Bab 2 – “Mempertimbangkan Pinangan Bahagian 1”

Mempertimbangkan Pinangan
Suatu waktu,“demikian seorang akhwat dalam suratnya menuturkan, “(saya) bertemu dengan beberapa akhwat yang sedih dengan godaan dari sekian ikhwan dalam sekian perjumpaan.”

“Apa jawab atas masalah ini?” kata akhwat tersebut melanjutkan, “Ada kesamaan dalam jawaban, bahwa ketika seorang akhwat sudah menikah, maka insya­Allah kemungkinan digoda lebih kecil karena si penggoda akan lebih mikir-mikir kalau ia sudah bersuami.”

Akhwat itu kemudian melanjutkan, “Sampai-sampai, ada yang berencana untuk memakai cincin nikah walaupun belum menikah, demi menghindari godaan. Karena ternyata berkerudung pun masih sering digoda. Sehingga nikah dipandang dapat digunakan sebagai kerudung keamanan.”

Ketika usia semakin bertambah, orang semakin peka terhadap dorongan untuk berumah-tangga. Pada diri manusia, memang terdapat naluri untuk mengikat persahabatan dengan lawan jenis. Dorongan ini muncul pada diri laki-laki maupun perempuan. Seorang wanita yang matang, mengekspresikan kebutuhannya terhadap lawan jenis sebagai teman hidup dengan cara-cara yang dewasa dan mempersiapkan diri baik-baik untuk menyambutnya, jauh-jauh hari sebelumnya. Kerinduan terhadap teman hidup yang membantunya bertakwa kepada Allah, ditunjukkan dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk menata hati dan tujuan.

Sementara itu, wanita yang belum matang orientasi hidupnya lebih banyak menunjukkannya melalui bentuk-bentuk lahiriah. Kurang matangnya kondisi psikis, membuat ia kurang mempercayai daya tarik psikis. Apalagi ikatan-ikatan yang lebih bersifat ideologis atau menyentuh kedalaman aqidah. Ia akan lebih mempercayai daya tarik badaniah. Bahkan, pada taraf ini pun ia sering mengalami keraguan, sehingga memilih kosmetik untuk membuatnya lebih menarik. Ini di satu sisi. Di sisi lainnya, ketika ia mulai menginjak usia yang layak baginya untuk menjadi istri dan ibu, terkadang ia “harus” disibukkan oleh laki-laki yang juga sudah mulai menginjak masanya. Sebagian laki-laki hanya merasakan dorongan, tetapi belum memiliki keberanian untuk sungguh-sungguh menemaninya sebagai suami yang setia dan bertanggung jawab. Sebagian telah memiliki niat dan keinginan untuk bersungguh­sungguh menjalin ikatan pernikahan dengan seorang akhwat yang siap dan qanitat, tetapi masih ada kendala-kendala psikis. Masih ada keraguan, sehingga ia lebih memilih untuk melemparkan godaan-godaan halus atau godaan-godaan yang agak lebih terang-terangan dengan harapan bisa bersambut dengan pertanyaan serius dari akhwat (siapa tahu?).

Sebagian ikhwan mengalami kejutan beitu mendengar kajian tentang pentingnya menyegerakan nikah, sehingga ia menghadapi akhwat dengan semangat meluap-luap, apakah ia siap dikhitbah. Sayang, dorongan yang meluap-luap itu kadang tidak disertai dengan kesiapan dalam hal-hal lain, terutama dalam hal ilmu berkenaan dengan tugas kerumahtanggaan maupun dalam memenuhi kebutuhan istri. Di antara tiga kebutuhan yang harus dipenuhi, ada kalanya baru satu yang ia miliki, yaitu kesiapan memenuhi kebutuhan biologis. Sedang kebutuhan psikis dan kebutuhan ma’isyah (nafkah), lazimnya kurang diperhatikan. Seorang ikhwan bahkan sempat mengemukakan pendapatnya, bahwa orangtua mestinya membiasakan diri menumbuhkan budaya yang memungkinkan anak laki-lakinya segera menikah dengan jalan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang akan terbentuk itu. Padahal kewajiban memenuhi kebutuhan ekonomi ada pada suami, bukan pada orangtua suami.

