Islamic Parenting (Usia 0-3) Bahagian 6

Mempercepat Shalat Karena Mendengar Tangisan Anak

Anas mengatakan, “Aku belum pernah shalat di belakang seorang imam yang lebih singkat dan lebih sempurna shalatnya, selain Rasulullah. Jika beliau mendengar suara tangisan anak, beliau mempercepat shalatnya karena khawatir akan mengganggu shalat ibunya.”

Rasulullah pernah mempercepat shalat, sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya, ketika aku sedang melakukan shalat (menjadi imam) dan aku bermaksud untuk memanjangkan bacaanya, tiba-tiba aku mendengar tangisan anak kecil. Maka aku segera memperpendek (bacaan) shalatku. karena aku memahami perasaan ibunya (yang menjadi makmum) yang tentu terganggu oleh tangisannya.” Nabi sangat menyayangi anak-anak, dan sangat merawat jiwa anak-anak.

Memanggil Anak dengan Julukan Sebagai Penghormatan

Perbuatan ini adalah salah satu wujud akhlak mulia. Anas pernah mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya. “Aku punya seorang saudara laki-laki yang dikenal dengan nama panggilan Abu Umair dan setahuku ia sudah disapih. Bila Rasulullah datang, beliau selalu menyapanya dengan panggilan, ‘Hai Abu Umair’.”

Memanggil anak dengan julukannya akan meningkatkan moraliti anak. Panggilan itu akan menambah rasa senang kepada guru dan pendidiknya. Ketika hubungan antara guru dan anak baik, hasilnya pun akan positif, cepat dan besar. Kerana itu marilah kita meneladani kebaikan akhlak Rasulullah saw.

Memanggil dengan Panggilan yang Baik

Nama adalah sebuah do’a, karena itu kita disunahkan untuk memberi nama yang baik kepada anak dan memanggilnya dengan panggilan yang baik. Nama panggilan itu memiliki pengaruh psikologis pada jiwa  anak. Seorang anak yang dipanggil dengan si kasar, si bodoh, si tuli dll. maka lambat laun hal tersebut akan berpengaruh pada watak dan kebiasaannya. Seorang anak yang biasa dipanggil “Hai Bodoh” maka secara tidak langsung anak tersebut akan merasa dirinya bodoh, minder dan selalu disalahkan. Sebaliknya panggilan kesayangan atau panggilan yang bersifat mendoakan, maka hal tersebut akan membuat hati si anak bahagia dan memotivasi dirinya untuk bersikap seperti namanya.

Demikianlah Rasulullah Saw. pun ketika memanggil istri dan anak-anaknya selalu memanggil dengan panggilan yang baik, ketika memanggil Aisyah beliau memanggil dengan panggilan “khumaira” yang artinya kemerah-merahan, karena pipi Aisyah berwarna kemerah-merahan.

Supaya anak kelak memiliki sifat yang lemah lembut dan penyayang, perlu kita ketahui bahwa dalam menanamkan sifat pada anak bukan hanya dari nama dan panggilan saja, yang lebih penting dari itu adalah keteladanan dari kedua orang tua, pendidikan dan lingkungan yang baik. Semoga anak-anak kita kelak menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada kedua orang tua.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian mengatakan, ‘Hai budak laki-laki! Hai budak perempuan!’ karena kamu semua, baik laki-laki maupun perempuan, adalah hamba-hambda Allah…

Mengajak Shalat Berjamaah

Abdullah bin Syaddad berkata, “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat (Maghrib atau Isya’), sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya. Dalam salah satu sujud dari shalat itu, beliau lama sekali melakukannya.” Ayah perawi mengatakan, “Maka kuangkat kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yang sedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku. Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu.” Rasulullah menjawab, “Semuanya itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku.”

Abu Qatadah Al Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah shalat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke tanah dan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali.”

Menurut riwayat Muslim dan Nasaie, Rasulullah pernah solat mengimami kaum muslimin sambil mengendong Umamah binti Abul `Ash di pundaknya. Apabila rukuk beliau meletakkannya di tanah, dan apabila bangun dari sujudnya, beliau kembali menggendongnya.

