Bab 6 – “Di Manakah Wanita-wanita Barakah Itu? Bahagian 2”

Berapa Ukuran Mahar?
Suatu ketika, seorang wanita datang kepada Rasulullah s.a.w. Demikian yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dari Malik dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa’ad. Wanita itu menjumpai Rasulullah dan mengatakan, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah merelakan diriku untuk engkau nikahi.”

Wanita itu berdiri lama. Kemudian seorang lelaki berdiri dan mengatakan, “Ya Rasulullah, nikahkanlah dia dengan aku, jika engkau tidak berkenan menikahinya.”

Kemudian Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk memberinya mahar?”

Lelaki itu pun menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa selain kainku ini.”

Rasulullah kemudian bersabda lagi, “Jika engkau berikan kainmu itu, engkau tidak mempunyai kain lagi. Carilah sesuatu untuk diberikan kepadanya.”

Lelaki itu menjawab, “Aku tidak dapat menemukan apa pun.”

Akhirnya Rasulullah bersabda, “Carilah sesuatu meskipun hanya sebuah cincin besi.”

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis tentang ini dalam shahihnya, “Carilah maskawin meskipun hanya sebuah cincin terbuat dari besi.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa yang membayar dengan satu dirham, maka ia telah sah nikahnya.”

Menurut hadis ini, satu dirham saja telah mencukupi untuk menjadi mahar bagi sebuah pernikahan yang sah. Satu dirham telah mencukupi. Rasulullah Saw. juga bersabda, “Mahar yang paling baik adalah mahar yang paling sederhana.” (HR An-Nasa’i).

Sementara, Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis berkenaan dengan keberuntungan wanita dan mahar pernikahannya. Rasulullah s.a.w., dalam hadis itu, bersabda, “Sesungguhnya termasuk keberuntungan perempuan adalah mudah lamarannya, ringan maskawinnya, dan subur rahimnya.” (HR Ahmad).

Dari hadis-hadis ini, kita mendapat gambaran tentang kesederhanaan mahar. Sebuah cincin besi kalau memang tidak memungkinkan untuk memberi yang lebih, sudah cukup untuk menjadi maskahwin yang layak bagi sebuah pernikahan yang Islami.

Dalam riwayat lain, kita menjumpai kisah wanita Fuzarah menikah dengan memperoleh mahar berupa sepasang terompah. Lalu Rasulullah Saw. bertanya kerelaan wanita itu, “Apakah kamu mau menerima pernikahanmu dengan mahar sepasang terompah?”

Ia menjawab, “Ya saya terima.”

Kemudian Rasulullah menyetujui pernikahan itu. Demikian hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Amir bin Rabi’ah.


Memberatkan mahar
dapat membuat pernikahan kehilangan barakahnya.
Isteri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan.
Sedang suami merasakan kehampaan
ketika berada di rumah.

Harta yang sedikit sahaja, telah layak untuk menjadi mahar walaupun hanya satu dirham. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah setelah mengemukakan hadis-hadis yang berkenaan dengan bimbingan Rasulullah s.a.w tentang mahar, mengatakan:

“Hadis-hadis itu mengandungi ajaran bahawa mahar tidak ditetapkan batas minimumnya; segenggam gandum, sebuah cincin besi, dan sepasang terompah pun dapat dijadikan sebagai mahar dan sah pernikahannya. Hadis-hadis itu juga mengandung ajaran bahwa berlebihan dalam mahar makruh hukumnya dalam pernikahan dan mengurangi barakah perkawinan.”

Jika satu genggam tepung telah mencukupi sebagai mahar, kita menemukan ‘Abdurrahman bin ‘Auf memberi mahar satu nawat emas ketika menikah. Satu nawat, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan, bagi penduduk Madinah adalah seperempat dinar.

Menurut riwayat, Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu pernah mengatakan, “Sungguh, aku benci kepada maskahwin yang kurang dari sepuluh dirham. Hal ini kerana jangan sampai menyerupai maskahwin pelacur.”

Berapa besar mahar yang diberikan oleh Rasulullah kepada istri-istrinya? Abu Salamah r.a. menceritakan hadis berikut:

Aku telah berkata kepada Siti ‘Aisyah r.a. “Berapakah maskawin yang telah dibayar oleh Rasulullah s.a.w.?”