Sebagian ikhwan telah menyiapkan bekal secara sungguh-sungguh sehingga betul-betul bisa menjadi pendamping istri yang insya-Allah diridhai Allah. Pada diri mereka barangkali masih banyak kekurangan, meskipun demikian mereka dengan serius berikhtiar untuk memperbaiki diri dalam hal kesiapannya memenuhi tiga kebutuhan istrinya maupun dalam hal kesiapan memikul tanggungjawab sebagai ayah, anak, dan menantu. Kemampuannya mencukupi ma’isyah barangkali belum memadai, walaupun begitu mereka memiliki kesungguhan untuk memenuhinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Yang demikian ini, insya-Allah lebih siap untuk mengemban tanggungjawab besar di balik mitsaqan-ghalizha. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberikan pertolongan kepada mereka. Allahumma amin.

Situasi psikis yang berbeda-beda, juga jenjang kedewasaan yang tak sama, melahirkan sikap yang beragam dalam menghadapi dorongan untuk mencari teman hidup. Ada yang berkeinginan sekedar untuk melegitimasi keinginan bersebadan dengan lawan jenis, tanpa harus jatuh ke dalam dosa. Tetapi, mereka menghendaki untuk tidak tinggal satu rumah. Sebagian berkeinginan kuat untuk terikat secara resmi melalui pernikahan yang sah di hadapan agama, negara, dan dalam pandangan masyarakat, walaupun kondisi yang mereka hadapi tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Mereka memilih ini karena di dalamnya ada kemaslahatan yang lebih besar dan kedudukan wanita lebih mulia, karena agama menghendaki suami yang memuliakan istrinya dengan seutama-utama kemuliaan yang mampu ia berikan. Keutamaan ini terutama berkait dengan sikap dan perlakuan. Di sini, ada mujahadah. Ada perjuangan besar yang insya-Allah mulia di hadapan Allah dan mempesona di hati istri. Kelak, insya-Allah kita akan merasakan keindahannya, di dunia maupun di akhirat.

Ada banyak mujahadah (perjuangan) pada masa-masa ini. Perjuangan untuk menyiapkan sekaligus menambah bekal dalam mendampingi suami dan menyusui anak dengan tenang di tengah malam. Perjuangan untuk menegakkan prasangka yang baik (husnuzhan) kepada Allah. Pasti Ia menolong, sebagaimana Ia mempertemukan Zulaikha sebagai istri Yusuf a.s. setelah bertahun-tahun Zulaikha berdoa karena tidak kuat menahan sakitnya merindukan Yusuf yang dicintainya. Perjuangan untuk tetap menjadi muslimah yang memiliki komitmen terhadap agamanya. Dan juga, perjuangan untuk tetap mempertahankan busana muslimah beserta identitas keislamannya ketika dilanda keraguan, sedang pada saat yang sama mereka yang menanggalkan hijab juga mengalami masalah yang sama.

Apakah engkau mengira mereka yang berlepas diri, yang bergandengan tangan dengan pemuda yang ia inginkan, tidak mengalami ketidakpastian? Tidak. Sama sekali tidak. Insya-Allah engkau lebih tenang. Ketika saya sedang mengerjakan buku ini, saya menerima berbagai surat. Salah satunya “mengeluhkan” masalah ini. Seorang cewek mempunyai teman laki-laki. Selama ini keinginannya tak “terlalu jauh”. Akan tetapi suatu ketika, teman laki-laki itu menginginkan hubungan suami­istri. Cewek itu menangis terus. Ia bingung (ada saran?).

Zaman memang telah berubah. Gadis-gadis sekarang semakin lambat dewasa. Padahal mereka mengalami menstruasi (haid) pada usia yang lebih dini dibandingkan dengan wanita-wanita sebelum mereka. Para lelaki juga tidak banyak dipersiapkan oleh keluarganya ataupun mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi dewasa secara penuh ketika mereka telah melewati usia 20 tahun. Padahal, mereka mengalami mimpi indah (ihtilam) pada masa yang lebih awal dibandingkan dengan generasi orangtua mereka. Sementara ihtilam seharusnya –begitu kalau kita menengok fiqih– menjadi pertanda datangnya masa ‘aqil-baligh (akalnya sampai, kedewasaan intelektual). Segera sesudah mengalami ihtilam (mimpi indah), mereka seharusnya sudah siap untuk memikul taklif (pembebanan tanggung-jawab). Salah satunya, membiayai hidupnya sendiri dan anak orang lain (jika sudah menikah) bagi laki-laki, selambat-lambatnya pada usia 18 tahun.

