Islamic Parenting (Usia 4-10 Tahun) Bahagian 3

Mendoakan Kebaikan, Menghindari Doa Keburukan

Anas bercerita, Ibuku, Ummu Anas datang kepada Rasulullah setelah ia memakaikan kain kepadaku dengan separuh kerudungnya dan memakaikan selendang dengan separuh yang lain. Ummu Anas berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah Anas kecil, anak lelaki kesayanganku. Sengaja aku bawakan dia kepadamu untuk menjadi pelayanmu maka berdoalah kepada Allah untuknya.’ Nabi saw pun berdoa, ‘Ya Allah, perbanyakkanlah harta dan anaknya’.”

Selanjutnya Anas mengatakan, “Maka demi Allah, sungguh anak cucuku sekarang jumlahnya benar-benar mencapai kurang lebih seratus orang.”

Dari sini kita dapat perhatikan bagaimana Ummu Anas menyiapkan masa depan yang agung untuk anaknya. Di antara doa Nabi saw saat hendak bepergian ialah :

“Ya, Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, kesedihan serta tempat kembali yang buruk dalam keluarga, harta dan anak”.

Dan jika kembali dari perjalanan, disunnahkan membaca do’a di atas, kemudian ditambah dengan lafazh: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ (Kami kembali kepada Allah dengan bertaubat, menyembah dan memujiNya). (HR Muslim)

Rasulullah saw menginginkan agar kita tidak tertimpa kesedihan kerana harta dan keluarga saat pulang dari perjalanan. Kerana itu, beliau melakukan upaya sedia payung sebelum hujan. Beliau berdoa kepada Allah agar tidak terjadi sesuatu pun selama ditinggal.

Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan keburukan untuk harta benda kalian, agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat yang di dalamnya Allah memberi semua permintaanmu, kemudian mengabulkan doa kalian.”

Rasulullah saw pernah bersabda, ”Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi, pasti diterima, yaitu doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua (guru) kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi).

Seorang pendidik tidak boleh putus asa dari rahmat Allah, misalnya dengan mengatakan, “Aku telah berdoa untuk kebaikan anakku, tetapi tidak ada manfaatnya.” Sebaliknya, hendaklah terus berdoa dan berharap. Demi Allah, jika Allah mengkehendaki, Dia tidak akan mengecewakan harapan anda dan akan memberi petunjuk kepada anak-anak anda.

Orang tua harus dapat mengawal penuh lisannya, agar tidak keluar ancaman atau ucapan yang bisa menjadi doa keburukan bagi sang anak. Doa itu tak harus sesuatu yang khusus diucapkan saat bersimpuh di hadapan Allah. Ucapan seketika, seperti, “Dasar anak bandel,” pun bisa bermakna doa. Dan doa orang tua kepada anak itu bakal manjur.

Meminta Izin Berkenaan dengan Hak Anak

Memberikan hak anak akan membuatnya merasa bangga dalam kehidupan ini. Hal ini membuatnya tumbuh menjadi orang yang konsisten sehingga tidak akan mengabaikan hak-hak orang lain saat besar nanti. Berikut ini teladan yang baik dari Rasulullah. Beliau meminta izin kepada anak remaja yang duduk di sebelah kanan beliau agar mengalah dan memberikan minuman terlebih dahulu kepada orang tua yang duduk di sebelah kiri beliau. Namun anak remaja itu menolak dan tidak mahu mengalah dari haknya terhadap siapa pun, kecuali terhadap Nabi saw saja. Akhirnya Nabi saw memprioritaskan haknya dan memberikan wadah minuman itu kepada sang anak untuk minum terlebih dahulu.

Sahl bin Sa’ad meriwayatkan bahwa disajikan kepada Rasulullah segelas minuman, lalu beliau meminumnya, sedang disebelah kanan beliau terdapat seorang anak dan disebelah kirinya terdapat orang tua. Sesudah minum, beliau bertanya kepada si anak, “Apakah engkau setuju bila aku memberi minum mereka terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu.” Rasulullah pun menyerahkan wadah itu ke tangannya.

Maha Suci Allah, Muhammad saw penghulu semua makhluk dan paling besar kedudukannya serta paling tinggi pangkatnya di antara mereka semua meminta izin kepada seorang anak remaja.

Mengajari Anak Menyimpan Rahasia

Abdulllah bin Ja’far bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah memboncengku di belakangnya. Beliau kemudian membisikkan suatu pembicaraan kepadaku agar tidak terdengar oleh seorang pun.”

