Tegar Dalam Menghadapi Ujian

Mungkin akan ada yang bertanya, ”Saya adalah seorang yang baru sahaja serius dalam berIslam. Saya takut saya tidak mampu untuk tegar dalam menghadapi berbagai ujian, atau tidak sabar menghadapinya”

Untuknya saya katakan. Nabi saw bersabda:

”Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar nescaya Allah akan menjadikannya sabar.” Juga, ”Barangsiapa berusaha untuk selalu mengerjakan kebaikan nescaya Dia akan memberikannya, dan barangsiapa menjaga diri dari keburukan nescaya Dia akan menjaganya” [1]

Oleh kerana itu, siapa saja yang mengusahakan faktor-faktor kesabaran, nescaya Allah swt akan merezekikan sabar kepadanya. Dan barangsiapa mengusahakan faktor-faktor  wahn, gelisah, dan kehinaan, nescaya Dia akan tertimpa sesuatu yang faktor-faktornya telah diusahakannya.

“Dan tidaklah Allah berbuat zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berbuat zalim (kepada Allah)” [An-Nahl: 33]

Untuk itu wahai saudaraku seIslam, berusahalah untuk bersabar. Sabarkanlah diri Anda untuk masa tertentu, nescaya Allah swt akan mendapati diri Anda dalam keadaan sabar setelahnya. Bahkan boleh jadi telah menjadi peribadi yang redha, insyaAllah.

Salah seorang salaf berkata. “Aku giring diriku kepada Allah dalam keadaan menangis. Aku terus menggiringnya sampai ia kembali kepadaku dalam keadaan tertawa”.

Adapun jika hal-hal yang melelahkan Anda semakin menghebat, ujian semakin bertambah, musibah semakin dahsyat, dan nafsu ammarah bis suu’ (nafsu yang mengajak kepada keburukan) berbisik supaya Anda cenderung kepada dunia – meski sesaat – atau Anda dapati nafsu ammarah bis suu’ itu menyesatkan diri Anda, maka berusahalah terus untuk membinanya sampai ia benar-benar tunduk kepada Anda, menyerahkan semua urusannya kepada Anda, dan menjawab seruan dari Allah dalam keadaan redha setelah sebelumnya ia membencinya.

Jika Anda mulai menginginkan dunia katakana kepada diri Anda sendiri, “Wahai diri, sungguh kamu telah menghabiskan separuh lebih dari perjalananmu menuju Allah, sisanya hanyalah tinggal sedikit sahaja, kerananya, bersabarlah di atasnya. Wahai diri, janganlah kamu sia-siakan amal soleh yang telah kau kerjakan, juga bangunmu di waktu malam dan siang, juga kelelahanmu selama bertahun-tahun di jalan Allah dalam masa yang hanya sebentar ini. Hanya saja kesabaran ini tidak akan lama, bersabarlah. Sesungguhnya kedudukan ujian itu seperti tamu, ia pasti akan segera berlalu. Nikmat sekali memujinya di ruangan perjamuan di hadapan tuan rumah. Wahai kaki-kaki penampung kesabaran teruslah bergerak. Sungguh, tiada yang tersisa kecuali sedikit sahaja”.

Terhadap nafsunya seorang aktifis mestinya melakukan hal yang dilakukan oleh Bisyr al-Hafiy bersama salah seorang muridnya yang turut serta dalam salah satu perjalanannya. Saat itu si murid dilanda dahaga dalam perjalanannya. Ia minta kepada Bisyr, “Mari kita minum air telaga itu!”  Bisyr menjawab, “Bersabarlah, sampai kita bertemu dengan telaga yang lain”.  Lalu ketika keduanya telah sampai ke telaga berikutnya, Bisyr berkata lagi, “Sampai telaga berikutnya”. Begitulah, Bisyr terus mengatakan untuk bersabar sampai telaga berikutnya dan akhirnya ia katakan, “Demikianlah dunia itu akhirnya akan terhenti” [2]

