Islamic Parenting (Usia 4-10 Tahun) Bahagian 2

Jangan Mencela Anak

Rasulullah saw adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau sangat menghindari mencela anak, biar apa pun yang anak lakukan. Nabi saw mengambil sikap ini untuk menanamkan perasaan punya malu serta menumbuhkan keutamaan sikap mawas diri dan ketelitian yang berkaitan erat dengan akhlak mulia. Semuanya itu dirasakan sebagai sentuhan pendidikannya yang begitu tinggi oleh Anas yang pernah melayani Rasulullah saw. Anas mengatakan, “Aku melayani Rasulullah selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan, ‘Ah,’ tidak pernah menanyakan, ‘Mengapa engkau lakukan itu?’ dan tidak pula mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’.”

Anas juga mengatakan, “Beliau tidak pernah sekali pun memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian akan manangguhkan pelaksanaannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari ahli baitnya mencelaku, beliau justru membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah terjadi.”

Biasa kedengaran seandainya kita bersikap lemah lembut dan bertoleransi, anak akan bertambah berani melakukan kesalahan dan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkannya dan membimbingnya. Ada juga mengatakan metode yang digunakan oleh Nabi saw adalah yang terbaik, tetapi keadaan para pemuda telah berubah begitu juga suasana generasi masa kini, Di samping itu, kita tidak sehebat Nabi saw.

Kami katakan bahawa dalam menjalankan misi pendidikannya, hal yang dikhuwatirkan itu tidak oleh Anas, Ibnu Abbas, Zaid bin Haritsah, dan putranya Usamah bin Zaid, anak-anak Ja`far, anak-anak pamannya Al- Abbas maupun anak-anak lainnya, yang pendidikan mereka ditangani oleh Nabi saw? Mengapa mereka semua justru menjadi tokoh dan imam memberi petunjuk kepada manusia? Nabi saw telah berinteraksi dengan sejumlah pemuda dengan karakter-karakter yang berbeza. Terdapat pemuda yang datang kepada Nabi saw meminta izin untuk berzina maka beliau dengan cara lemah lembut dan paling bijaksana memegang tangan menuju jalan keselamatan dan tobat. Beliau pernah berinteraksi dengan pemuda yang suka membuat rusuhan. Mereka suka melempari pohon kurma orang lain dan mengambil buahnya yang sudah masak. Beliau pernah berinteraksi dengan pemuda Yahudi ketika detik-detik akhir hidup pemuda tersebut dan beliau menyerunya untuk masuk Islam. Akhirnya, sang pemuda memeluk Islam setelah meminta izin ibu bapanya beragama Nasrani melalui isyarat matanya. Nabi saw juga pernah berinteraksi dengan sejumlah orang yang suka membuat kesalahan, kemaksiatan dan mabuk, pada akhirnya mereka keluar dari hadapannya dalam keadaan telah sedar dan kembali ke jalan yang benar. Hal ini telah dinyatakan oleh pengakuan mereka sendiri bahawa mereka belum pernah melihat seorang pengajar pun yang lemah lembut dan lebih baik daripada beliau.

Mereka semua diperlakukan dengan sikap lemah lembut dan bijaksana, sehingga hasilnya pun sangat positif. Perbezaan yang nyata sebenarnya ialah kita terlalu cepat mengambil keputusan dan sangat tergesa-gesa untuk meraih hasil, tanpa sabar dan tekun. Padahal Nabi saw sendiri selalu berpesan kepada kita supaya bersabar. Penyertaan ibu bapa di peringakat awal tumbesaran anak sangatlah penting terutamanya apabila anak melakukan sesuatu yang salah dan ibu bapa akan menemukan banyak hal yang kita lalaikan terhadap mereka.

Al Ghazali memberi nasihat, “Janganlah banyak mengarahkan anak dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak. Untuk itu, janganlah ia sering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknya dengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.”

Mengajarkan Akhlak Mulia

Anas menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimu dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah. Yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku di dalam surga.”

Nabi saw mendidik mereka, baik pada pagi hari maupun petang hari agar berhati suci, berjiwa bersih, dan berlapang dada, sebagai persiapan untuk menghadapi suatu hari yang tidak berguna lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang datang dengan membawa hati yang bersih.

Lantas apa landasan berfikir kita bila mendidik anak-anak pada masa sekarang untuk membiasakan ucapan selamat pagi dan selamat petang? Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Tahukah anda makna mendidik generasi agar berpagi hari dan berpetang hari dengan hati yang bebas dari kecurangan terhadap seseorang. Bacalah hadits berikut agar kita mengetahui maknanya.

Anas bin Malik berkata, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba beliau bersabda, “Akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni syurga.’ Maka muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar. Dari jenggotnya masih menitis air dari bekas wudhu’nya. Dia membawa terompahnya di tangan kiri. Lelaki itu melakukan hal serupa sebanyak tiga kali dalam tiga hari berturut-turut. Pada hari ketiga, setelah Nabi beranjak, Abdullah bin Amr bin Ash mengikutinya dan meminta izinnya untuk menginap di rumah lelaki itu selama tiga malam dan ia mengizinkannya.”