Ia menjawab, “Maskawin yang diberikannya kepada istri-istrinya adalah dua belas uqiyah dan satu nasy.” Ia bertanya, “Tahukah kamu berapakah satu nasy itu?”

Aku menjawab, “Tidak.”

Ia berkata, “Setengah uqiyah, jumlah semuanya seharga lima ratus dirham.” (HR Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’i).

Berapakah satu uqiyah itu? Syaikh Mansur Ali Nashif menceritakan, satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham. Sehingga 12 uqiyah ditambah satu nasy, berjumlah 500 dirham. 500 dirham bersamaan seperempat dinar, setara dengan nilai mahar ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

Menurut riwayat, Rasulullah s.a.w. tidak pernah memberikan mahar melebihi 12.5 uqiyah. Hanya Ummu Habibah yang mendapat mahar lebih dari 12.5 uqiyah, karena Raja Najasyi yang membayar maharnya, bukan Rasulullah s.a.w. sendiri.

Ummu Habibah menceritakan bahwa, dahulu dia menjadi isteri Ubaidillah ibnu Jahsy. Lalu Ubaidillah mati di negeri Habsyah. Kemudian Raja Najasyi mengahwinkannya dengan Nabi s.a.w. dan membayarkan maharnya sebanyak empat ribu dirham. Setelah itu Raja Najasyi mengirimkannya (Ummu Habibah) kepada Rasulullah s.a.w. dengan dikawal oleh Syuhrabil ibnu Hasanah. (HR Abu Daud, An-Nasa’i dan Ahmad).

Baik mahar Rasulullah s.a.w. mahupun mahar ‘Abdurrahman bin ‘Auf, nilainya mencapai 500 dirham. Sebuah jumlah yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Meskipun demikian, ada peristiwa yang dapat kita renungkan, ketika seorang sahabat memberikan mahar kepada isterinya.

Dari Abu Hurairah r.a bahawa, seorang lelaki datang dan berkata kepada Nabi s.a.w., “Aku telah menikahi seorang wanita Ansar.”

Lalu Rasulullah s.a.w bersabda, “Sudahkah kamu melihatnya? Sebab pada mata para wanita Anshar terdapat sesuatu.”

Dia menjawab, “Sudah, aku telah melihatnya.”

Rasulullah kemudian berkata, “Berapa mahar pernikahanmu?”

Dia menjawab, “Empat uqiyah.”

Rasulullah s.a.w kemudian berkata, “Empat uqiyah? Seolah kamu mengukir perak pada permukaan gunung ini. Kami tidak mempunyai sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu, akan tetapi mudah-mudahan kami dapat mengutus rombongan bersamamu yang dapat memberi bantuan.” Lalu Rasulullah pun mengirim utusan kepada Bani ‘Abs untuk pergi bersama laki-laki itu. (HR Muslim, shahih).

Apa maksud hadis ini? Kita dengarkan penjelasan Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim:

“Ungkapan ini,” kata Imam An-Nawawi, “memberi makna makruh memberi mahar melebihi kemampuan yang dimiliki suami pada saat pernikahan.”

Jadi, berapa ukuran mahar yang sesuai dan layak? Tidak dapat kita tentukan secara kuantitatif. Kita hanya boleh mengambil pelajaran agar mahar tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar.

Berapa ukuran mahar yang disebut terlalu besar?

Pertama, apabila mahar yang diberikan melebihi kemampuan yang dimiliki suami, seperti dalam kasus pemberian mahar empat uqiyah atau senilai 160 dirham, meskipun Rasulullah s.a.w. sendiri mahupun ‘Abdurrahman bin ‘Auf memberikan mahar kepada isterinya sebesar 12.5 uqiyah atau senilai 500 dirham.

Kedua, mahar yang diberikan berlebihan berbanding apa yang biasa berlaku dalam masyarakat. Sekalipun suami mampu memberikan mahar melebihi mitsil (mahar yang biasa berlaku dalam masyarakat), ada baiknya untuk menahan diri. Kelak, ia bisa memberikannya sebagai hadiah kepada istrinya. Ini akan menambah kecintaan istri.

