertemu dengan Allah di Hari Kiamat.

Jadi, ikatan pernikahan bukanlah ikatan main-main. Ada kesenangan-kesenangan di dalamnya yang boleh kita rasakan bersama, dan ada amanah di baliknya. Ada sebuah amanah besar.

Sekarang  ketika  ayah  dari  calon  isteri  Anda  akan  mengucapkan  ijab  nikah, marilah kita perhatikan beberapa hal berkenaan dengan Ijab-Qabul Nikah.

Mengucapkan Ijab-Qabul Nikah
Perjanjian berat itu terikat melalui beberapa kalimah sederhana. Pertama adalah kalimath ijab,  iaitu  keinginan  pihak  wanita  untuk  menjalin  ikatan  rumah  tangga dengan seorang lelaki. Kedua adalah kalimah qabul, iaitu pernyataan menerima keinginan dari pihak pertama untuk maksud tersebut.

Ijab qabul   adakalanya   diucapkan   dalam   bahasa   Arab.   Adakalanya   juga diucapkan dalam bahasa setempat. Kedua-duanya boleh dipakai. Ibnu Taimiyyah mengatakan,  ikatan  nikah  boleh  terjalin  dengan  ungkapan  yang  bermakna  nikah, dengan kata dan bahasa apa pun.

Mana yang lebih afdhal? Mana yang lebih baik untuk dipakai? Wallahu A’lam bishawab. Nikah adalah perjanjian yang berat. Kita perlu menghayati ucapan ijab qabul. Salah satu syarat ijab qabul adalah kedua pihak memiliki sifat tamyiz (mampu membezakan baik dan buruk), sehingga ia memahami perkataan dan maksud dari ijab qabul itu. Di atas pemahaman terhadap maksud ijab qabul, ada penghayatan.

Sebahagian dari kita mungkin lebih dapat merasakan makna di balik perjanjian yang sangat berat ini ketika diucapkan dalam bahasa Arab, kerana ini merupakan bahasa Al-Qur’an. Tetapi sebahagian lainnya, lebih dapat merasakan makna dari setiap kata yang  didengar  dan  diucapkan  ketika  ketika  menggunakan bahasanya  sehari-hari, misal bahasa Indonesia.

Jika Anda lebih mudah merasakan makna ijab qabul dalam bahasa Arab, Anda boleh  memilih untuk  menggunakan bahasa  Arab  ketika  berlangsung akad  nikah. Tetapi jika Anda lebih mampu menghayati dan lebih mudah terharu dengan bahasa Indonesia, sesungguhnya akad nikah dalam bahasa Indonesia tidak membuatnya lebih rendah nilainya dibanding bahasa Arab. Jika dengannya Anda lebih merasakan kedalaman erti akad nikah, insyaAllah bahasa Indonesia adalah lebih baik.

Yang  jelas,  apa  pun  bahasa  yang  digunakan,  akad  nikah  hendaklah  tidak berbelit-belit dan terlalu mempersukar proses demi kesempurnaan adat istiadat. Keagungan pernikahan tidak diukur dari lengkap tidaknya mengulang kalimah ijab ketika mengucapkan qabul. Ini sekadar satu contoh saja.

Juga, hendaknya kita tidak terjebak ke dalam keinginan untuk mencapai “suasana khusyuk”   sehingga   justeru   mempersukar   diri.   Jika   kita   melihat   kisah-kisah pernikahan di masa shahabat dan beberapa generasi berikutnya, kita sering mendapati proses akad nikah yang begitu sederhana.  Kadang-kadang terasa “terlalu sederhana” untuk ukuran kita yang senang berbelit-belit ini. Misalnya, bukan hal yang aneh kalau kita membaca seseorang minta dinikahkan –meminang– lalu orang tua si perempuan mengatakan, “Ya, kau kunikahkan dengan Fulanah binti Fulan.” Selesai. Dan dari pernikahan-pernikahan seperti itulah justeru lahir orang-orang yang memiliki keutamaan besar di dunia dan akhirat.

Pada zaman kita sekarang, agaknya sukar menjumpai model pernikahan yang sederhana seperti itu. Barangkali hanya tinggal di sebahagian daerah Lamongan, Jawa Timur sahaja tradisi pernikahan Islami yang sangat sederhana tetap bisa berlangsung.

Proses pernikahan berlangsung sangat cepat. Sebaik sahaja pinangan diterima –ini yang pernah terjadi– orang tua si gadis langsung menyatakan, kurang lebih, “Bagaimana, akad nikah sekarang?” Jika ya, saksi boleh dipanggil dari tetangga kanan dan kiri. Perkara mahar, mudah sahaja. Boleh dicari. Walimah, boleh dipersiapkan esok. Manakala untuk hidangan sekarang, orang rumah boleh mempersiapkannya.

Saya  tidak  tahu  apakah  ada  daerah  lain  yang  masih  mempunyai  tradisi pernikahan yang sederhana dan Islamik seperti itu. Jika masih ada daerah lain, saya kira itu ada di daerah-daerah berasaskan pesantren yang masih kental budaya pesantrennya. Daerah-daerah Situbondo dan Probolinggo, barangkali.

Wallahu A’lam bishawab.