Tidak diragukan lagi bahawa rasa percaya Nabi saw kepada anak kecil untuk menyimpan rahsia akan membangun rasa percaya diri dalam jiwa anak. Sikap ini membuat anak merasa dapat dipercaya dan dapat memberi pemahaman betapa pentingnya tugas rahsia yang diembankan kepada dirinya. Hal ini pernah berlaku kepada Anas ketika Rasulullah saw menyuruhnya sehingga Anas terlambat kembali kepada ibunya. Ketika ia datang, ibunya bertanya kepadanya, “Apakah yang menyebabkanmu terlambat?” Anas menjawab, “Rasulullah saw telah menyuruhku untuk satu keperluan.” Ibunya bertanya, “Keperluan apa?” Anas menjawab, “Sesungguhnya ini rahsia.” Ibunya berkata kepadanya, “ Kalau begitu jangan sesekali kamu menceritakan rahsia Rasulullah saw kepada sesiapa pun.” Anas menyembunyikan rahsia kepada ibunya, demikian pula dia menyembunyikannya terhadap Tsabit yang mendengar kisah ini darinya. Anas berkata kepada Tsabit, “Demi Allah, seandainya aku menceritakan hal ini kepada seseorang, tentulah aku akan menceritakannya pula kepadamu, hai Tsabit.”

Makan Bersama Anak Sembari Memberikan Pengarahan dan Meluruskan Kekeliruan Mereka

Nabi saw sering makan bersama anak-anak. Tidak diragukan lagi ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk belajar dari guru besar mereka tentang etika menyantap makanan kerana memang tidak ada guru yang lebih baik pengajarannya dan lebih perhatian terhadap perkembangan anak selain Nabi saw.

Umar bin Abu Salamah bercerita, “Ketika masih kecil, aku berada di pangkuan Rasulullah dan tanganku menjalar ke mana-mana di atas nampan. Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Hai bocah, sebutlah nama Allah (berdoa), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.’ Maka senantiasa seperti itulah cara makanku sesudahnya.”

Dalam hal ini kita perlu berhenti sejenak untuk memperhatikan beberapa pengarahan yang begitu cepat dan reaksi jawapan yang begitu spontan serta kelestarian pengalamannya yang begitu konsisten, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh pelakunya sendiri. “Maka senantiasa seperti itulah cara makanku sesudahnya.” Perlu kita ketahui juga bahawa semua itu tidaklah datang dari kekosongan. Semua itu merupakan hasil dari langkah-langkah yang benar dan pendidikan yang lurus serta pantas yang diberikan kepada anak-anak seusia mereka dalam semua segi kehidupannya, baik saat senang maupun sedih, baik saat bermain maupun sedang sungguhkan, baik untuk menidurkan maupun sedang membangunkan mereka, juga saat memberikan mereka hak-haknya, mengakui eksistensi mereka, bersikap jujur terhadap mereka, dan tidak meremehkan mereka berkenaan dengan masalah makan, minum, berpakaian dan sebagainya. Maka hasilnya seperti yang kita lihat sendiri, buah yang manis lagi masak sepertimana yang diungkapkan oleh pelakunya sendiri, “Maka senantiasa seperti itulah cara makanku sesudahnya.”

Hal yang sama telah diterapkan seorang anak remaja yang lainnya bernama Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar tidak pernah melakukan shalat malam, maka Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar seandainya dia shalat malam.” Sesudah itu, dia hanya tidur sebentar saja setiap malamnya.

Hal ini termasuklah buah yang cepat masak. Apakah ini juga datang dari kekosongan? Tahukan anda bahawa metode yang digunakan Nabi saw adalah sebaik-baik metode? Metode yang digunakan Nabi saw adalah jalan pintas yang paling cepat untuk memetik buah yang masak dan anak-anak kita adalah buah hati dan juga belahan jiwa kita.

Abu Hurairah menuturkan bahawa Al-Hasan bin Ali telah memungut buah dari tumpukan buah kurma sedekah, kemdian langsung memasukkan ke dalam mulutnya. Rasulullah saw bersabda, “Ukh, ukh, keluarkan kembali kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahawa kita tidak boleh makan hasil sedekah?”

Di sini Nabi saw mencegah dengan ungkapan yang lembut, kemudian memberikan alasan kepada si anak penyebab larangannya, iaitu Nabi saw dan keluarganya tidak boleh makan sedekah. Hal ini harus diketahui oleh anak-anak agar kelak tidak mejadi pegangan baginya.

Hudzaifah berkata, “Bila kami menghadiri jamuan makan bersama Nabi saw, kami tidak berani meletakkan tangan kami terlebih dahulu sebelum Nabi saw meletakkan tangannya padanya. Suatu saat, kami menghadiri jamuan makan bersama Nabi saw. Tiba-tiba seorang pelayan perempuan datang dan langsung meletakkan tangannya ke hidangan makanan. Rasulullah menepis tangannya, kemudian bersabda, ‘Sungguh setan akan ikut makan bila tidak disebutkan nama Allah terlebih dahulu dan sesungguhnya setan sengaja datang melalui pelayan perempuan ini untuk ikut makan, tapi aku segera mencegah tangannya’.”