Sementara bermewah-mewah dalam mahar, sehingga masyarakat membicarakannya, saya khawatir boleh membawa madharat. Permulaan tradisi adalah peristiwa-peristiwa seperti ini. Kalau tradisi ini menjadikan orang-orang di kemudian hari berpengharapan lebih, sementara para pemudanya menjadi takut menikah, apakah yang demikian tidak termasuk sunnah-sayyi’ah (kebiasaan baru yang buruk)? Wallahu A’lam bishawab.

Tetapi, apakah himbauan agar mahar tidak melebihi apa yang biasa berlaku dalam masyarakat tidak bertentangan dengan kisah Umar? Padahal Umar bin Khaththab telah mengakui kekhilafannya.

Ketika itu, Umar bin Khaththab melarang memberi mahar 40 mata uang perak. Barangsiapa yang melebihi itu, maka kelebihannya masuk Baitul-Mal. Kemudian seorang wanita membantah ucapan Umar bin Khaththab sambil menyebutkan ayat 20 surat An-Nisa’. Setelah mendengar teguran itu, Umar berkata, “Wanita ini benar, Umar salah.”

Mengenai kisah Umar bin Khaththab ini, marilah kita dengar penjelasan dari Shaleh bin Ghanim As-Sadlan. Walaupun kisah ini sangat popular, kata Shaleh bin Ghanim, tetapi di sana banyak jalan cerita yang menimbulkan keraguan. Apatah lagi kisah ini muncul jauh setelah zaman Umar dan tidak ditemukan dalam berbagai kitab yang dapat dijadikan sumber yang kuat. Banyak ulama dan ahli hadis yang tidak memakai kisah ini sebagai dalil dalam masalah mahar yang berlebihan. Mereka merasa cukup dengan petunjuk Nabi s.a.w. dalam masalah mahar. Dan Abu Bakar bin ‘Arabi menegaskan dalam kitab Ahkam Al Qur’an bahwa riwayat yang masyhur dari Umar adalah yang tidak bertentangan dengan masalah wanita.

Shaleh bin Ghanim lebih lanjut menjelaskan, sebahagian ahli hadis menyebutkan beberapa riwayat yang menyangkal adanya bantahan seorang wanita dengan ayat dan sikap yang ditunjukkan oleh Umar. Bahkan sebahagian di antara mereka mengajukan dalil tambahan yang menolak bantahan wanita itu terhadap Umar.

Kesimpulannya, sebaiknya mahar diberikan atas kerelaan kedua belah pihak. Kerelaan isteri diperlukan terutama ketika mahar yang diberikan jauh lebih kecil daripada yang biasa dan layak berlaku, seperti kisah mahar sepasang terompah bagi wanita dari kalangan Fuzarah. Kerelaan suami untuk memenuhi perintah Allah Swt. dalam surat An-Nisa’ ayat 4:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian  sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS An-Nisa’ [04]: 4).

Maskawin diberikan penuh kerelaan. Wanita menerimanya penuh kerelaan. Apalagi masa-masa mendekati akad nikah, sangat sensitif. Tepatlah yang dikatakan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. Kata beliau, “Pernikahan itu sangat sensitif dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya.”

Berlebihan Menuntut Mahar

“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah,” kata Rasulullah s.a.w., “adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya.”

Banyak ulama memperingatkan agar kita tidak berlebihan dalam mahar. Ada berbagai mudharat dan bahkan mafsadat (kerosakan) yang boleh berlaku jika berlebih-lebihan dalam urusan mahar. Apatah lagi, jika ketentuan besarnya mahar tidak lagi menjadi urusan wanita yang akan dinikahi dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya. Misalnya, keluarga bermaksud sama-sama memperoleh bahagian dari mahar yang diterima oleh anak gadisnya, sehingga mereka memberatkan mahar anaknya. Padahal mahar merupakan hak penuh wanita yang menikah. Dia yang memiliki mahar itu dan baginya mahar yang dibayar oleh suaminya. Bukan bagi keluarga mahupun orang tuanya.