Berbagai informasi yang diberikan melalui media massa, penataran, serta iklim yang tumbuh dalam keluarga, juga banyak yang tidak mendorong mereka untuk siap mencapai kedewasaan dalam arti yang utuh ketika mereka telah mencapai kemasakan seksual (sexual maturation). Akibatnya, kedewasaan sekaligus tanggungjawab mereka terlambat beberapa tahun dibanding kemasakan seksualnya. Apalagi banyak di antara mereka yang tidak mempunyai bekal ilmu, orientasi, dan misi yang kuat sebelum mereka mengalami kemasakan seksual. Keadaan ini, acapkali, menimbulkan reaksi-reaksi impulsif terhadap lawan jenis. Ini menimbulkan beban psikis, meskipun banyak di antara mereka yang tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya.

Media massa juga kerap menyampaikan informasi yang timpang, searah, tidak adil, dan kadang bahkan menyesatkan. Media massa menjadikan informasinya sebagai alat eksploitasi bagi satu kepentingan tertentu (maaf, saya menggunakan kata “tertentu”) terhadap pembacanya yang berada pada masa rawan ini. Alasan psikologis dan medis sering digunakan, meskipun tidak sungguh-sungguh memiliki pijakan ilmiah, sehingga para gadis dan pemuda berada dalam situasi ketakutan ketika akan melangkah ke pernikahan yang tergolong dini tanpa tahu bagaimana mesti menyikapinya. Variabel pengaruh seolah-olah hanya terletak pada faktor usia, padahal usia tidak bisa mengindikasikan tingkat kedewasaan dan tanggungjawab seseorang. Banyak yang sudah hampir jadi sarjana, usia sudah menginjak 25 tahun, tetapi pola pikirnya masih sama dengan pola pikir anak SMA.

Saya sering tidak paham (mungkin karena saya tidak tergolong orang jenius) dengan apa yang berlangsung di sekeliling. Menikah usia muda dikecam dalam berbagai kesempatan (bahkan melalui jalur ilmiah), akan tetapi kondom dijual bebas dengan harga murah. Sementara itu, ekspos sumber-sumber rangsang seksual pun dibiarkan meningkat, terutama melalui TV dan tabloid-tabloid. Kampanye anti pelecehan digelar habis-habisan, namun demikian pada saat yang sama wanita dipakai sebagai alat untuk menarik perhatian di berbagai kesempatan resmi. Ironisnya, kadang-kadang malah dilakukan oleh mereka yang menyerukan sikap anti-pelecehan terhadap wanita.

Melalui engineering of consent (rekayasa persetujuan) diciptakan image (citra) — sekaligus rasa takut– bahwa menikah muda hanya dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki intelektualitas tinggi. Menikah muda adalah tindakan orang yang berpendidikan rendah. Sehingga mereka tidak memiliki kesiapan yang memadai (coba, apa ukurannya sehingga disebut memadai) untuk menjadi istri dan ibu. Sementara itu, pada saat yang sama, sekolah dan perguruan tinggi tidak pernah menyiapkan mereka untuk mengerti dan mencintai tanggungjawab sebagai istri dan ibu. Ironisnya, berlawanan dengan pernyataan sebelumnya, berkembang citra “untuk apa berpendidikan tinggi-tinggi sampai jenjang perguruan tinggi kalau hanya untuk mendidik anak?” Alhasil, mereka menjumpai suami, anak, dan rumahtangganya sebagai “hanya”. “Hanya” bangunan yang disebut rumah. “Hanya”….

Jadi, ada yang perlu kita cermati dengan kecerdasan tinggi. Ada yang perlu kita pikirkan di sini.

Sekarang pinangan telah datang. Jawaban atas pinangan itu sedang dinantikan. Maka pertimbangkanlah matang-matang, dengan melihat berbagai kondisi yang ada di sekeliling, serta kondisi yang ada di dalam keluarga dan diri sendiri. Ayah perlu memikirkan kemaslahatan anak gadisnya, sebelum mengambil keputusan. Engkau pun perlu mempertimbangkan pinangan itu.

bersambung… “Mempertimbangkan Pinangan Bahagian 2”

Advertisements
This entry was posted in Kado Pernikahan, PERNIKAHAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s