Mengajarkan Kalimat Tauhid pada Anak

Jundub bin Junadah berkata, “Dahulu kami telah bersama Nabi sejak kami masih remaja mendekati usia baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Quran dan kemudian kami mempelajari Al-Quran sehingga iman kami bertambah dengan mempelajari Al-Quran tersebut.

Jadi Nabi mengajarkan iman kepada para sahabat sebelum mengajarkan A-Quran. Iman itu yang disebut dalam hadits terdiri dari 73 atau 63 cabang. Yang paling utama adalah ucapan Lailaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu itu cabang dari iman.

Anak kecil yang belum belajar berbicara itu ketika mendengar kalimat-kalimat azan, ia akan menirunya. Bahkan ia akan selalu memperhatikannya saat orang-orang dalam kelalaian. Maka ia tanpa sadar telah berusaha mengucapkan kalimat tauhid. Karena itu, seorang guru hendaknya membiasakan anak yang masih belum bisa bicara tersebut agar mengucapkan kalimat tauhid.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan ‘laailaha illallah’ dan ajarilah ia agar di akhir hayatnya mengucapkan ‘lailalaha illallah’.”

Maksudnya, hendaknya yang manjadi kosakata awal ketika anak mulai bicara adalah mengucapkan cabang iman yang paling utama dan tertinggi iaitu kalimah lailaha illallah. Penulis pernah membaca percakapan seorang penyanyi kepada isterinya sambil memandang takjub anaknya dalam sebuah gambar kartun di sebuah surat khabar. Dalam kartun itu, sang ayah berkata, “Kata pertama yang diucapkan anak kita bukan, `Papa` melainkan `Lail`(senandung nyanyian).” Tidak heran bila hal seperti ini keluar dari seorang anak penyanyi dan pemusik. Akan tetapi, sungguh ironos jika orang yang mengaku dirinya muslim mengajari anak-anak mereka seperti apa yang dikatakan oleh penyanyi seperti yang disebutkan dalam kartun tersebut. Contoh seperti ini sangat banyak dan memilukan. Penulis melihat seorang lelaki membawa anaknya yang berusia sekitar empat tahun dan seorang lelaki lain yang menanyakan nama anak itu. Maka sang anak menyebutkan namanya yang sama dengan nama seorang penyanyi terkenal. Selanjutnya, lelaki itu bertanya kepada si anak, “Bisakah kamu menyanyi seperti dia?”  Ayah anak itu menjawab, “Tentu bisa.” Lalu si ayah memerintahkan kepada si anak nyanyikannya dan si anak pun mulai menyanyi meski lisannya masih belum fasih mengucapkan beberapa huruf. Sungguh, tidak pantas dinyanyikan oleh anak sekecil dia.

Orang yang punya hati dan pendengaran pasti akan bertanya-tanya, “Hendak dibawa ke mana anak-anak seperti ini?” Betapa jauhnya perbezaan mereka dengan anak-anak pendahulu kita yang shaleh. Orang-orang tua mereka membawa mereka ke berbagai medan peperangan dan mengajari mereka menunggang kuda serta menyerahkan tugas pendidikan kepada orang-orang yang dipercaya dapat menunaikannya hingga peperangan selesai.

 Rasulullah Pernah Menghentikan Khutbah dan Meninggalkan Mimbar Untuk Menyambut Anak Kecil yang Berjalan Tertatih-Tatih

Abdullah bin Buraidah telah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Ketika Rasulullah sedang berkathbah kepada kami, tiba-tiba datanglah Hasan dan Husein yang keduanya mengenakan gamis berwarna merah dengan langkah tertatih-tatih. Rasulullah pun langsung turun dari mimbarnya lalu menggendong dan meletakkan keduanya di hadapan beliau. Kemudian beliau membaca QS. Ath Thaghabun: 15 dan bersabda, ‘Ketika aku memandang kedua anak ini berjalan dengan langkah tertatih-tatih, aku tidak sabar hingga kuhentikan khatbahku untuk menggendong keduanya.” Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepadamu wahai Rasulullah.

“Keagungan dan kesucian ibadah salat Jumaat tidak mencegah Nabi dari mempertahankan anak-anak dalam batas-batas tertentu yang tidak menganggu atau merusak ibadah itu sendiri.”

