Bahan Halaqah Keluarga – “Makna Terkandung Dalam Syahadatain”

Makna Terkandung Dalam Syahadatain
Syahadat dalam bahasa Arab memiliki lebih dari satu makna, tergantung konteks kalimatnha. Beberapa makna yang dapat kita temukan dalam kamus bahasa Arab di antaranya adalah:-

Syahida
: melihat, hadir, mengetahui
Syahida lahi bi… : ikrar, menyatakan, mengakui
Syahida bi… : berjanji, bersumpah
Syahidallahu: Allah mengetahui

Janji dan sumpah hanya akan dilakukan ketika orang benar-benar mengetahui dan yakin dengan apa yang ia nyatakan. Kerananya, ia pasti akan mempertahankan dan memperjuangkan ikrarnya secara sungguh-sungguh. Pernyataan iman berupa syahadatain yang benar adalah persaksian iman yang didasarkan atas ma’rifah (mengetahui), ilmu pengetahuan, berdasar dalil, bukti dan argumentasi:-

“Kerana itu ilmuilah (ketahuilah) bahawa tidak ada Tuhan selain Allah”

Dapat dikatakan bahawa setelah melalui proses pencerahan dengan memperhatikan dan mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di dalam alam semesta mahupun ayat suci di dalam Kitab-Nya, manusia akan dapat mengambil kesimpulan bahawa Allah itu ada dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

Setelah itu, dengan kesedaran yang mendalam ia menyatakan kekaguman, pengagungan, ikrar, dan sumpahnya dengan mengucap “asyhadu anlaa illaha illallah”. Ia tolak tuhan lain apa pun bentuk dan wujudnya, hanya Allah sahaja yang ia akui sebagai ilah (tuhan). Ia tidak bermain-main saat mengucapkan persaksiannya itu. Ia mengucapkannya dengan penuh kesedaran bahkan kesediaan untuk menjalani segala risiko. Itulah yang disebut iman.

Hadith menyebutkan bahawa iman itu merupakan keyakinan dalam hati yang diucapkan secara lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Iman harus terdiri atas ketiga hal tersebut. Kalau pembenaran (pengakuan) dengan hati sahaja dan tidak dinyatakan dengan kata-kata ini di sebut kekafiran. Orang-orang kafir pada ketika itu, bukan tidak mengetahui kebesaran Allah swt, bahkan mereka sangat memahaminya. Kerana keengganannya menyatakan pengakuan hatinya itulah mereka di sebut kafir (orang yang menutupi keyakinan hatinya dengan pengingkaran melalui ucapan dan perbuatan). Demikian juga, keimanan tidak benar kalau hanya terdiri atas ucapan dan amal nyata tanpa keyakinan hati, kerana ketaatan lahiriah yang tidak sama dengan keyakinan hati bererti kemunafikan.

Keimanan yang terdiri atas tiga hal itulah keimanan yang dapat menjamin konsistensi. Apa pun yang terjadi tidak akan menggoyahkannya bahkan ketika harus menghadapi cubaan yang terberat sekalipun.

Abu Umar Sufyan bin Abdullah bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku sesuatu dalam Islam yang dengan itu aku tidak perlu bertanya lagi kepada orang lain!”. Rasulullah saw menjawab, “Katakanlah! Aku telah beriman kemudian istiqamahlah” (HR Muslim)

Konsistensi (istiqamah) dalam iman dan ketaatan adalah anugerah Allah swt yang sangat mahal harganya kerana ia akan memunculkan keberanian, ketenangan, dan optimisma sehingga seseorang itu bebas dari rasa takut, keresahan, dan kecemasan dalam menjalani kehidupan.

Itulah kebahagiaan yang sebenarnya.

Wallahu’alam

(Rujukan Syarah Rasmul Bayan, PKS)

Advertisements
This entry was posted in Bahan Halaqah Keluarga, HALAQAH KELUARGA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s