Islamic Parenting (0 – 3) – Bahagian 5

Kapan Menghitankan Anak ?
Khitan merupakan lambang kesucian, kebersihan, hiasan, keindahan bentuk dan keseimbangan syahwat. Bila khitan diabaikan, ia sama ertinya manusia tiada ada beza dengan binatang. Dan bila khitan ditinggalkan sama sekali, sama ertinya manusia seperti benda mati. Jadi khitan inilah yang menyeimbangkan posisi manusia di antara keduanya. Oleh kerana itu, anda akan menemui pria ataupun wanita yang tidak dikhitan tidak pernah merasa puas dengan persetubuhan yang dilakukan. Tidak syak lagi bagi orang yang berakal waras bahawa kulup itu buruk dan melenyapkannya dengan khitan adalah hal yang baik, bersih dan indah.

Abu Hurairah berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

Makhul mengatakan, “Ibrahim menghitankan anaknya, Ishaq, saat itu berusia 7 hari, dan mengkhitankan Ismail pada usia 13 tahun. Demikianlah seperti yang disebutkan oleh Al Khalil.”

Ibnu Taimiyah berkata, “Khitan Ishaq menjadi tuntunan yang diikuti di kalangan anak keturunannya dan khitan Ismail juga menjadi tuntunan yang diikuti di kalangan keturunannya. Akan tetapi, berkaitan dengan khitan Nabi masih diperselisihkan mengenai waktunya kapan hal itu terjadi”

Menurut pendapat Ibnul Qayyim:

  1. Nabi dilahirkan dalam keadaan telah dikhitankan. Namun, tidak ada hadits yang dapat dijadikan pegangan sebagai buktinya.
  2. Nabi dikhitan saat malaikat membelah dadanya ketika baginda masih berada dalam asuhan Halimah, ibu susunya.
  3. Datuk Rasulullah, Abdul Muthalib telah mengkhitankannya pada hari ke tujuh. Selain itu, ia juga membuat jamuan makan memberi nama beliau Muhammad

Ketiga-tiga pendapat ini tidak boleh dijadikan dalil yang dapat dijadikan pegangan.

Sayangi di Kala Sakit, Maklumi Kalau Ngompol
Salah satu akhlak mulia yang ada pada diri Rasulullah ialah bila didatangkan anak yang masih kecil kepadanya, beliau langsung memangkunya. Bahkan seorang bayi pernah kencing di atas pangkuan beliau namun beliau tidak segera menyerahkan bayi itu kepada keluarganya agar tidak memberi kesan kepada mereka bahawa beliau merasa terganggu dengan bayi mereka.

Ummu Qais binti Mihshan berkata, “Aku pernah menemui Rasulullah dengan membawa bayiku yang masih belum makan makanan apa pun. Tiba-tiba ia kencing di pangkuan beliau. Baliau pun meminta air dan langsung menyipratkannya ke bagian yang terkena kencing (tanpa mencucinya).”

Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah pernah mengambil dan mendudukanku di atas satu paha beliau dan mendudukkan Al Hasan di atas paha beliau yang lain. Kemudian beliau memeluk kami berdua dan berdoa, ‘Ya Allah, sayangilah keduanya karena aku sungguh menyayangi keduanya’.”

Kewajiban Menyusui dan Menjamin Nafkah Anak
Wahai para ibu, berikanlah kasih sayangmu kepada anakmu, susuilah ia dengan air susumu agar engkau dapat menyempurnakan makna ibu yang engkau sandang dan agar engkau mendapatkan pahala. Didiklah sendiri anakmu sesuai dengan manhaj Rasulullah. Lihatlah QS. Al Baqarah: 233 dan Ath Thalaq: 7.

Wahai ibu, cobalah engkau perhatikan. Apakah engkau pernah melihat burung, hewan lain, atau semua makhluk yang berstatus sebagai ibu pernah meninggalkan anaknya saat masih bayi dan menyingkir darinya? Sungguh merupakan perangai yang buruk bila hewan yang tidak berakal saja tidak meninggalkan anaknya yang masih kecil, sedangkan manusia yang berakal rela meninggalkan anaknya dan dipercayakan kepada orang lain.