Memberatkan mahar dapat membuat pernikahan menjadi kehilangan barakahnya. Isteri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan. Sedang suami merasakan kehampaan ketika berada di rumah. Melihat isteri tidak membuatnya bertambah sayang. Rumah tidak terasa lapang, meskipun secara zahirnya kelihatan luas dan besar.

Di sinilah kita boleh mengingat ulasan Syaikh Yusuf Qardhawi dalam buku Fatwa-fatwa Mutakhir (Fatawa Mu’ashirah). Ketika seorang pemuda bertanya mengenai beratnya maskahwin yang harus dibayarnya, Syaikh Yusuf Qardhawi menutup penjelasannya dengan satu peringatan tajam. Ia berkata, “Kepada segenap kaum muslimin saya berseru, demi Allah, kita diharamkan merintangi perkawinan dengan cara demikian itu.”

Apa yang terjadi jika mahar sudah berlebihan? Wallahu A’lam. Sepanjang yang saya ketahui, setidaknya ada dua lingkup mudharat bahkan mafsadat (kerosakan) yang boleh timbul akibat mahar yang berlebih-lebihan. Pertama, madharat dan mafsadat bagi isteri. Ini boleh terbawa-bawa dalam keluarga yang mereka bangun kelak. Kedua, mahar berlebih-lebihan boleh mempengaruhi sistem pernikahan masyarakat. Seterusnya, tindakan ini membentuk persepsi sosial tentang status sosial, stratifikasi sosial, pola interaksi dan rasa aman kolektif masyarakat, serta prasangka sosial (social prejudice).

Mengenai yang terakhir disebut, bukan tempatnya untuk dibahas di sini. Sekarang kita lengkapkan pembahasan mengenai madharat mahar yang berlebihan bagi isteri dan keluarga yang akan mereka jalani.

Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu pernah mengingatkan, “Jangan berlebihlebihan dengan mahar wanita, sebab hal itu akan menyebabkan permusuhan.”

Masalah ini juga pernah diingatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab. Abu Al- ‘Ajfa As-Sulami mengatakan, “Aku mendengar Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Jangan berlebihan dalam mahar wanita. Sebab seandainya mahar berlebihan itu  merupakan hal yang mulia dan sebahagian dari taqwa di sisi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak melakukannya. Tetapi Rasulullah tidak memberi mahar isteri-isterinya dan tidak pula puteri-puterinya menikah dengan mahar lebih dari dua belas uqiyah.

‘Seseorang berlebihan dalam memberi mahar kepada istrinya sehingga dapat menimbulkan permusuhan dalam dirinya kepada istrinya itu dan mudah baginya berkata: aku telah mengeluarkan biaya mahal untuk kamu dalam ikatan keluarga ini’.” (Shahih At-Tirmidzi, An-Nasa’i).

Saya merasa masih terhalang untuk menjelaskan masalah ini. Insya-Allah, saya akan menjelaskannya di kesempatan yang lain. Saat ini, saya ingin mengutarakan penjelasan singkat mengenai hikmah di balik urusan mahar ini.

Ketika pernikahan berlangsung melalui proses yang sederhana dan mahar yang ringan, insyaAllah yang tumbuh dalam hati suami adalah kasih sayang dan penerimaan. Sedangkan pada wanita adalah keredhaan dan kesetiaan. Ketika suami membayar mahar yang ringan karena yang dikehendaki isteri bukanlah besarnya mahar, suami akan merasakan masih belum banyak berbuat untuk istrinya. Dia perlu menjaga kepercayaan isteri yang diberikan kepadanya. InsyaAllah, dia akan merawat kerelaan isterinya dengan menyuburkan kasih sayang, penghormatan, dan kepercayaan.

Pada mahar yang ringan, ada kepercayaan tentang ketulusan cinta isteri. Ada kepercayaan tentang kesediaan isteri untuk berjuang bersama-sama. Ketika Ummu Sulaim mengatakan tidak meminta apa-apa kecuali keislaman Abu Thalhah, yang terkesan bukanlah keinginan calon isteri untuk kepentingan dirinya sendiri. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu: misi. Misi keselamatan bagi keduanya di dunia dan akhirat. Misi mengibarkan keharuman bendera agama.

