Bab 6 – “Di Manakah Wanita-wanita Barakah Itu? Bahagian 1”

Rasulullah bersabda, “Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sukar menikahinya, dan buruk akhlaknya.”

Menikah hampir menyamai kemuliaan agama. Perjanjian nikah disebut mitsaqan-ghalizhan. Istilah ini tidak pernah dipakai dalam Al Qur’an, kecuali hanya untuk tiga peristiwa. Satu untuk perjanjian akad nikah, dan dua kali untuk perjanjian tauhid.

Dalam masalah tauhid, pembelaan terhadap kebenaran agama dari mereka yang menyerang, bisa dilakukan dengan mubahalah (perang doa). Masing-masing pihak memohon kepada Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh agar pihak yang salah mendapat kutukan. Mendapat azab.

Hal yang sama juga kita jumpai dalam pernikahan. Ada yang serupa dengan mubahalah dalam pernikahan, yaitu li’an. Keduanya merupakan perang doa. Jika mubahalah disebutkan dalam satu ayat, kita mendapati Al Qur’an menerangkan tentang li’an tidak cukup satu ayat. Allah Swt. berfirman:

“Dan orang-orang yang menuduh isteri mereka (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta.

Dan isterinya itu akan dihindarkan dari hukuman, apabila sumpah empat kali atas nama Allah yang dilakukan suaminya itu adalah dusta. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” (QS An-Nur [24]: 6-9).

Bila perceraian biasa dapat diakhiri dengan rujuk dan masih terbuka kesempatan untuk menyulam kebahagiaan bersama-sama seperti sebelumnya, maka tidak demikian dengan li’an. Dua orang yang telah bercerai setelah keduanya saling me-li’an (melaknat) haram untuk bersatu kembali untuk selama-lamanya.

Rasulullah Saw., bersabda,

“Dua orang suami-isteri yang saling melaknat, apabila telah berpisah (bercerai), maka tidak akan pernah bertemu lagi selamanya.” (Hadis Shahih).

Jadi, tak ada lagi ruang untuk menyatukan hati yang telah berpisah, ketika penyesalan datang. Apabila sebelumnya keduanya saling melaknat, tidak ada lagi kesempatan untuk menghayati kebersamaan dan kebahagiaan ketika mereka menyedari kesalahan-kesalahannya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak pernah sedikit pun tergelincir ke dalam prasangka yang buruk terhadap teman hidup kita, karena prasangka yang buruk merupakan bibit li’an.

Pernikahan sangat penting dalam pandangan Islam. Pernikahan menjadi sunnah Rasul. At-Tirmidzi, Imam Ahmad ibn Hanbal, dan Al-Baihaqi pernah meriwayatkan sebuah hadis bahawa Rasulullah Saw. bersabda, “Empat macam perkara termasuk sunnah-sunnah para Rasul, iaitu: memakai inai, memakai wangian, bersiwak, dan menikah.”

Pernikahan merupakan bukti kekuasaan Allah Yang Maha Mulia. Dia menciptakan kasih-sayang dan kerinduan-kerinduan. Dia memberikan ketenteraman yang tidak pernah dapat dirasakan oleh orang yang belum menikah. Rumah bagi mereka yang menikah adalah tempat yang menyejukkan. Tiap-tiap anggota keluarga insya-Allah memperoleh ketenteraman dan terjalin ikatan kasih-sayang.

Pernikahan yang barakah akan menumbuhkan al-‘athifah (jalinan perasaan) yang demikian. Mereka akan mendapati pernikahan sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ar-Rum ayat 21, surah yang paling popular untuk penghias undangan pernikahan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram dengannya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui.”

Dalam pernikahan yang barakah, insya-Allah akan tumbuh sakinah. Antara suami dan isteri, tumbuh perasaan kasih dan sayang. Perasaan ini bukan sejenis luapan-luapan sesaat, sehingga semakin kering ketika pernikahan sudah dimakan usia. Apabila sebuah pernikahan barakah, suami merasa semakin sayang ketika tertegun memandang isterinya yang semata wayang. Isteri merasakan getaran cinta yang semakin mendalam saat memandang wajah suaminya.