Umar Memperhatikan Anak Sejak Lahir
Suatu malam Umar mendengar tangisan seorang bayi. Maka Umar berkata kepada ibunya, “Susuilah dia.” Ibu si anak, yang tidak menyadari bahwa yang menyuruhnya adalah Umar, menjawab, “Amirul Mukminin tidak memberikan santunan untuk bayi yang baru lahir sampai masa penyapihannya.” Umar berkata dalam hatinya, “Aku hampir saja membunuh anak itu.” Setelah itu ia berkata, “Susuilah dia, nanti Amirul Mukminin pasti akan memberikan santunan untuknya.” Sesudah itu, Umar mulai menetapkan santunannya untuk bayi yang baru lahir. Dengan demikian, tangis seorang bayi sanggup mengubah keputusan seorang kepala negara yang bernama Umar bin Khattab.

Boleh Menangisi Kematian Bayi dan Mengucapkan Belasungkawa Kepada Keluarganya
“Bahwa Nabi saw pernah menangisi  kematian Ibrahim seraya berucap’sesungguhnya mata akan  meneteskan airnya,hati bersedih,dan janganlah mangatakan ,kecuali apa yang di ridhai  rabb kami.Dan sessungguhnya dengan kepergian mu wahai Ibrahim  bener-bener aku termasuk  orang yang bersedih”(HR Bukhari).

Di antara hadis yang lain adalah bahwa Nabi saw  pernah menangisi  putrinya yang meninggal dunia, dan kedua-dua mata beliau pun meneteskan airnya.

Beliau juga pernah menangisi kematian anak laki-laki putrinya, lalu Sa’ad bin Ubadah bertanya” Apa air mata ini wahai Rasulullah saw? Beliau menjawab “ini adalah rahmat yang di jadikan oleh Allah  di dalam hati hamba-hambaNya. Sesungguhnya Allah  hanya mengasihi  orang-orang yang penih kasih saja di antara hamba-hambaNya”.

Anas berkata, “Kami masuk bersama Rasulullah lalu beliau mengambil putranya, Ibrahim, dan langsung menciumnya. Setelah itu kami masuk lagi pada hari yang lain. Ibrahim saat itu sedanga meregang nyawa. Air mata Rasulullah berlinang, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah engkau juga menangis?” Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman (beliau menangis lagi) mata ini menangis dan hati ini bersedih tetapi kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, benar-benar sedih karena berpisah denganmu.”

Mendoakan Anak Secara Khusus Saat Menshalatkan Jenazahnya
Sa’id bin Musyyab berkata, “Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah yang sedang menshalatkan jenazah anak kecil yang belum pernah melakukan suatu dosa pun. Aku mendengar Abu Hurairah mengucapkan doa berikut:
“Ya Allah, lindungilah anak ini dari azab kubur.”

Anak yang Meninggal Ketika Masih Kecil Akan Masuk Surga
Aisyah berkata, “Rasulullah diundang untuk melawat jenazah seorang anak kecil dari kalangan Anshar. Aku (Aisyah) berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya anak ini. Ia salah satu burung diantara burung-burung di surga. Ia tidak pernah berbuat keburukan dan belum pernah menemuinya.’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau tahu yang selain itu, wahai Aisyah? Sesungguhnya Allah menciptakan penghuni surga yang telah Dia tetapkan untuknya saat mereka masih berada di tulang sulbi ayah mereka pula. Dan Dia menciptakan penghuni neraka yang telah Dia tetapkan untuknya saat mereka masih berada di tulang sulbi ayah mereka pula.”[29]

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Anak-anak kaum muslimin itu berada di sebuah gunung di surga. Mereka diasuh oleh Ibrahim dan Sarah sampai mereka dikembalikan kepada ayah-ayah mereka pada hari kiamat.”

Syafaat Anak Bagi Kedua Orang Tua yang Sabar Atas Kematian Anaknya
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidaklah sekali-kali sepasang muslim ditinggal mati oleh ketiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan memasukkan keduanya bersama anak-anak mereka ke dalam surga berkat karunia dan rahmat-Nya.” Abu Hurairah melanjutkan, “Dikatakan kepada anak-anak tersebut, ‘Masuklah kalian ke dalam surga!’ Anak-anak itu menjawab, ‘Kamu menunggu kedua orang tua kami’. Perintah itu diulangi tiga kali, tetapi mereka mengeluarkan jawaban yang sama. Akhirnya, dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian bersama kedua orang tua kalian ke dalam surga’.”

Tidak Mendapat Anak di Dunia, Mendapatkannya di Akhirat

Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin itu bila sangat  menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya, dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.”

Advertisements
This entry was posted in Islamic Parenting, TARBIYATUL AULAD. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s