Cinta Isteri HAB – “Perempuan Sebahagian dari Satu Bangsa”

Perempuan Sebahagian dari Satu Bangsa

Keluarga adalah batu-bata yang menentukan kekukuhan dalam bangunan suatu masyarakat. Hassan Al-Banna memberi perhatian yang besar dalam projek pembentukkan keluarga ini sebagai fokus yang utama. Dia menguatkan bangunannya, untuk boleh menghadapi berbagai tantangan yang akan di hadapi dalam proses membangun masyarakat dan ummat. Sementara di jantung keluarga, Al-Banna memilihkan seorang isteri dan ibu yang diibaratkan sebuah pohon yang baik, siap memberikan cinta dan keteduhan, serta buah keturunan yang soleh.

Perhatian Imam Al-Banna dalam hal memilih isteri yang soleh dan taat beragama adalah awal penerapan yang dia yakini sebagaimana perkataannya:-
“Perempuan itu sebahagian dari sebuah bangsa, bahkan bahagian yang paling mempengaruhi dan memberi peranan besar bagi hidupnya suatu bangsa”

Pandangan Al-Banna bertolak dari aspek mendasar di mana Islam memberi penghormatan yang sama kepada dua jenis manusia secara biologis, tidak memuliakan satu pihak dan merendahkan yang lain. Akan tetapi dalam konteks keharmonian dan keragaman misi dan tugasnya, dua jenis manusia itu berbeza terutama dalam aspek seorang ibu dan seorang bapa. Kerangka pandangan Al-Banna dalam masalah ini boleh dilihat dari tiga sisi:-

PERTAMA:- Perbezaan antara laki-laki dan wanita adalah hal yang fitrah. Dia mengatakan, ‘Laki-laki dan wanita itu sama-sama manusia. Laki-laki memiliki misinya, dan wanita memiliki misinya sendiri… Allah swt berfirman dalam konteks pembentukkan keluarga dan pengaturan rumahtangga:
“Dan para wanita mempunyai yang seimbang dengan kewajipannya cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya” (Al-Baqarah: 228)

Ayat ini menegaskan bahawa keluarga itu diurus oleh suami dan isteri, dan bukan salah satu dari keduanya. Dan rumahtangga itu terbina dan terbentuk oleh peranan keduanya. Akan tetapi kepemimpinan ada pada bahu laki-laki (suami).

KEDUA:- Perbezaan yang sifatnya fitrah itu, memiliki konsekuensi perbezaan misi dari keduanya dalam pengaturan hidup rumahtangga, dilakukan masing-masing suami isteri. Ini ertinya peraturan rumahtangga yang biasa dan ditetapkan oleh Islam bahawa wanita memikul tanggungjawab selaku isteri dan ibu, termasuk hamil, melahirkan, menyusukan, dan mendidik anak. Sedangkan kaum laki-laki memainkan peranannya dalam hal memberi nafkah untuk keluarga, memimpin ragam permasalahan keluarga, memenuhi keperluannya secara material dan sosial.

KETIGA:- Adanya ‘at-tajaazub al-fitri’ (naluri saling memiliki daya tarik dan saling memerlukan) antara laki-laki dan wanita, merupakan landasan bagi hubungan suami-isteri yang seimbang dan stabil. Al-Banna menjelaskan dengan adanya rasa fitrah untuk saling memerlukan dan ketertarikan. Tetapi hubungan suami-isteri itu tidak hanya dibatasi oleh ketertarikkan dan saling memerlukan dalam sifat kesenangan semata-mata. Tetapi harus mencakup suasana saling membantu, saling bekerjsama untuk memelihara kekhasan masing-masing, bersama memikul beban kehidupan. Bahkan sikap yang ada dalam konteks ‘at-tajaazub al-fikri’ ini , boleh diperluas hingga ke ‘at-tajaazub an-nafsi’, yakni suasana saling ingin menenteramkan, lebih dari sekadar sikap saling menikmati antara satu sama lain secara fizik. Yakni adanya hubungan saling tertarik dalam aspek yang lebih indah, yakni hubungan ruhaniyah yang dibina atas kerjasama suami dan isteri. Sebagaimana firman Allah swt,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Ruum: 21)

Secara praktikal, Imam Al-Banna tampak berupaya komit dengan norma-norma Islam di rumahnya, baik secara sikap mahupun panduannya. Dia anak yang berbakti kepada orang tuanya, sekaligus suami yang tulus mencintai isterinya, dan juga orang tua yang memiliki kedekatan batin dengan anak-anaknya. Dia juga seorang guru yang pandai memberi nasihat dan penyambung silaturahim dengan keluarganya dan juga keluarga isterinya.

Maka, bagi Al-Banna, keberhasilan dan kejayaan seorang Mukmin, tidak hanya tercermin dari kejayaannya secara ruhiyah di mana dia memiliki keadaan keimanan dan ketaqwaan yang baik, tetapi juga mesti meliputi keberhasilan dan kejayaan dalam menggerak bahtera rumahtangga di rumahnya. Inilah yang dikatakan A-Banna dalam ungkapannya,
“Seorang Mukmin dikatakan telah memenuhi faktor-faktor kejayaan, adalah ketika keimanannya kuat kepada Allah, komitementnya kuat terhadap peraturan Allah, perilakunya ikhlas terhadap dakwahnya, keseriusannya membangun landasan untuk pembangunan ummat. Tidak hanya itu, tetapi dia juga harus manusia yang berjaya di rumahnya, di keluarganya, menyambung silaturahim dengan keluarganya dan keluarga pasangan hidupnya juga”

insyaAllah bersambung minggu hadapan…. 🙂

Advertisements
This entry was posted in Cinta Isteri Hassan Al-Banna, PEMBANGUNAN KELUARGA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s