Bagaimana keluarga yang sakinah itu? Allahu A’lam bishawab. Hadis berikut mudah-mudahan dapat memahamkan kita sebagian di antara tanda-tandanya.

“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw. menunjukkan, “adalah isteri solehah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia dapat menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kenderaan yang baik yang boleh membawa ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah isteri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak mampu menjaga lidahnya juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak mampu menjaga kehormatan diri dan hartamu; kenderaan rosak yang jika dipakai hanya membuatmu letih namun jika kamu tinggalkan tidak bisa membawamu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”

“Akan lebih sempurna ketakwaan seorang Mukmin,” kata Rasulullah Saw., “jika ia mempunyai seorang isteri solehah; jika diperintah suaminya ia patuh, jika dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah membuatnya merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta suaminya.”

Tetapi, tidak semua pernikahan mendapatkan barakah. Adakalanya, indahnya pernikahan segera kering setelah masa pengantin baru berlalu. Setahun belum berlalu, tetapi rumahtangga sudah dipenuhi oleh rasa jemu. Anak belum lagi satu, malah isteri baru menjalani kehamilan pertama, tetapi hubungan keduanya justeru semakin kaku. Bahkan lebih kaku dibanding malam pertama, saat keduanya masih belum begitu kenal.

Apa yang menyebabkan pernikahan tidak barakah? Wallahu A’lam bishawab. Saya hanya bisa berharap kepada Allah Swt semoga Dia menjadikan pernikahan saya, juga pernikahan Anda, dibarakahi dan diredhai-Nya. Dengan demikian, pernikahan semakin mendekatkan kita kepada-Nya. Bukan justeru mendatangkan kekecewaan-kekecewaan yang membuat kita sukar bersyukur kepada Allah Swt. Betapa banyak nikmat Allah. Akan tetapi alangkah sukarnya mensyukuri sekian banyak karunia-Nya, kalau hati penuh kekecewaan.

Tulisan ini merupakan doa saya, mudah-mudahan saya dan Anda mencapai pernikahan yang barakah. Sejauh yang saya mampu, saya berusaha untuk membahas beberapa hal yang menjadikan pernikahan tidak barakah atau berkurang kebarakahannya. Mudah-mudahan, dengan demikian saya dan Anda semuanya dapat mengambil pelajaran. Sehingga kita bisa menghindarkan diri dari keadaan-keadaan yang mengurangkan barakah. Apalagi sampai menghilangkan.

Ada pernikahan yang penuh barakah. Ada pernikahan yang sedikit kebarakahannya. Dan yang paling menakutkan, adalah pernikahan yang tidak akan pernah ada kebarakahan di dalamnya.

Pernikahan yang bagaimanakah yang tidak akan pernah ada kebarakahan di dalamnya? Rasulullah Saw. menunjukkan, “Barangsiapa yang menikahkan (puterinya) kerana   kagum dengan kekayaan lelaki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya.”

Sebagian pernikahan kurang barakah karena niatnya yang tidak tepat. Sebagian disebabkan oleh berbagai hal selama proses berlangsung. Sebagian dipengaruhi oleh pelaksanaan pernikahan. Sebagian disebabkan akhlak setelah menikah. Tetapi perubahan akhlak setelah menikah, banyak disebabkan oleh niat orang yang menikah dan yang menikahkan (karena itu, ajaklah orangtua berbicara). Pernikahan yang barakah insya-Allah justru menjadikan akhlak keduanya semakin baik. Bila sebelumnya masih kurang sesuai dengan keutamaan akhlak, insya-Allah setelah menikah mereka menjadi baik akhlaknya. Ini berdasarkan hadis Nabi:

“Kawinkanlah (zawwajuu) orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rizki mereka, dan menambah keluhuran mereka.”