Ibnu al-Jauzy berkata, “Inilah fajar pahala mulai menjelang malam, cubaan mulai menghilang sang pejalan disambut dengan pujian, hampir menuntaskan gelitanya malam,  matahari pahala tiada sedikitpun menghadirkan baying-bayang hingga sang pejalan telah sampai ke rumah keselamatan” [3]

Ada satu ungkapan dari Imam Ahmad yang sungguh sangat membuat saya terkagum-kagum. Ungkapan pendek yang memerlukan tadabbur dan tafakkur yang panjang. Berulang-ulang beliau katakan, “Hanya saja itu adalah makan yang bukan makanan, minuman yang bukan minuman. Hanya saja itu adalah hari-hari yang sedikit”.

Lalu, bersama nafsunya seorang aktifis harus merenung sejenak, dan berbicara kepadanya, “Tidakkah kau lihat, ahli dunia itu ditimpa musibah dan cubaan berlipat-lipat daripada musibah yang menimpamu. Padahal mereka tidak mendapatkan pahala untuk itu dan tidak pula diberi rezeki oleh Allah swt berupa kesabaran. Dikala tertimpa musibah, kebanyakan mereka berada dalam kesempitan, kesusahan, kegelisahan, kegundahan, dan bahkan menjadi gila kerana musibah itu. Pernahkan kau dengar ada sebuah kereta dinaiki satu keluarga lengkap yang tenggelam dan semua yang ada di dalamnya meninggal dunia? Bandingkan musibah yang menimpamu dengan musibah yang menimpa mereka! Sesungguhnya puncak musibah yang menimpamu adalah kamu dibunuh oleh musuh-musuhmu. Dan itu bukan musibah! Bukan! Itu adalah kemuliaan bagimu, dan bahkan itulah kehidupan yang paling berharga, paling mahal. Sesudah itu kamu tiada lagi merasakan derita atau pun luka. Ya,sebutir atau beberapa butir peluru yang menembus jasadmu dan tiada rasa bagimu melainkan sakit dicubit, seperti dikatakan oleh Rasulullah saw [4]

Kemudian bertanyalah kepada nafsu, “Apa lagi yang boleh dilakukan musuhmu kepadamu? Memenjarakanmu sebulan, dua bulan, setahun, bertahun-tahun, atau bahkan seumur hidupmu?”. Sungguh adalah menjadi kemuliaan bagimu dengan dapat menghabiskan umurmu di jalan Allah swt. Adalah menjadi suatu kemuliaan bagimu dengan mengikuti jejak Yusuf a.s yang dipenjarakan selama beberapa tahun!”

Katakan juga kepada nafsu ammarah bis suu’ yang ada padamu, “Wahai nafsu, tidakkah kau lihat ribuan orang menjadi penghuni hotel-hotel kerana bermaksiat kepada Allah? Cukuplah menjadi suatu kemuliaan bagimu bahawa kamu ditimpa ujian kerana ketaatanmu kepada Allah ‘azza wa jalla. Ada di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati kerana memenuhi syahwat sesaat, memperkosa seorang gadis. Ada juga yang dipenjara seumur hidup kerana memenuhi seruan syaitan, terperosok dalam dunia dadah. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Lalu fikirkan juga tentang ribuan pencinta dunia dan orang-orang kafir yang ditimpa musibah berupa kecacatan kekal atau buta. Mereka semua jauh lebih menderita dibandingkan dengan dirimu. Musibah yang menimpa mereka beratus kali ganda jika dibandingkan dengan yang menimpa dirimu. Belum lagi jika beberapa bulan atau tahun ini jesteru menjadi sebab dari keberhasilanmu mencapai imamah fiddien (kepimpinan dalam agama), menggapai ma’rifatullah dan perintah-Nya, serta sampainya dirimu ke darjat ‘abidin (ahli ibadah), zahidin (orang-orang yang zuhud), dan khasyi’in (orang-orang yang khusyu’). Berapa banyak ikhwah yang baru merasakan hakikat bangun malam di kala suasana benar-benar berat”.