Memperhatikan Penampilan dan Potongan Rambut Anak

Nafi’ dan Ibnu Umar bahwa Rasulullah melihat seorang anak kecil telah dicukur di sebagian sisi kepalanya dan dibiarkan pada sisi lain. Beliau pun melarang hal itu dan bersabda, “Cukurlah semua atau biarkanlah semua.”

Rasulullah tidak suka penampilan anak Islam yang menyerupai penampilan  anak-anak orang fakir. Beliau tidak ingin bila rasa cinta kita terhadap anak akan mendorong kita berbuat seperti mereka. Akan tetapi, beliau ingin agar anak-anak kaum muslimin memiliki penampilan tersendiri dan kepribadian yang berbeza dari yang lain. Tidak ikut-ikutan atau meniru kepribadian non muslim, seperti yang terlihat dalam realiti kebanyakan manusia zaman sekarang, kecuali orang yang dijaga oleh Allah.

Nabi Memimpin Percukuran Rambut Anak

Abdullah bin Ja’far meriwayatkan bahwa Rasulullah mengurungkan diri untuk mendatangi keluarga Ja’far sebanyak tiga kali, lalu beliau mendatangi mereka. Beliau bersabda, “Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini.” Beliau bermaksud agar hari berkabung disudahi. Kemudian beliau bersabda, “Panggilkanlah keponakan-keponakanku kemari.” Maka kami pun datang dan rasa takut kami seperti hilang. Beliau bersabda, “Panggillah tukang cukur kepadaku.” Maka beliau menyuruhnya agar mencukur rambut kami.

Hadits tersebut mengandung petunjuk dan nasihat bagi para ayah agar mereka sendiri mengatur percukuran rambut anak-anak mereka dan menetapkan kapan harus dicukur dan kapan dibiarkan. Mereka tidak semestinya membebaskan masalah percukuran rambut anak karena bisa jadi anak akan terus meniru potongan rambut yang aneh-aneh. Sehingga, mereka meninggalkan petunjuk nabi dan berpaling dari sunnah beliau.

Menggendong di Pundak, Mengajaknya Naik Kendaraan

Al Barra` berkata, bahawa ia melihat Nabi Muhammad saw dan saat itu Husain berada di pundak beliau. Beliau bersabda, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, kerana itu cintailah ia.”

Abdullah bin Ja’far berkata, “Apabila Rasulullah baru tiba dari perjalanan, beliau selalu disambut oleh anak-anak ahli-ahli baitnya. Suatu hari beliau baru datang dari perjalanan dan aku adalah anak yang paling terdepan menyambutnya. Maka beliau langsung menaikanku di depannya, kemudian didatangkanlah salah seorang di antara kedua putra Fathimah, Hasan atau Husein lalu beliau memboncengnya di belakangnya, dan kami bertiga memasuki kota Madinah di atas kendaraannya.”

Nabi saw membawa Al Hasan dan Al Husain di kedua pundak beliau, lalu bersabda, “Sebaik-baik pengendara adalah keduanya, tetapi ayah keduanya adalah lebih baik daripada keduanya.

Umar berkata aku pernah meilhat Al Hasan dan Al Husain berada di atas dua pundak Nabi, sehingga aku berkata, “Sebaik-baik kuda adalah yang ada di bawah kalian berdua.” Nabi membalas, “Dan keduanya adalah sebaik-baik penunggang kuda.”

Al Barra` berkata, “Suatu ketika Rasulullah solat lalu Al Hasan dan Al Husain atau salah seorang daripada kedua-duanya datang dan naik di atas punggung beliau. Maka bila sujud beliau mengangkat kepalanya dengan tangan beliau dan memegangnya atau keduanya. Usai solat beliau bersabda, “Sebaik-baik tunggangan adalah tunggangan kalian berdua.”

Hal tersebut merupakan sifat rendah hati Nabi dan perhatiannya yang sangat besar kepada generasi muda untuk membina kepribadian mereka dan agar mempereratkan hubungan mereka dengan Nabi sebagai pemdidik. Keakraban penting, agar mereka tidak canggung dalam mengikuti jejak beliau Rasulullah saw nantinya.

Advertisements
This entry was posted in Islamic Parenting, TARBIYATUL AULAD. Bookmark the permalink.

One Response to Islamic Parenting (Usia 0-3) Bahagian 6

  1. Pingback: Kertas Putih « 'Uluwwul Himmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s