Mengenai niat, insya-Allah kita akan membahasnya tiga bab mendatang. Sementara beberapa aspek yang mempengaruhi kebarakahan dan sakinah dalam pernikahan, sudah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya, walaupun masih terbatas. Pada bab ini, saya ingin mengajak Anda untuk menyelami beberapa peringatan berikut, dengan segala keterbatasan yang ada pada saya saat ini (semoga Allah mengampuni kesalahan dalam pembahasan ini dan memberikan petunjukNya). “Sesungguhnya,” kata Rasulullah Saw., “termasuk dari keberuntungan perempuan adalah mudah lamarannya, ringan mas kahwinnya, dan subur rahimnya.” (HR Ahmad).

Sabda Rasulullah Saw.:

“Wanita yang paling agung kebarakahannya, adalah yang paling ringan maharnya.” (HR Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih).

Rasulullah juga mengingatkan,

“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sukar menikahinya, dan buruk akhlaknya.”

Pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Anas r.a., Rasulullah bersabda, “Orang yang menikahi wanita karena kedudukannya, Allah hanya akan menambahinya kehinaan; yang menikahinya karena kekayaannya, Allah hanya akan memberinya kefakiran; yang menikahinya karena nama besar keturunannya, Allah justeru akan menambahinya kerendahan. Namun, lelaki yang menikahi wanita hanya karena menjaga pandangan mata dan memelihara nafsunya atau untuk mempererat hubungan kasih-sayang (silaturrahim), maka Allah akan membarakahi lelaki itu dan memberi kebarakahan yang sama pada wanita itu sepanjang ikatan pernikahannya.”

Cukup sampai di sini kutipan kita terhadap hadis-hadis Nabi mengenai pernikahan dan kebarakahannya. Sekarang, marilah kita melanjutkan pembahasan kita. Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita, kemudian melimpahkan barakah dan redha-Nya. Allahumma amin.

Rasulullah tidak pernah memberikan mahar melebihi 12 uqiyah.

Masalah Mahar

Mahar atau maskawin, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan dalam buku Mahar & Walimah, merupakan satu hak yang ditentukan oleh syariah untuk wanita sebagai ungkapan hasrat laki-laki pada calon istrinya, dan juga sebagai tanda cinta kasih serta ikatan tali kesuciannya. Maka mahar merupakan keharusan tanpa boleh ditawar oleh laki-laki untuk menghargai pinangannya dan simbol untuk menghormatinya serta membahagiakannya.

Mahar disebut juga dengan istilah yang indah, yakni shidaq. Shidaq berarti kebenaran. Mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih lelaki yang meminangnya. Ia merupakan bukti kebenaran ucapan lelaki atas keinginannya untuk menjadi suami bagi orang yang dicintainya. Mahar bukanlah harga atas diri seorang wanita. Wanita tidak menjual dirinya dengan mahar. Namun ia membuktikan kebenaran kesungguhan, cinta, dan kasih sayang lelaki yang bermaksud kepadanya dengan mahar.

Jadi, makna mahar atau maskawin dalam sebuah pernikahan lebih dekat kepada syari’at agama dalam rangka menjaga kemuliaan peristiwa suci. Mahar adalah syarat sahnya sebuah perkahwinan. Juga, sebagai ungkapan penghormatan seorang lelaki kepada wanita yang menjadi isterinya. Memberikan mahar merupakan ungkapan tanggungjawab kepada Allah sebagai Asy-Syari’ (Pembuat Aturan) dan kepada wanita yang dinikahinya sebagai teman seiring dalam meniti kehidupan berumahtangga.

Kelak, mahar merupakan aspek penting yang banyak memberi pengaruh apakah sebuah pernikahan akan barakah atau tidak. Kita telah membaca beberapa hadis Nabi berkenaan dengan hal ini di awal bab. Oleh karena itu, saya tidak membahasnya lagi.

Saat ini, kita lebih baik melanjutkan pembahasan kita mengenai berbagai hal dalam masalah mahar.

Sebaik-baik Mahar

Ada kenangan indah dalam sejarah. Tak hanya orang-orang di zaman Rasulullah yang terkesan. Orang-orang yang hidup jauh sesudah Rasulullah tiada, masih sering menyebut-nyebut dengan penuh penghormatan. Perjalanan hidupnya banyak yang diabadikan oleh Al Qur’an dan Al-Hadis. Keturunannya menambah keharuman Islam. Sebuah pernikahan yang benar-benar penuh barakah.

