Islamic Parenting (0 – 3) Bahagian 4

Memberi Nama Yang Baik untuk Anak
Allah itu indah dan menyukai keindahan. Di antara keindahan ialah memberi nama yang baik bagi anak dan tidak memberinya nama yang mengandung makna buruk. Islam adalah agama yang mudah seperti yang disebutkan dalam firmannya :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu.” (Al-Baqarah:185)

Islam selalu menginginkan kemudahan, bahkan dalam persoalan pemberian nama. Islam tidak menginginkan kesulitan dalam hal memberi nama. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam sabda Rasulullah. Beliau bersabda, “Nama yang paling disenangi Allah adalah Abdullah dan Hammam, sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.”

Ibnu Umar menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sungguh, nama seseorang di antara kalian yang paling disenangi oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.”

Para pendidik hendaklah tahu bahawa ada keterkaitan antara makna nama dan orang yang memiliki nama itu. Nama yang indah akan membawa harapan yang indah pula, dan demikian pula sebaliknya. Seorang penyair berkata :

Mata itu jarang sekali bisa melihat peribadi orang yang memiliki julukan tertentu.

Hanya saja anda akan mengetahuinya bila anda memikirkan makna julukannya.

Dalam Muwaththa’-nya, Imam Malik meriwayatkan hadist dari Malik dari Yahya bin Sa’id, bahwa Rasulullah bertanya kepada siapa yang akan memerah susu kambing. Lalu seorang berdiri, Rasulullah bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” Laki-laki itu menjawab, “Murrah (pahit).” Maka Rasulullah bersabda, “Duduklah.” Kemudian beliau bertanya lagi, “Siapa yang akan memerah kambing ini?” Maka seorang laki-laki berdiri. Lalu Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Siapakah namanu?” Laki-laki itu menjawab, “Aku Harb (peperangan, permusuhan).” Lalu Rasulullah  bersabda kepadanya, “Duduklah.” Kemudian beliau bertanya lagi, “Siapa yang akan memerah kambing ini?” Lalu seorang berdiri. Lalu Rasulullah bertanya, “Siapa namamu?” Laki-laki itu menjawab, “Ya’isy (selalu hidup).” Maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Perahlah (kambing itu)” (HR. Malik dalam kitabnya Al-Muwathatha’ (IV/79), bab Maa Yukhrahu minal Asmaa’. Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali hafidzahullah berkata dalam tahqiq Tuhfatul Mauduud (hal 91); “Hadist ini Shahih lighairihi.)

Perhatikan bagaimana Rasulullah saw mencegah orang yang bernama Murrah dan Harb untuk memerah susu, lalu beliau mempersilakan seorang bernama Ya’isy untuk memerahnya.

Seorang pemuka Tabi’in, Sa’id bin al-Musayyab berkata, “Maka kami selalu dirundung kesedihan.” Hal ini karena kakek beliau yang bernama Hazn (kesedihan) (Tuhfatul Mauduud tahqiiq Salim bin ‘Id al-Hilali, hal 249). Nama lengkap beliau adalah Sa’id bin al-Musayyab bin Hazn bin Abi Wahb bin ‘Amr bin ‘Aid bin ‘Imran bin Makhzum al-Qurasyi al-Makhzumi.

Nama sangat bererti bagi seseorang, karena selain keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan, nama juga mencerminkan cita-cita seorang ayah terhadap anaknya, dan menjadi doa yang setiap hari dilantunkan oleh kedua orang tuanya atau orang-orang yang disekelilingnya, ketika mereka memanggil atau mengingatnya. Maka sudah selayaknya kita memberikan nama yang terbaik untuk anak-anak kita.

Mencukur Rambut Bayi, Dibersihkan, dan Dihilangkan Kotorannya pada Hari Ketujuh
Islam mensyariatkan untuk mencukur rambut anak yang baru dilahirkan pada hari ke tujuh kelahirannya dan bersedekah kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang berhak seberat timbangan rambut anak.

Mencukur rambut mempunyai hikmah:-

  1. Higienis – Dengan mencukur rambut anak akan memperkuat anak, membuka selaput kulit kepala anak dan mempertajam indera penglihatan, penciuman dan pendengaran.
  2. Sosial – Bersedekah seberat timbangan rambut anak kepada fakir miskin berarti membantu mengurangi jumlah angka kemiskinan. Selain itu bersedekah merupakan jaminan social yang merupakan salah satu bukti adanya rasa saling tolong menolong dan saling kasih mengasihi diantara masyarakat.

Hadith yang mendukung anjuran itu antara lain:-

  1. Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Abdullah bin Abu Bakar dari Muhammad bin Ali bin Al-Husain ra. Ia berkata:-  Rasulullah saw telah mengadakan’aqiqah dengan seekor kambing untuk al- Husain. Beliau bersabda:- “Hai Fatimah, cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah dengan perak sesuai berat timbangan rambutnya”. Kemudian Fatimah menimbangnya dan timbangannya itu mencapai satu dirham atau sebagian dirham.”
  2. Yahya bin Bakir telah meriwayatkan dari Anas bin Malik ra:-  Bahwa Rasulullah saw telah memerintahkan untuk mencukur kepala Al-Hasan dan Al-Husain pada hari ke tujuh dari kelahiran mereka. Kemudian mereka dicukur dan beliau menyedekahkan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya itu.

