Islamic Parenting (Usia 4-10 Tahun) Bahagian 1

Menasihati dan Mengajari Saat Berjalan Bersama

Anak punya hak untuk berteman dengan orang-orang dewasa agar dapat belajar dari mereka. Dengan begitu jiwanya cepat matang untuk menyerap ilmu, hikmah, pengetahuan dan pengalaman orang dewasa. Dengan demikinan, akhlaknya pun menjadi bersih dan perilaku menjadi matang.

Nabi adalah teladan dalam hal ini. Berikut ini adalah kisah yang dituturkan Abdullah bin Abbas ketika diajak jalan bersama Rasulullah di atas kenderaan beliau. Dalam perjalanan ini, beliau mengajarkan kepadanya beberapa pelajaran sesuai jenjang usia dan kemampuan daya pikirannya melalui dialog ringkas, langsung dan mudah. Rasulullah bersabda, “Nak, aku akan memberimu beberapa pelajaran: Peliharalah Allah, niscaya Dia akan balas memeliharamu. Peliharalah Allah, niscaya kamu akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya andaikata manusia bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikannya kepadamu, kecuali mereka telah ditakdirkan oleh Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat membahayakanmu, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah bagimu, pena telah diangkat dan lembaran catatan telah mengering.”

Nabi saw adalah guru pertama. Saat  memberikan pelajaran, beliau memperhatikan faktor usia dan kemampuan pekirannya. Oleh itu, belian memberikan pengetahuan yang dapat ditampung oleh pemahaman anak dan dapat dicerna oleh pikirannya. Dengan demikian, ilmu itu pun berbekas dalam hati dan tergerak untuk melaksanakannya ke dalam kehidupan. Sebagai buahnya, ilmu dalam dirinya selalu seiring dengan amal.

Menarik Perhatian Anak dengan Ucapan yang Lembut

Di antara faktor penumbuh rasa percaya diri dalam diri anak dan peningkat semangat spiritual serta kondisi psikologisnya ialah memanggil anak dengan namanya, bahkan memanggilnya dengan menyebut nama yang paling bagus, dengan julukannya atau dengan sifat baik yang dimiliki si anak.

Adakalanya Rasulullah memanggil anak dengan panggilan yang paling sesuai dengan jenjang usianya, seperti ungkapan, “Anak muda, sesungguhnya aku akan memberimu beberapa pelajaran.” Dan seterusnya. Adakalanya beliau memanggil dengan sebutan, “Anakku” seperti beliau lakukan kepada Anas saat turun ayat hijab, “Hai anakku, mundurlah kamu ke belakang.”

Rasulullah menyebut anak-anak Ja’far, putra pamannya, “Panggilkanlah anak-anak saudaraku.” Beliau pun menanyakan kepada ibunya, “Mengapa aku lihat tubuh keponakanku kurus-kurus seperti anak-anak yang sakit?”

Seseorang lebih terkesan bila dipanggil dengan julukan, gelar, dan predikat yang baik dari pada nama aslinya. Tak terkecuali anak-anak. Ironisnya, yang sering kali kita dapati anak-anak yang dipanggil dengan julukan tidak enak didengar, seperti: gundul, gembrot, kribo, dan sebagainya.

Abu Dawud dalam hadistnya telah membuat satu bab khusus dalam hal ini dengan judul : Bab tentang seseorang yang menyebut anak orang lain dengan panggilan, “hai anakku”. Pada saat lain, Nabi memanggil mereka dengan menyebut nama julukan sebagai penghormatan dan penghargaan dari beliau kepada mereka.

Menghargai Mainan Anak dan Jangan Melarangnya Bermain

Apa yang akan Anda katakan ketika mengetahui bahwa Hasan bin Ali mempunyai anak anjing untuk mainannya, Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannya, dan Aisyah mempunyai boneka perempuan untuk mainannya. Setelah dinikahi Rasulullah, Aisyah membawa serta boneka mainannya ke rumah beliau, bahkan Rasulullah mengajak semua teman-teman Aisyah ke dalam rumah untuk bermain bersama Aisyah. Realitas seperti ini menunjukkan pengakuan dari Rasulullah terhadap kebutuhan anak kecil terhadap mainan, hiburan dan pemenuhan kecenderungan (bakat).