Mengenai pernikahannya, Tsabit berkata, “Belum pernah aku mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim. Ia hidup rukun bersamanya dan melahirkan anak.”

Apa mahar Ummu Sulaim? Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad sebagaimana disebut dalam Mahar & Walimah, mencatat: …. Dan dalam Sunan An-Nasa’i bahwa Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim lalu berkata, “Demi Allah, wahai Abu Thalhah, orang seperti Anda tidak akan ditolak (melamar wanita), akan tetapi Anda seorang kafir, sedangkan saya seorang Muslimah. Tidak halal bagiku untuk menikah dengan Anda.

“Namun jika Anda masuk Islam, maka yang demikian dapat menjadi maharku. Saya tidak meminta selain itu.”

Kemudian Abu Thalhah masuk Islam dan masuk Islamnya itu merupakan mahar untuk Ummu Sulaim.

Saya tidak tahu, apakah ada seorang mu’minah dengan aqidah yang betul-betul kuat meminta mahar seperti mahar Ummu Sulaim. Kita tidak tahu, adakah wanita-wanita di masa sekarang yang bertindak seperti Ummu Sulaim.

Saat ini, banyak wanita muslimah yang bersedia menikah dengan pemuda non-muslim setelah pemuda itu menyatakan masuk Islam. Tetapi, tidak sedikit muslimah-muslimah kita yang masih sangat kurang dalam agamanya dan sedikit sekali amalannya. Masuk Islamnya calon suami, agak tragis, sering sekadar legitimasi atau malah strategi untuk mendapatkan pengesahan sebagai suami-isteri. Kelak, sesudah mempunyai anak satu, suami itu kembali ke agama semula. Sementara itu wanitanya memiliki dua alternatif pilihan saja: bercerai dengan suami dan anaknya, atau bercerai dengan Islam yang telah menjadi agamanya sejak bayi.

Ada yang dapat kita ambil dari kisah agung pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah. Kita dapati bahawa mahar dapat menjadi dakwah. Mahar menjadi pengikat kasih sayang sekaligus untuk syi’ar Islam.

Barangkali untuk tujuan ini, kita mendapati banyak orang memberikan mahar kepada isterinya berupa mushaf Al Qur’an dan mukena. Jika ini tujuannya, kita boleh bertanya kembali, apakah mahar jenis ini masih mempunyai kekuatan untuk menegakkan syi’ar Islam ketika yang demikian ini telah menjadi tradisi dan orang-orang di sekeliling kita sudah banyak yang menggunakan mukena.

Apalagi, kita juga mendapati bahwa mahar yang seperti ini tidak jarang sekedar sebagai basa-basi formal. Basa-basi sosial atau agama. Sedangkan mahar yang sesungguhnya, bukan itu. Di atas kertas, mahar yang disebutkan pada saat akad adalah mushaf Al Qur’an dan seperangkat alat solat. Tetapi di belakangnya, ada sejumlah mahar yang atas pertimbangan sosial tidak dinyatakan saat itu, tetapi disebar berita pada saat lain.

Jika ini yang terjadi, saya khawatir mahar tersebut tidak menjadi syi’ar Islam. Hari ini, kita merasakan itu. Mahar yang dekat dengan nafas agama itu, justeru tidak membuat kita bergetar. Tidak membuat darah kita berderau karena terpegun oleh keagungannya, di balik yang tampak bersahaja.

Saya khawatir, mahar yang demikian bukannya menjadi syi’ar, jika di belakangnya ada yang tidak ditampakkan atas alasan-alasan basa-basi sosial. Jangan-jangan tindakan ini mengandung unsur kebohongan, sehingga pernikahan justeru menjadi tidak barakah. Wallahu A’lam bishawab.

Apakah mahar berupa mushaf Al Qur’an tidak mampu menjadi syi’ar? Insya-Allah masih mempunyai kekuatan syi’ar jika kita meniatkan betul dan menjaga niat itu ketika menyampaikan mahar.