Siapa yang Menikahkan?
Sesungguhnya  yang  paling  berhak  untuk  menikahkan  seorang  anak  perempuan adalah ayahnya, kerana dia adalah wali bagi anaknya. Tetapi adakalanya, keluarga pengantin perempuan menyerahkan kepada orang lain untuk mengijabkan pernikahan anak perempuannya dengan lelaki yang akan menjadi suami anaknya.

Sesungguhnya pernikahan merupakan ikatan yang suci. Ketika seorang ayah mengucapkan ijab nikah, di dalamnya juga tersirat penyerahan tanggungjawab atas anak   perempuannya   kepada   lelaki   yang   ia   telah   mantap   dengannya.   Ketika mengijabkan, seorang ayah juga telah mempersaksikan bahawa tanggungjawabnya terhadap anak wanitanya telah ditunaikan.

Jadi, ijab nikah bukan sekadar ucapan untuk mengesahkan ikatan batin antara anak perempuannya dengan seorang lelaki yang telah dipilihnya. Di dalamnya juga terdapat tanggungjawab  ruhiyyah,  semoga  pernikahan  ini  menjadi  jalan  kebaikan  bagi orang tua serta keluarga anaknya yang baru saja menikah. Ini antara lain jelas ketika  seorang  ayah  mendoakan  menantu  lelakinya  sebelum  menghantarnya untuk menemui isterinya di malam pertama.

Anas bin Malik r.a. menceritakan kisah perkahwinan Fathimah Az-Zahra r.a. Anas berkata, Nabi bersabda, “Bawakan aku air!” ‘Ali berkata, “Aku tahu apa yang dimaksudkan oleh beliau. Maka aku bangkit dan memenuhi gelas besar kemudian memberikannya. “Beliau mengambilnya lalu meludahinya, kemudian bersabda kepadaku, “Majulah!” Maka beliau menyiram kepalaku dan bahagian depan tubuhku. Kemudian beliau bersabda:

Allahumma innii u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithaanirrajiim.

Ya Allah, sesungguhnya aku melindungi dirinya dan keturunannya denganMu dari syaitan yang terkutuk.

Beliau  bersabda,  “Menghadap  ke  belakang!”  Maka  aku  pun  menghadap  ke belakang. Lalu beliau menyiram daerah antara dua belikat, lalu berdoa:

Inni u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithanir rajiim.

Sesungguhnya aku melindunginya dan keturunannya dengan-Mu dari setan yang terkutuk.

Kemudian bersabda, “Hai Ali, temuilah istrimu dengan membaca basmalah supaya mendapat barakah.” (HR. Abu Bakar bin As-Sina).

Abu Bakar bin As-Sina menulis dalam kitabnya, “Abu ‘Abdurrahman memberitahu kepada kami, ‘Abdul A’la bin Washil dan Ahmad bin Sulaiman menceritakan  kepada  kami,  Malik  bin  Isma’il  menceritakan  kepada  kami,  dari ‘Abdurrahman bin Hamid Ar-Rawasi, ‘Abdul Karim bin Salith menceritakan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya r.a. Dia menceritakan perkahwinan Fathimah, lalu berkata: Pada saat malam pertama tiba, Nabi Saw. bersabda, “Hai ‘Ali, jangan mengucapkan apapun sebelum kamu menemuiku.” Kemudian Nabi s.a.w. meminta air. Beliau menggunakannya untuk wudhu, lalu membasuhkannya kepada ‘Ali sambil berdoa:

Allahumma baarik fiihimaa wa baarik ‘alaihima wa lahumaa fii syamlihimaa.

Ya Allah, barakahilah keduanya dengan barakah yang meliputi keharmonisan keduanya.

Ketika seorang ayah mempercayakan anak wanitanya dengan ucapan ijab kepada calon menantu, insyaAllah ia berada dalam keadaan hati yang sangat bersih dan paling besar pengharapannya kepada Allah.

Adapun kalau bukan ayah, maka keluarga perempuan boleh meminta bantuan orang yang  ‘alim  (berilmu)  untuk  mewakili  ayah  perempuan  tersebut  dalam  mengijabkan. Tetapi, siapakah orang ‘alim itu? Wallahu A’lam bishawab. Sepanjang pengetahuan saya orang ‘alim adalah orang yang sangat besar rasa takutnya kepada Allah dan mengetahui halal-haramnya sesuatu perkara.

Wallahu’alam bishawab.

Ada perkara-perkara lain dalam masalah ijab qabul. Tetapi bukan wilayah saya untuk membahasnya, termasuk yang berkenaan dengan orang yang mengijabkan pernikahan  seorang  wanita  kepada  seorang  lelaki.  Adapun  pembahasan  saya sekilas tentang orang yang menikahkan, yang demikian ini sebagai ikhtiar untuk menyampaikan  apa  yang  lebih  utama  dan  insyaAllah  lebih  besar  barakahnya.

Mudah-mudahan pernikahan yang baru saja berlangsung akan penuh barakah Allah dan dibarakahi  atas  mereka.  Semoga  dari  pernikahan  itu  lahir  keturunan  yang memberi bekas kepada bumi dengan kalimah laa ilaaha illaLlah.

Wallahu A’lam bishawab.

insyaAllah bersambung…

Mohammad Fauzil Adhim
(Kado Pernikahan)

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s