Ketika Jibril tidak mau masuk ke dalam rumah Nabi saw kerana ada anak anjing, yang sebelumnya Nabi saw memang tidak mengetahui keberadaanya, beliau tidak memarahi, mencegah atau melarang Al-Husain dari mainannya itu. Begitu pula dengan burung pipit milik Abu Umair, Nabi saw tidak melarangnya bermain dengan burung selama dia tidak menyakiti atau menyiksanya. Apa akan anda katakan saat anda mengetahui sikap Nabi kita yang menghormati keadaan anak.

Tidak diragukan lagi bahawan sikap itu merupakan pengakuan Nabi saw terhadap mainan anak-anak dan keperluan mereka terhadap hiburan. Kerana anak-anak perlukan mainan untuk proses pengembangan akalnya, meluaskan pengetahuannya, serta menggerakkan minda dan perasaanya.

Al Ghazali mengatakan, “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disukainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya, dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara.” Al Ghazali juga menambahkan, “Hendaknya sang anak dibiasakan berjalan kaki, bergerak, dan berolah raga pada sebagian waktu siang agar tidak menjadi anak yang pemalas.”

Penelitian dalam ilmu kejiwaan telah membuktikan bahawa adanya perkaitan yang kuat antara kesihatan jasmani dan kecerdasan. Perubahan apa pun oleh tubuh akan mempengaruhi kecerdasan dan sebaliknya. Seseorang dituntut agar menjadi kuat jasmaninya dan sihat pikirannya.

Tidak Membubarkan Anak yang Sedang Bermain

Adakalanya sesorang di antara kita melewati sekumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain, lalu mengatakan, “Apakah kalian tidak punya kesibukan lain?” atau “Apakah kalian tidak punya tempat bermain di rumah kalian?” dan sebagainya. Hal ini biasanya dikatakan ketika orang itu tidak suka dengan permainan yang sedang mereka lakukan. Akan tetapi Rasulullah saw tidak pernah bersikap demikian sama sekali. Lantas, bagaimana sikap beliau?

Anas berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, ‘Rasulullah pasti sedang istirahat siang.’ Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Aku menyaksikan mereka sedang bermain. Tidak lama kemudian, Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku pun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah sebuah pohon hingga aku kembali….”

Dari kisah tersebut, ada pelajaran yang bisa diambil, yakni seorang ibu hendaknya memperhatikan kondisi anaknya. Bila ia terlambat pulang dari waktu biasanya, ia mestilah menanyakan ke mana perginya, apa yang diperbuat dan siapa yang menemaninya.

Rasulullah saw memperhatikan secara serius kondisi anak dan menyambut baik keperluan psikologi tanpa mengekangnya. Untuk itu beliau terlebih dahulu mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain itu. Ia adalah sebuah wujud penghargaan beliau kepada anak dan pembiasaan agar mereka membudayakan salam. Di samping itu, perbuatan beliau merupakan wujud pendidikan tentang keutamaan dan akhlak mulia. Dengan itu, tertanamlah dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi saw dan inilah yang beliau ingin tanamkan dalam jiwa mereka.

Selain penting bagi pertumbuhan mental dan fisik anak, permainan mereka diperlukan sebagaimana orang dewasa memerlukan pekerjaan. Pikirlah dahulu untuk membubarkan mereka saat bermain. Kalau untuk memperingatkan kerana waktu yang tidak tepat atau membahayakan diri dan orang lain, lakukan dengan penuh bijaksana.

Tidak Memisahkan Anak dari Keluarganya

Abu Abdurrahman Al Hubuli meriwayatkan bahwa dalam suatu peperangan Abu Ayyub berada dalam suatu pasukan, kemudian anak-anak dipisahkan dari ibu-ibu mereka, sehingga anak-anak itu menangis. Abu Ayyub pun segera bertindak dan mengembalikan anak-anak itu kepada ibunya masing-masing. Ia lalu mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, niscaya Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat.”

Abu Musa berkata, “Rasulullah melaknat orang yang memisahkan seorang ibu dan anaknya serta antara sesorang dengan saudaranya.”  Rasulullah juga melarang seseorang duduk di tengah-tengah antara seorang ayah dan anaknya dalam suatu majelis. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang duduk di antara seorang ayah dan anaknya dalam sebuah majelis.

Advertisements
This entry was posted in Islamic Parenting, TARBIYATUL AULAD. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s