Selebihnya, syi’ar dalam bentuk-bentuk seperti itu, sifatnya sangat kontekstual. Kalau dulu, mahar berupa kelengkapan solat mempunyai kekuatan syi’ar yang sangat besar, maka sekarang kita perlu fikirkan kembali. Ketika orang belum begitu mengenal solat, mahar berupa kelengkapan solat membuat undangan terkesan dan mencatat dalam hatinya tentang sebuah kemuliaan: solat. Sekarang, ketika masalahnya berganti, bentuk mahar yang menjadi syi’ar dapat dipilih yang lebih sesuai dengan semangat yang ingin kita tumbuhkan sekarang. Misalnya, jubah dengan atau tanpa cadar dan perlengkapannya. Di luar itu, disampaikan mahar lain jika memungkinkan dan disebut bersamaan dengan penyebutan mahar jubah. Adapun kalau ada hadiah sebelum atau sesudah akad nikah, maka yang demikian ini tidak termasuk yang disebutkan.

Selanjutnya, ada yang perlu kita waspadai. Mahar bisa menjadi syi’ar. Tetapi juga bisa menjadi alat untuk mendapatkan penilaian sosial. Yang pertama, kita mengarahkan masyarakat kepada suatu kesan yang baik terhadap agama, dan mudah-mudahan hati mereka tergerak. Yang kedua, penilaian masyarakat mengarahkan kita untuk menentukan mahar yang disebut layak, baik dan pantas. Atau, penyebutan mahar malah dalam rangka menunjukkan ketinggian derajat atau kebesaran martabat keluarga wanita yang menikah, meskipun untuk itu harus dilakukan impression management (pengurusan tanggapan) sehingga orang mendapat tanggapan yang lebih dari sesungguhnya.

Berbeza sekali antara dua hal tersebut, baik dalam makna maupun dalam akibatnya.

Satu catatan, tidak ada kewajiban memberikan bentuk mahar sebagai syi’ar khusus. Mahar lebih dekat artinya kepada pemberian sebagai bukti kebenaran kasih sayang dan ketaatan kepada syari’at yang telah ditetapkan oleh Asy-Syari’ (Allah Swt). Ini yang paling penting.

Pembahasan kita tentang mahar Ummu Sulaim dan tujuan dakwahnya, sekadar untuk menunjukkan bahwa mahar tidak semestinya berbentuk harta. Musa diminta memberi mahar berupa pekerjaan menggembala kambing beberapa tahun. Dan Ummu Sulaim meminta mahar berupa kesediaan masuk Islam demi meninggikan kemuliaan Islam.

Tidak Bisa Dinilai Secara Kuantitatif

Kisah mahar Ummu Sulaim menunjukkan pengertian bahawa, mahar tidak dapat diukur dari sedikit atau banyaknya secara kuantitatif. Segenggam tepung bahan roti (makanan); sebuah cincin besi; dan sepasang terompah dapat dijadikan sebagai mahar yang menjadikan perkahwinan sah karenanya. Begitu pengertian yang bisa kita ambil dari Shaleh bin Ghanim.

Pernikahan Fathimah Az-Zahra

Siapakah Fathimah Az-Zahra? Kita boleh menjawab, dia adalah putri Muhammad Rasulullah s.a.w. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, wanita paling agung di zamannya.

Tetapi ini tidak mencukupi untuk memperoleh gambaran tentang siapa Fathimah Az-Zahra. Banyak orang yang menulis buku khusus untuk mencuba menggambarkan keagungan dan kebesarannya. Seandainya kita sempat mengetahui, yang agak lengkap sedikit sahaja, tentang bagaimana wanita yang akan pertama sekali masuk syurga ini mengatur rumah tangga dan mendidik anaknya, betapa besar pelajaran yang akan diperoleh oleh kaum muslimin. Seandainya, kita sempat menghayati sedikit sahaja bagaimana Fathimah Az-Zahra menjadi madrasah dan masjid pertama bagi anak-anaknya, insya-Allah kita akan mendapatkan kesempurnaan cara mendidik yang sebaik-baiknya. Sehingga, kelak akan lahir anak-anak yang penuh barakah dan diredhai Allah sampai keturunan yang lahir jauh sesudah masanya lewat.