Alhasil, di balik ringannya mahar ada kekayaan jiwa. Inilah kekayaan yang menenteramkan jiwa.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Sebaliknya, ketika mahar berlebihan, suami merasa telah memberikan ikatan. Dia telah banyak berkorban untuk mencapai ikatan pernikahan. Sehingga dia tidak begitu perlu untuk membina ikatan lagi. Sekarang, isterilah yang perlu banyak berkorban untuk membuat suasana rumahtangga seperti yang dia kehendaki. Isteri harus memahami tuntutan-tuntutan suami yang sayangnya sering tidak dikemukakan secara lisan. Bukankah isteri “seharusnya sudah mengerti apa tugasnya”?

Alhasil, pernikahan demikian tidak diikat dengan ikatan jalinan perasaan (al-‘athifah). Pernikahan semacam ini diikat dengan mahar. Ketundukan isteri pada suami bukan kerana semakin dalamnya kecintaan, melainkan kerana besarnya kekuasaan dan wewenang suami. Atau, semata-mata karena syari’at memerintahkan kepatuhan.

Kepatuhan yang pertama dapat semakin menyuburkan jalinan perasaan (al-‘athifah) isteri mahupun suami. Sehingga hubungan hati mereka semakin dekat sebagaimana ‘Abdurrahman bin Abu Bakar dan Atikah binti Amr. Sedangkan yang kedua boleh semakin menjauhkan keduanya dari perasaan saling merindukan dan kasih sayang. Ikatan mereka bukan lagi al-‘athifah (jalinan perasaan), melainkan serangkaian kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab hukum dan sosial.

Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.

Biarlah Rasulullah yang Menjadi Wali
Hari ini, ketika Anda sedang mempertimbangkan mengenai mahar dari suamimu, marilah kita mendengar nasihat Rasulullah s.a.w. Dalam sebuah khutbahnya, Rasulullah menjanjikan, Jangan mempermahal nilai maskahwin. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya. (HR Ash-habus Sunan).

Kalau Rasulullah menjadi wali pernikahan, Allah akan melimpahkan barakah-Nya. Mudah-mudahan pernikahan itu penuh barakah hingga ke anak-cucu. Mudah-mudahan dari pernikahan itu lahir anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimah laa ilaha illaLlah.

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, nescaya akan kamu dapati barakahnya. Kerana dengan meringankan mahar mereka dan memberi jalan mudah untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah kecelakaan yang akan menimpa wanita (yang dalam perwalian)mu jika kamu memberatkan maharnya dan menyukarkan  pernikahannya dan itu dapat menyebabkan akhlaknya menjadi buruk.”

Peringatan Penting
Setiap yang berlebihan adalah ketidakwajaran. Setiap ketidakwajaran akan mendatangkan keburukan (mudharat) dan kerusakan (mafsadat). Mahar yang berlebihan boleh menimbulkan permusuhan. Permusuhan antara suami dan isteri mahupun permusuhan antara keluarga. Tetapi mahar yang terlalu sedikit boleh menyebabkan wanita merasa tidak dihormati dan dihargai. Sehingga dia tidak merasa hormat kepada suami. Kerana itu, mudah-mudahan kita dapat mencapai kemaslahatan dalam urusan mahar ini. Seperti wanita dari kaum Fuzarah, Anda boleh menanyakan kerelaannya jika Anda hendak memberikan mahar yang sederhana. Jika suku calon isteri berbeza, bertanyakan kerelaannya juga dimaksudkan agar isteri tidak merasa kurang dihargai. Barangkali mahar dari Anda di luar kelaziman masyarakat setempat.

Wallahul Musta’an.

Jalinan Perasaan yang Barakah
Suatu ketika Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang wanita menyedekahkan maharnya kepada suaminya sebelum si suami menggaulinya, maka Allah menulis (kebaikan) baginya untuk setiap satu dinar dengan pahala membebaskan budak.”

Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana jika hal itu diberikan setelah berhubungan?”

Beliau menjawab, “Hal itu termasuk kecintaan (mawaddah) dan keharmonisan.”