Berapa banyak mereka yang baru memahami dan mengerti maksud dari ayat-ayat tertentu dan kedalaman hikmah yang ada di dalamnya pada suasana yang berat pula, disamping dapat menghafal dan mengkaji tafsirnya. Semuanya masih ditambah dengan pencapaian terhadap satu darjat ilmiah yang tidak dapat dipelajari dari buku-buku dan literature yang ada serta pemahaman terhadap makna-makna yang rasa manisnya tiada pernah dapat dikecap meskipun teks-teksnya dibaca, dikaji, atau pun dihafal. Itu seperti makna tawakkal, inabah (kembali kepada Allah), khasyyah (takut), taubat, yaqin, dan redha. Semoga Allah senantiasa merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang berkata, “Aku, syurga dan tamanku ada di dalam dadaku, ke mana pun aku pergi ia selalu bersamaku, tidak meninggalkanku. Jika aku dipenjara, bagiku itu adalah khalwah (menyendiri). Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syahadah (mati syahid). Dan jika aku diusir dari negeriku, bagiku itu adalah siyahah (perjalanan)”. [5]

Hendaknya seorang aktifis mengucapkan perkataan Ibnul Jauziy yang mengadu kepada Rabbnya, “Betapa beruntungnya diriku atas apa yang direnggut dariku, ketika buahnya adalah aku bersimpuh di hadapan-Mu. Betapa lapangnya penawananku kala buahnya adalah aku berkhalwah dengan-Mu. Betapa kayanya diriku ketika aku faqir kepada-Mu. Betapa lembutnya diriku kala Engkau jadikan ciptaan-Mu berlaku zalim kepadaku. Ah…sia-sialah masa yang hilang bukan dalam rangka berkhidmah kepada-Mu. Kala aku bangun menjelang fajar, tidurku sepanjang malam tidak lagi menyiksa diriku. Kala siang beranjak lepas, hilangnya seluruh hari itu tidak lagi melukaiku. Aku tidak tahun bahawa diriku yang mati rasa ini dikeranakan sakit yang dahsyat”.

Kini, hembusan angin kesejahteraan telah bertiup, aku telah dapat merasakan derita, dan aku tahu diriku kini sihat. Wahai Dzat yang Maha Agung anugerahnya , sempurnakanlah  kesejahteraan bagi diriku”.

As-Syahid Dr. Abdullah Azam


[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhary 3/335, Muslim 7/144, Abu Dawud 1644, at-Tirmidziy 2024, an-Nasa’iy 5/96, Imam Ahmad 3/12, 93, Malik dalam Muwatha’ 1945, ad-Darimiy 1653, dan al-Baihaqiy dalam as-Sunan al-Kubra 4/195, kesemuanya dari Abu Sa’id al-Khudriy.

[2] Shaidul Khathir, Ibnu al-Jauziy hal. 107. terbitan Darul Fikr, Damaskus

[3] Shaidul Khathir hal. 87

[4] Adalah hadith riwayat at-Tirmidziy 1668, an-Nasa’iy 60/36, Ibnu Majah 2802, Imam Ahmad 2/297, dan ad-Darimiy 2413 dari hadith Abu Hurairah. Terjemahanya sebagai berikut, “Seorang yang syahid itu tidak merasakan sentuhan kematian selain seperti seseorang dari kalian yang merasakan sentuhan cubitan.” (lafaz hadith riwayat at-Tirmidziy)

[5] al-Wabilush Shayyib, Ibnul Qayyim hal.5 terbitan Ri’asah Idaratul Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’

Advertisements
This entry was posted in MUTIARA DA'WAH, Nasihat Pengemban Da'wah. Bookmark the permalink.

One Response to Tegar Dalam Menghadapi Ujian

  1. Yunus Achmadi says:

    Luar biasa, terima kasih uraiannya:) Membuat saya semakin yakin akan kebesaran Allah:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s