Anas melanjutkan, “Abdullah telah bercerita selama tiga malam dia menginap di rumah lelaki itu, ternyata ia tidak melihat lelaki itu melakukan solat malam barang sekali pun. Akan tetapi, bila terjaga dari tidurnya dan mengubah posisi tidurnya di atas peraduan, dia selalu berzikir menyebut nama Allah dan bertakbir sampai waktu ia bangun untuk menunaikan solat subuh. Abdullah mengatakan, “Hanya saja, saya tidak pernah mendengar ia mengucapkan apa pun, kecuali kebaikan belaka. Setelah tiga malam berlalu, aku hampir saja meremehkan amal perbuatannya. Lalu aku berkata, ‘Hai hamba Allah, aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda berkenaan denganmu bahawa akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni syurga, lalu muncullah engkau yang terjadi hal ini sebanyak tiga kali selama tiga hari berturut-turut. Aku pun ingin menginap di rumahmu untuk melihat apa saja amalanmu agar aku dapat mengikut jejakmu. Akan tetapi, ternyata kulihat engkau tidak melakukan banyak amal seperti aku perkirakan sebelumnya. Kerananya, apakah yang menyebabkan engkau dapat mencapai kedudukan mulia seperti yang digambarkan oleh Rasulullah saw?’

Lelaki itu menjawab, “Tiada lain yang aku lakukan hanyalah seperti apa yang telah kamu lihat. Hanya saja, tidak pernah terbesit dalam hatiku perasaan curiga terhadap seseorang pun dari kalangan kaum Muslimin dan tidak pula rasa iri terhadap seseorang kerana kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr bin Ash pun mengatakan, “Inilah penyebab yang menghantarkanmu hingga dapat meraihnya, dan itulah yang belum mampu kami lakukan.”

Apa pelajaran yang kita boleh ambil daripada hadis tersebut?

Ibnul Qayyim berkata, “Di antara aspek yang sangat perlu diperhatikan dalam pendidikan anak adalah persoalan akhlak. Sebab anak akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan yang ditanamkan oleh pendidik di masa kecilnya, misalnya galak, suka marah, keras kepala, terburu-buru, cepat tergoda oleh hawa nafsu, ceroboh, dan cepat naik darah. Bila sudah demikian, orang tua akan sulit menghilangkannya ketika anak telah dewasa. Semua akhlak buruk itu akan berubah menjadi sifat dan karakter yang tertanam dalam dirinya. Meskipun anak telah berusaha keras untuk menjauhinya, sifat ini suatu saat akan muncul lagi. Oleh kerana itu, anda dapat menemukan banyak orang yang akhlaknya menyimpang disebabkan oleh pendidikan waktu kecil yang salah.

Demikian juga, anak harus dijauhkan dari berkumpul dalam perbuatan yang sia-sia, kebatilan, nyanyian, mendengarkan kata-kata keji, bid`ah, dan ucapan yang buruk. Bila anak telah terbiasa mendengar akan hal itu, ia akan kesulitan untuk menjauhinya ketika dewasa. Mengubah kebiasaan adalah merupakan perkara yang paling sulit. Perlu pembaharuan karakter untuk mengubah suatu kebiasaan. Padahal keluar dari kongkongan karakter itu sangat sulit.

Orang tua wajib menjauhkan anak dari meminta-minta, semaksimal mungkin. Sebab bila ini telah berubah menjadi karakter, ia akan tumbuh untuk menjadi orang yang paling senang meminta-minta, bukan menjadi orang suka memberi. Sebaliknya anak harus dibiasakan untuk senang berkorban dan memberi. Bila orang tua hendak memberi sesuatu, sebaiknya diberikan kepada anaknya agar ia menyerahkan barang itu kepada orang yang diinginkan agar ia merasakan manisnya memberi. Menjauhkan anak dari kebiasaan berdusta dan khianat lebih besar dari manfaatnya dari menjauhkannya dari racun yang membunuh. Sebab bila anak tumbuh menjadi orang yang suka berbohong dan khianat, rusaklah kebaikan dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

Anak harus dijauhkan dari banyak makan dan tidur dan dijauhkan dari orang yang melakukan hal tersebut. Sebab, berlebih-lebihan akan membuatkan seorang hamba kehilangan kebaikan di dunia dan akhirat. Anak mesti dijauhkan dari bahaya syahwat yang berkaitan dengan perut dan kemaluan semaksimal mungkin. Bila anak telah terbiasa, hal ini akan merusaknya dan menghinakan dirinya meski sebelumnya orang baik. Orang tua sedang mencelakakan anaknya dan mematikan hatinya di dunia dan akhirat dengan membiarkannya, tidak mendidiknya dan membantunya untuk mengikut nafsu, Terlebih bila beranggapan bahawa perbuatannya itu merupakan bentuk memuliakan anak. Ia menganggap bahawa itu merupakan bentuk kasih sayang terhadap anak padahal ia menzalimi dan memenjarakannnya. Akhirnya ia tidak akan bisa mengambil sebarang keuntungan dari anaknya samada di dunia dan akhirat. Bila anda ingin mengetahui kerusakan pada anak, lihatlah bagaimana keadaan umum orang tua mereka.”

Al Ghazali mengatakan, “Anak harus dibiasakan agar tidak meludah atau mengeluarkan ingus di majelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidak pantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil.”

Sebaiknya jangan izinkan anak memulai pembicaraan. Biasakanlah untuk tidak berbicara, selain untuk menjawab sesuai dengan kadar pertanyaan. Hendaklah anak dibiasakan mendengar dengan baik jika orang lain yang lebih besar berbicara. Biasakan juga untuk menghormati orang yang lebih tua, meluaskan tempat duduk baginya, duduk di hadapannya dengan sopan, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna, tidak mengucapkan kutukan dan makian, serta tidak bergaul dengan orang yang terbiasa mengeluarkan kata-kata tersebut. Itu semua tidak mustahil kerana anak terpengaruh dengan teman-teman yang buruk, padahal pokok pendidikan bagi anak adalah menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk.”

“Anak harus dibiaskan agar tidak meludah atau mengeluarkan hingus di majlis, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu. dan menyandarkan kepala ke lengan, kerana beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan bahawa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidak pantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil..”

Advertisements
This entry was posted in Islamic Parenting, TARBIYATUL AULAD. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s