Dalam masyarakat terdapat perbedaan tentang masalah mencukur rambut. Perbedaanya itu adalah tentang masalah menjambul artinya mencukur sebagian rambut anak dan menyisakan sebagian yang lain.

Rasulullah saw telah melarang untuk menjambul (rambut anak).  Menurut Ibnu ‘I-Qayyim semua ini merupakan kecintaan Rasulullah saw yang sempurna tentang keadilan. Beliau melarang mencukur sebagian rambutnya dan membiarkan sebagian yang lainnya sebab hal itu merupakan perbuatan zalim terhadap kepala.

Ada 4 larangan dengan apa yang dimaksud menjambul ini:

  1. Beberapa bagian kepalanya dicukur sedikit demi sedikit (tampak belang)
  2. Bagian tengahnya dicukur dan bagian tepi-tepinya dibiarkan
  3. Bagian tepi-tepinya dicukur dan bagian tengahnya dibiarkan
  4. Bagian depan dicukur dan bagian belakang dibiarkan

Mencukur sebagian rambut dan menyisakan sebagian yang lain bertentangan dengan tabiat dan gaya seorang muslim. Hal itu telah membedakan seorang muslim dengan para pemeluk agama dan keyakinan-keyakinan lainnya dengan orang-orang fasik dan orang-orang yang menyeleweng dari Islam.

Sumber Buku”Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam” Oleh DR. Abdullah Nashih Ulwan

Ketika mencukur rambut bayi sebaiknya tidak mencukurnya seperti pelangi. Al Qaza’ artinya mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lainnya di beberapa bagian tanpa dicukur sehingga mirip pelangi.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang Qaza’. Aku bertanya kepada Nafi’, “Apakah Qaza’ itu?” Nafi’ menjawab, “Mencukur sebagian rambut bayi dan membiarkan sebagian yang lain.”[20]

Bercengkrama dengan Lidah dan Mulut
Rasulullah saw ketika beliau bercanda dengan salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali ra. Abu Hurairah ra menceritakan, “Rasulullah pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali ra. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no hadits 70)

Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah keluar ke pasar Bani Qainuqa’ sambil berpegangan pada tanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengan kedua tangan merangkul lutut. Beliau bertanya, ‘Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan dia agar datang kepadaku.’ Al Hasan pun datang berlari, lalu langsung melompat ke pangkuannya. Rasulullah mencium mulutnya, kemudian berdoa,

‘Ya Allah, aku sungguh mencintainya. Maka cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya (tiga kali)’.” Abu Hurairah berkata, “Setiap kali melihat Al Hasan, aku menangis.”

Memberi Julukan Ayahnya dengan Nama Anak
Abu Syuraih menceritakan bahwa pada awalnya dia bernama Abul Hakam. Kamudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya Allah, Dialah hakim yang memutuskan dan hanya kepada-Nyalah semua keputusan.”

Abu Syuraih berkata: “Sesungguhnya kaumku, apabila berselisih pendapat tentang sesuatu perkara mereka datang kepadaku, maka aku putuskan perkara itu diantara mereka hingga mereka rasa puas.”

Nabi s.a.w bertanya: “Alangkah baiknya sikapmu itu, tetapi berapa anakmu?”

Aku (yakni Abu Syuraih) menjawab: “Syuraih, Muslim, dan ‘Abdullah.”

Nabi s.a.w bertanya : “Siapakah yang paling besar di antara mereka?”

Aku menjawab: “Syuraih!”

Nabi s.a.w bersabda: “Kalau begitu, kamu adalah Abu Syuraih (bapaknya Syuraih)”.

Syuraih berakar dari syarh, ertinya lapang dada. Allah s.w.t telah berfirman kepadanya nabi-Nya:-

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS:Alam Nasyrah (94):1)

Pendek kata tadi, begini, Nabi penah tegur sahabatnya, Abu Syuraih. Dulu Abu Syuraih orang panggil Abul Hakam, sedangkan Allah saja yang layak dengan gelaran Hakam tu.

Jadi disebabkan Abul Hakam pandai menyelesaikan masalah kaum dia sampai dia diberi nama jolokan Abul Hakam.

Jadi, nabi tanya apa nama anak-anaknya dia. Abu Syuraih pun beritahu, nama anaknya Syuraih, Muslim dan Abdullah. Nabi tanya lagi, siapa yang paling besar dikalangan 3 orang anak itu.

Jawabnya, Syuraih. Jadi, Nabi pun gelar sahabat tadi dengan gelaran Abu Syuraih.

Wallahu’alam

Advertisements
This entry was posted in Islamic Parenting, TARBIYATUL AULAD. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s