Tetapi, sedikit sekali yang kita ketahui, kecuali peristiwa ketika tangan puteri pemimpin besar ini melepuh kerana memutar gilingan. Itu pun sering tidak lengkap.

Sangat tinggi keagungan Fathimah Az-Zahra. Ayahnya memberi julukan Ummu Abiha (ibu yang melahirkan ayahnya) karena besarnya penghormatan dan kebaktian Az-Zahra kepada Rasulullah. Setiap Rasulullah Saw. pulang dari musafir, beliau segera singgah di rumah Fathimah, setelah menunaikan solat dua raka’at di masjid. Baru sesudah itu beliau menjenguk isterinya. Kalau Fathimah datang, Rasulullah segera berdiri menyambut dan menciumnya.

‘Aisyah, istri yang paling dicintai Rasulullah sesudah Khadijah, menceritakan, “Tidak pernah aku melihat seorang pun yang paling mirip keadaannya dengan Rasulullah Saw. dalam cara berdiri dan duduknya seperti Fathimah, putri Rasulullah Saw. Bila dia datang, Nabi Saw. segera berdiri dan menyambutnya, menciumnya, dan mendudukkannya di tempat duduknya.”

Sebagai istri, Az-Zahra juga teladan yang tak habis-habisnya untuk setiap muslimah. Tidak pernah ia membuat marah suaminya, kerana Allah tidak menerima ibadah seorang isteri sehingga suaminya redha.

Tentang Az-Zahra, suaminya mengatakan dengan kalimat singkat, “Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.”

Fathimah Az-Zahra memang penuh kemuliaan dan kasih-sayang. Ketika suaminya pulang dari perang dalam keadaan penuh luka, Fathimah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dia bersihkan darah suaminya, Ali bin Abi Thalib, dengan penuh perhatian.

Dari rahimnya lahir anak-anak yang penuh kemuliaan. Dua orang putranya, Hasan dan Husain r.a. sudah kita kenal kemuliaannya. Zainab, putri Fathimah, adalah wanita yang tegar dan penuh kehormatan berani mempertahankan diri di hadapan penguasa yang telah menghina dan memenggal leher saudaranya, Al-Husain. Ia melindungi ‘Ali Ausath, putra Al-Husain, setelah dua ‘Ali lainnya mendapati kematian di ujung pedang yang kejam. Kelak ‘Ali Ausath dikenal sebagai ‘Ali Zainal ‘Abidin, pemuka ahli ibadah. Dan, dari keturunan laki-laki mulia ini, kita menjumpai orang-orang yang banyak berjuang demi keharuman agama dan kehormatan ummat manusia, sampai sekarang. Mulai dari Mesir, Yaman, Malaysia, Bandung, Surakarta hingga bahagian timur Indonesia.

Bagaimana Fathimah melahirkan keturunan yang penuh barakah? Anak-anak itu lahir dari pernikahan yang barakah. Pernikahan yang diredhai Allah. Kemudian Fathimah mendidiknya dengan keteguhan yang mengagumkan. Sebagai gambaran, kita dengarkan penuturan Jabir Al-Anshari. Jabir meriwayatkan bahawa, Nabi melihat Fathimah sedang menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. Maka mengalirlah air mata Rasulullah.

“Anakku,” kata Rasulullah, “engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat.”

Ketika mendengar ucapan Rasulullah, Fathimah Az-Zahra mengatakan, “Ya Rasulullah, segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya.”

Begitulah sebahagian berita yang sampai kepada kita tentang rumahtangga Fathimah Az-Zahra. Bagaimana pernikahan Fathimah Az-Zahra dengan ‘Ali putra Abi Thalib? Apa mahar yang diberikan oleh ‘Ali dalam pernikahan yang penuh barakah itu?

Kita sudah sering mendengar berita bahwa, ‘Ali menjual baju besi untuk membayar maharnya. Kononnya, baju besi itu dibeli oleh Utsman bin Affan seharga 400 dirham yang kemudian menghadiahkan kembali kepada ‘Ali. Begitu menurut sebagian riwayat.