Adab ketika makan yang mesti diajarkan kepada anak-anak:

1. Mulakan dengan ucapan ‘basmalah’

Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW dari Aisyah r.a. yang bermaksud, “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah ‘bismillah’ dan jika ia lupa untuk mengucapkan ‘bismillah’ di awal makan, maka hendaknya ia mengucapkan ‘bismillah awwaluhu wa akhirahu’.” (Hadis riwayat Abu Daud no 3767 dan at-Tirmidzi)

2. Gunakan tangan kanan (tangan kiri dilarang)

Dari Salamah bin al-Akwa’ r.a., seorang lelaki sedang makan dengan tangan kirinya berhampiran dengan Rasulullah SAW. Maka baginda berkata: “Makanlah dengan tangan kananmu.” Lelaki itu berkata: “Aku tak boleh.” Baginda menjawab, “Engkau tidak boleh!? Tidaklah yang menghalangnya kecuali sifat bongkak!!” Kemudian tidak dapat diangkat tangannya ke mulut. (Hadis riwayat Muslim)

Dari Jabir r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, “Jangan engkau makan dengan (tangan) kirimu, sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan (tangan) kirinya.” (Hadis riwayat Muslim)

3. Galakkan menggunakan 3 jari

Digalakkan makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan, menyedikitkan suapan, memperbanyak kunyahan, makan dengan apa yang terdekat darinya dan tidak memulai dari bahagian tengah piring.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Wahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (Hadis riwayat Bukhari no.5376) dan sabda baginda lagi, “Keberkahan itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir piring dan janganlah memulai dari bahagian tengahnya.” (Hadis riwayat Abu Daud no. 3772)

Dari Ka’ab bin Malik r.a., “Aku melihat Rasulullah SAW makan menggunakan tiga jari…. (ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah).” (Hadis riwayat Muslim)

4. Makan yang berhampiran

Dari Umar bin Abi Salamah r.a. berkata, aku merupakan hamba di rumah Rasulullah SAW dan pernah tanganku menjalar-jalar ke serata hidangan (ketika hendak makan). Maka Rasulullah SAW berkata : “Wahai budak, ucapkan ‘bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang hampir denganmu.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

5. Mula makan dari tepi (pinggir)

Dari Ibn Abbas r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Keberkatan terdapat di tengah-tengah makanan, maka mulakan makan dari tepi dan jangan mulakan makan dari tengah.” (Hadis riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi)

6. Larangan mencela makanan

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Tidak sekali-kali Rasulullah SAW mencela makanan. Jika Baginda menyukainya, maka Baginda makan. Jika Baginda tidak menggemarinya, maka Baginda tidak makan.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

7. Anjuran bernafas 3 kali dan tidak meniup makanan/minuman

Tidak meniup pada makanan yang masih panas dan tidak memakannya hingga menjadi lebih dingin. Tidak boleh juga untuk meniup pada minuman yang masih panas, apabila hendak bernafas maka dianjurkan bernafas di luar gelas sebanyak 3 kali, sebagaimana riwayat Anas bin Malik r.a., “Rasulullah SAW jika minum, baginda bernafas (meneguknya) tiga kali (bernafas di luar gelas).” (Hadis riwayat Bukhari)

Dari Anas bin Malik r.a. beliau mengatakan, “Ketika Rasulullah SAW minum baginda mengambil nafas di luar wadah air minum sebanyak tiga kali.” Dan baginda bersabda, “Hal itu lebih segar, lebih selesa dan lebih nikmat.” Anas mengatakan, “Oleh kerana itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda dari Abu Said al-Khudri r.a., yang bermaksud, “Rasulullah SAW melarang untuk meniup (dalam gelas) ketika minum.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi no.1887)

8. Kutip/pungut makanan jatuh

Memungut makanan yang jatuh ketika saat makan sebagai cermin rasa syukur kita. Apabila ada sesuatu dari makanan yang terjatuh, maka hendaknya dibersihkan bahagian yang kotornya kemudian memakannya.

Dari Jabir r.a., Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, “Apabila jatuh sebahagian (kecil) makanan seorang dari kamu, ambil dan buang bahagian yang terkena kotoran dan makanlah ia, dan jangan tinggalkan ia untuk syaitan, dan jangan dia menyapu tangannya dengan kain sehingga dia menjilat jarinya dahulu kerana dia tidak mengetahui pada makanannya, bahagian mana yang terdapat keberkatan.” (Hadis riwayat Muslim)

Dalam riwayat yang lain, dari sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang di antara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bahagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan membiarkannya untuk syaitan.” (Hadis riwayat Ahmad)

9. Tidak bersandar ketika makan

Dari Abi Juhaifah Wahb bin Abdullah r.a. berkata : Rasullah SAW bersabda, “Aku tidak makan sambil bersandar.” (Hadis riwayat Bukhari)

10.Tidak terburu-buru mengambil makanan sebelum yang lain mengambilnya.

11.Tidak tergesa-gesa menelan suapan sebelum mengunyahnya dengan baik.

12.Tidak mengotori tangan dan pakaiannya

Advertisements
This entry was posted in Islamic Parenting, TARBIYATUL AULAD. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s