Menyedekahkan mahar kepada suami setelah merasakan hubungan intim, insyaAllah akan menumbuhkan cinta dan keharmonisan. Mereka merasakan suasana rumahtangga yang diliputi oleh kerinduan dan kehangatan cinta. Bagi mereka sakinah (ketenteraman), mawaddah dan rahmah. Syaratnya, isteri menyedekahkan dengan senang hati.

Dalam kitab suci Al Qur’an Allah Swt mengabarkan masalah maskawin (shadaq), antara lain:

Berikanlah maskahwin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskahwin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS An-Nisa’ [04]: 4).

Jika Anda ingin menyerahkan sebahagian mahar Anda kepada suami dengan senang hati dan penuh kerelaan, sampaikanlah dengan cara yang sebaik-baiknya. Sampaikan dengan perkataan yang menyejukkan dan lemah lembut, sehingga tidak membuat suami merasa pemberiannya kurang bermakna. Ingatlah perkataan Ummu Sulaim kepada Abu Thalhah ketika hendak menikahinya. Mudah-mudahan mahar yang Anda sedekahkan kepada suami dapat menjadi pemberian yang sedap lagi baik akibatnya. Mudah-mudahan Allah melimpahkan kebarakahan yang berlimpah.

Tuntutan psikis yang tinggi
menjadikan apa yang dipandang selalu kurang.
Kalau Anda memakai kacamata gelap,
matahari yang terang pun kelihatan redup!


Peringatan bagi Suami

Allah dan RasulNya membolehkan wanita menyerahkan maharnya kepada suami dengan penuh kerelaan. Di dalamnya, insyaAllah akan diperolehi keindahan dan kesan yang baik.

Tetapi, hal ini tidak boleh menjadi alasan bagi suami untuk mendesak isteri agar menyerahkan mahar yang telah dibayarnya. Tidak. Sama sekali tidak boleh. Sebab, syarat penyerahan mahar adalah kerelaan dengan senang hati. Boleh jadi isteri menyerahkan mahar yang telah diterima kerana desakan suami, tetapi dia masih berharap akan memperoleh kembali walaupun dia tidak mengatakannya. Yang demikian ini termasuk beratnya hati. Bukan kerelaan. Bukan tindakan yang dilakukan dengan rela hati.

Isteri yang menyerahkan mahar dengan senang hati, boleh jadi mempunyai harapan  untuk memiliki perhiasan. Tetapi bentuk pengharapannya berbeza. Dia berharap kerana ada rasa yakin. Jika suami dilapangkan rezekinya, dia akan dengan senang hati memberikan perhiasan seperti yang dikehendaki.

Jadi, jangan sekali-kali mendesak isteri untuk menyerahkan maharnya sebagai pemberian kepada suami. Ingatlah peringatan Rasulullah s.a.w. yang disampaikan di hari-hari terakhir menjelang kewafatannya.

Kata Rasulullah, “Barangsiapa menikahi seorang perempuan dengan harta yang halal, tetapi menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal kecuali kehinaan dan kerendahan. Sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan menyuruhnya berdiri di tepian jahannam dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh tujuh puluh kharif (ukuran panjang). Siapa yang merampas mahar isterinya (atau tidak membayarnya) di sisi Allah dia menjadi penzina. Allah akan berkata kepadanya di hari kiamat, “Aku menikahkan kamu kepada hambaKu dengan perjanjianKu. Engkau tidak memenuhi perjanjian itu.” Allah akan menagih hak isterinya dan bila dia tidak mampu membayar dengan seluruh kebaikannya, dia dilempar ke neraka.”

Betapa sedikit perolehannya. Betapa pedihnya neraka. Tak ada peluang untuk bertemu dan melihat keramahan Rasulullah di yaumil-mahsyar bagi mereka yang merampas mahar istrinya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari hal-hal yang demikian.

Rasulullah s.a.w. mengingatkan,
Sesiapa saja lelaki yang mengahwini seorang wanita dengan mahar yang sedikit atau banyak, tetapi di dalam hatinya bermaksud tidak akan menunaikan apa yang menjadi haknya itu kepadanya, bererti dia mengecohnya. Bila dia mati sebelum menunaikan hak perempuan itu, maka kelak pada hari kiamat ia akan bertemu dengan Allah sebagai orang yang berzina. (HR Thabrani).