Tetapi, apa yang dilakukan setelah memperoleh hasil penjualan baju besi itu? Ia menyerahkan wang itu kepada Rasulullah Saw. Nabi Saw. kemudian memberikan sebagian wang itu kepada Asma’ untuk membeli wangian, sebagian kepada Ummu Salamah untuk makanan, sebagian kepada tiga orang sahabat, yaitu ‘Ammar, Abu Bakar, dan Bilal. Ketiga sahabat ini membelanjakan wang untuk membeli kelengkapan dan perabot rumahtangga Fathimah Az-Zahra. Perabot rumahtangga yang sederhana. Padahal ayahnya adalah seorang pemimpin, seorang tokoh besar yang disegani dan dihormati. Andaikan Rasulullah mahukan yang jauh lebih mewah, beliau akan mampu mendapatkan dengan cara apa pun. Tetapi Rasulullah tidak melakukannya. Di sini ada yang dapat kita renungkan.

Inilah mahar pernikahan Fathimah Az-Zahra yang penuh barakah. Darinya lahir keturunan yang penuh barakah sampai hari ini.

Sekarang ketika kita hendak mencari pernikahan yang barakah, kita bertanya dimana Fathimah Az-Zahra? Kita memerlukan teladan yang suci dari wanita agung ini. Akan tetapi, Fathimah Az-Zahra telah lama tiada menyusul ayahnya ke rahmatullah. Az-Zahra telah tiada. Entah, teladannya masih kita ikuti ataukah ikut pergi bersama ketiadaan beliau.

Seperti Apakah Keturunan Kita?

Pernikahan Fathimah Az-Zahra dan Sayyidina ‘Ali yang penuh barakah telah melahirkan orang-orang yang penuh kemuliaan. Kita mengenal Imam Syafi’i, peletak dasar ‘ushul fiqih yang melalui jalur ibu bersambung kepada Fathimah Az-Zahra. Kita mengenal Sayyid ‘Abdullah Haddad, seorang ‘alim yang wara’ dan faqih. Kita juga mengenal Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Mengenai beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mengatakan dalam bukunya Qadha’ dan Qadar,

“Adapun para imam kaum Sufi serta para syaikh terdahulu yang terkenal seperti Al-Junaid bin Muhammad beserta pengikut-pengikutnya, juga seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan orang-orang semisalnya, maka mereka adalah termasuk orang yang paling memperhatikan perintah dan larangan, termasuk orang yang sering mewasiatkan (kepada murid-muridnya) untuk mengikuti yang demikian itu, dan paling sering mengingatkan agar mereka jangan berjalan bersama (memikir-mikirkan) takdir, sebagaimana pengikut-pengikut berikutnya berjalan mengikuti mereka.”

“Inilah perbezaan kedua yang pernah dikatakan oleh Al-Junaid kepada para pengikutnya dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani; perkataan yang semuanya berkisar pada ittiba’ terhadap perintah, meninggalkan larangan dan sabar menerima takdir. Beliau tidak pernah menetapkan suatu jalan pun yang bertentangan dengan prinsip di atas sama sekali; baik beliau sendiri maupun pada umumnya syaikh-syaikh yang bisa diterima kehadirannya oleh kaum Muslimin….”

Orang-orang seperti mereka itulah yang lahir dari pernikahan Fathimah Az- Zahra! Lalu, seperti apakah keturunan yang akan lahir dari pernikahan kita? Apakah kelak Allah mengaruniakan kepada kita keturunan yang memberi kesan kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah? Kita berharap demikian. Pada saat yang sama, marilah kita periksa niat dan keadaan hati kita.

Ya Allah, sesungguhnya hati kami dalam genggaman Engkau. Kepada-Mu ya Allah, kami memohon rahmat, bersihkanlah hati kami yang kami sendiri tidak mampu memeriksanya. Betapa pun kami masih banyak melakukan maksiat kepada-Mu, Ya Allah, kami masih berharap kepada-Mu dengan hak ummat Muhammad, karuniakanlah kepada kami keturunan yang menyejukkan mata dan meninggikan kalimat-Mu.

Allahumma amin.

bersambung pada bahagian kedua… Mohammad Fauzil Adhim (Kado Pernikahan)

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s