Seorang suami dilarang mencari-cari alasan untuk menyudutkan isterinya sehingga dia mendapat peluang untuk tidak memberi maskahwin. Suami juga tidak boleh menarik kembali maharnya dengan alasan apapun. Isteri boleh menyedekahkan sebahagian maharnya kepada suami. Meskipun demikian, itu harus merupakan pemberian yang penuh kerelaan dan senang hati. Memberi dengan penuh kerelaan.

Bukan atas desakan-desakan suami yang dapat menyebabkan isteri terbeban secara psikologi, kerana dalam hati dia merasa tidak rela.

Ini tidak boleh terjadi. Ini justeru boleh menjadikan isteri tidak hormat pada suami. Sekaligus merupakan bibit nusyuz (pembangkangan) isteri kelak di kemudian hari. Akhirnya, keluarga jauh dari barakah dan sakinah. Na’udzubillahi min dzalik.

Sekali lagi, suami tidak boleh menimbulkan situasi yang membuat isterinya merasa sungkan atau tidak selesa kalau tidak memberikan maharnya. Mari kita perhatikan nasihat Abdul Hamid Kisyik, “…. Dengan kata lain berikanlah mahar kepada wanita yang telah kamu pilih sebagai pemberian penuh kerelaan tanpa kecenderungan dan pamrih. Kemudian jika mereka memberikan sebagian dari mahar itu kepadamu setelah mereka miliki tanpa paksaan sedikit pun ataupun merasa malu dan tertipu maka terima dan ambillah itu sebagai anugerah bukan dianggap sebagai suatu hal yang menyedihkan atau suatu kesalahan.

“Apabila seorang isteri memberikan hartanya kepada suaminya kerana merasa sungkan, takut atau terpaksa maka tidak halal bagi suami untuk mengambilnya, firman Allah Swt.: Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? (QS An-Nisa’:20).

Bagaimana kamu akan dapat mengambilnya kembali padahal kamu telah menggaulinya sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha). (QS An-Nisa’: 21).”

Mahar adalah hadiah. Sedangkan hadiah dapat menumbuhkan dan menguatkan perasaan sayang dan cinta-kasih, seperti yang disinyalir oleh sebuah hadis Rasulullah s.a.w., “Berikanlah hadiah, itu akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta.”

Hak Atas Mahar
Walaupun perbahasan ini kurang relevan, tapi saya harus membicarakannya agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami pembicaraan saya sebelumnya. Di awal sub bab Berlebihan Menuntut Mahar saya telah mengatakan, “Padahal mahar merupakan hak penuh wanita yang menikah. Ia yang memiliki mahar itu dan baginya mahar yang dibayarkan suaminya. Bukan bagi keluarga maupun orangtuanya.”

Maksud pembicaraan ini, ketika berlangsung pernikahan wanitalah yang berhak atas  mahar itu, termasuk kerelaan atas sedikitnya banyaknya jumlah mahar yang diterima. Hak ini ada pada wanita yang akan menikah dan baginya mahar tersebut. Bukan keluarganya.Tetapi setelah menjadi hak penuh wanita, dia boleh memberikan kepada sebahagian keluarganya. Atau, dia simpan sendiri.

Mudah-mudahan pembicaraan singkat ini memberi penjelasan, sehingga tidak ada jalan bagi mereka yang ingin memberat-beratkan mahar melalui anak gadisnya. Mari kita ingat peringatan ‘Abdul Hamid Kisyik, seorang ulama Mesir yang memiliki pena tajam. Beliau berkata, “Jika mahar dibuat mahal, akhirnya menyebabkan kerusakan dan keresahan di muka bumi. Hal ini tidak lagi maslahat untuk ummat. Karena itu, wanita yang paling sedikit maharnya justru memiliki keagungan dan akan mendapat kebarakahan yang amat besar.”

bersambung pada bahagian ketiga…

Mohammad Fauzil Adhim

(Kado Pernikahan)

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s